Riza Rahman Hakim, Dosen Jurusan Perikanan Fakultas\r\nPertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (FPP UMM), Jawa Timur.Meski saat ini Anda banyak di rumah, ternyata tetap bisa\r\nbudidaya i...
Riza Rahman Hakim, Dosen Jurusan Perikanan Fakultas\r\nPertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (FPP UMM), Jawa Timur.
Meski saat ini Anda banyak di rumah, ternyata tetap bisa\r\nbudidaya ikan dan sayuran. Di area yang sempit sekalipun.
Cobalah tips yang diberikan oleh Riza Rahman Hakim, Dosen\r\nJurusan Perikanan Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang\r\n(FPP UMM), Jawa Timur. Dia mengkreasi gerakan kemandirian pangan yang\r\ndisebut One House One Pond (Satu Rumah Satu Kolam).
“Ini adalah konsep kemandirian pangan dengan satu kolam ikan\r\nproduktif dan higienis dalam satu lingkungan keluarga. Cocok sebagai solusi\r\npangan mandiri di tengah pandemi dan work from home (WFH),” ujarnya.
Lulusan Universitas Kasetsart Thailand ini mengkombinasikan\r\nantara aquaculture (budidaya ikan) dan hydroponic (budidaya\r\nsayuran tanpa tanah). Disingkat Aquaponic.
Dengan teknik ini, maka di area yang sempit pun bisa,\r\nsemisal di teras rumah. Aquaponic hemat air, karena menggunakan\r\nresirkulasi. Juga hemat lahan, karena cukup dengan ember Anda bisa menghasilkan\r\ndua produk sekaligus dalam sekali produksi. Contohnya ikan lele dan sayur\r\nkangkung, selada, atau sawi.
Alat dan bahan antara lain ember, mesin pompa air, pipa, bak\r\notak hidroponik, netpot dan sumbu flanel, rockwool, benih lele, dan\r\nbibit tanaman. Benda-benda ini biasanya ada di toko pertanian dan perikanan.
Caranya, isi ember dengan air bersih. Tambahkan garam\r\ngrasak, kapur dolomit, molase, dan probiotik. Masukkan benih lele ukuran 5-9\r\ncm. Puasakan satu hari, baru dikasih makan pada hari kedua. Nyalakan pompa\r\nuntuk sirkulasi air.
Kemudian tanaman disemai pada rockwool di nampan,\r\nbasahi dengan air. Masukkan bibit. Jika tanaman sudah keluar 3-4 daun,\r\npindahkan ke netpot. Jika sudah semai, letakkan di tempat yang terkena sinar\r\nmatahari.
Pakan ikan diberikan tiap hari pagi dan sore. Lakukan\r\npenggantian air 50% setiap dua pekan sekali. Jika dijumpai ikan berdiri\r\nmenggantung, maka segera lakukan penggantian air 40% dan ikan dipuasakan satu\r\nhari.
“Hal-hal lebih teknis lainnya bisa saya jelaskan kepada\r\nsiapa saja yang memerlukan,” kata Manajer Edu Park, FPP UMM ini.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Jika proses di atas berjalan dengan baik, ikan lele bisa\r\ndipanen dalam tempo 3 bulan. Kangkung bisa dipanen setelah 2-3 minggu, dan\r\nsetelah itu bisa dipanen 2 minggu berikutnya. Sedangkan selada atau sawi bisa\r\npanen setelah 4 minggu.
Sumber: Hidayatullah.com

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
