Minapoli
Tingkatkan Ekonomi Pesisir, Roadmap Industri Rumput Laut Dirancang
Rumput Laut

Tingkatkan Ekonomi Pesisir, Roadmap Industri Rumput Laut Dirancang

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
2 menit baca

JAKARTA - Pengembangan industri rumput laut terus\r\ndigenjot agar menjadi andal serta berdaya saing dan berkelanjutan. Pasalnya,\r\nindustri ini diyakini dapat menjadi penghela tumbuhnya ekonomi masy...

JAKARTA - Pengembangan industri rumput laut terus\r\ndigenjot agar menjadi andal serta berdaya saing dan berkelanjutan. Pasalnya,\r\nindustri ini diyakini dapat menjadi penghela tumbuhnya ekonomi masyarakat\r\npesisir, wilayah perbatasan dan daerah tertinggal.

\r\nUntuk itu, Pemerintah telah merancang Peta Panduan (Roadmap) Pengembangan\r\nIndustri Rumput Laut Nasional Tahun 2018-2021. Roadmap ini telah ditetapkan\r\ndalam Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2019.

\r\n“Rumput laut menjadi salah satu perhatian dan prioritas kita terutama untuk\r\nmengembangkan wilayah pesisir. Jadi kita butuh panduan untuk seluruh pemangku\r\nkepentingan terkait,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian\r\nKementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian, Musdhalifah Machmud di\r\nJakarta, Rabu (10/7/2019).

\r\nDengan luas wilayah laut yang hampir dua pertiga dari wilayah keseluruhan,\r\nIndonesia perlu memfokuskan pengelolaan potensi perairannya untuk mendukung\r\nketahanan pangan nasional dan kontribusi terhadap pasar dunia.

\r\nRumput laut sebagai salah satu komoditas strategis perikanan memiliki 782 jenis\r\nyang tumbuh di perairan laut Indonesia. Bahkan di beberapa daerah, ada 38 jenis\r\nalga yang sudah biasa dimanfaatkan sebagai bahan pangan segar dan olahan, obat\r\ntradisional, serta kosmetik tradisional seperti bedak dan lotion penyegar.

\r\nSelain itu, ada 5 (lima) kelompok jenis rumput laut komersial (Saccharina\r\nJaponica, Undaria, Porphyra, Eucheuma, dan Gracilaria) yang menyumbang sekitar\r\n98% dari produksi budidaya rumput laut dunia. Dari 5 kelompok jenis tersebut,\r\njenis Eucheuma dan Gracilaria hidup di perairan tropis dan telah dikembangkan\r\nmelalui budidaya komersial di Indonesia.

\r\nPengembangan industri rumput laut juga menghasilkan sekitar 500 jenis produk\r\nturunan yang dapat dikelompokan menjadi Pangan, Pakan, Pupuk, Produk Farmasi,\r\ndan Produk Kosmetik (5P). “Ini tentu akan meningkatkan nilai tambah yang\r\nditerima oleh pelaku usaha rumput laut baik industri maupun masyarakat,” terang\r\nMusdhalifah.

\r\nData menyebutkan sekitar 32% dari total penduduk miskin Indonesia berada di\r\npesisir. Maka, budidaya rumput laut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan\r\nmasyarakat dan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi di wilayah pesisir,\r\npulau-pulau kecil, pinggiran, dan perbatasan.

\r\nApalagi, budidaya rumput laut tergolong usaha potensial yang sebagian besar\r\ndilakukan oleh masyarakat karena teknologinya sederhana, masa produksi relatif\r\nsingkat (45 hari), dan memiliki pangsa pasar cukup besar.

\r\nMusdhalifah berharap, roadmap ini bisa menjadi pedoman bagi\r\nkementerian/lembaga, pemerintah daerah, asosiasi, serta akademisi dalam\r\nmengembangkan industri rumput laut nasional. “Saya berharap kita semua bisa\r\nbersinergi dalam mengembangkan industri rumput laut nasional melalui rencana\r\naksi yang telah disusun. Kita sudah punya target, tinggal komitmen dan\r\nkonsistensi kita untuk tidak menjadikan roadmap ini sekedar dokumen,”\r\npungkasnya.


Sumber : Sindo News

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan