Minapoli
Teknologi RAS Berhasil Tingkatkan Produksi Benih Gurame
Gurame

Teknologi RAS Berhasil Tingkatkan Produksi Benih Gurame

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
5 menit baca

Jakarta – Jika\r\ndikomparasi dengan sistem konvensional, pendederan ikan gurame dengan teknologi\r\nRecirculation Aquaculture System\r\n(RAS) dapat meningkatkan padat tebar hingga 28 – 30 ekor per li...

Jakarta – Jika\r\ndikomparasi dengan sistem konvensional, pendederan ikan gurame dengan teknologi\r\nRecirculation Aquaculture System\r\n(RAS) dapat meningkatkan padat tebar hingga 28 – 30 ekor per liter, sedangkan\r\nsistem konvensional padat tebar hanya 0,2 ekor per liter. Masa pemeliharaan benih juga relatif lebih\r\npendek yaitu 30 hari telah mencapai ukuran 2 – 4 cm, dengan tingkat kelulusan\r\nhidup mencapai 95% dan tingkat keseragaman ukuran hingga 90%. Dalam sistem konvensional, waktu pemeliharaan\r\nmencapai 50 hari, kelulusan hidup hanya 60% dan keseragaman ukuran 80%.\r\nProduktivitas produksi dengan teknologi RAS naik hingga 140 kali lipat dibanding\r\nkonvensional.

Saat dimintai tanggapannya mengenai hal\r\ntersebut, Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya di Jakarta\r\n(17/5) menjelaskan bahwa teknologi RAS merupakan teknologi yang tepat dalam\r\nmeningkatkan produktivitas pembenihan ikan dengan mengefisiensikan penggunaan\r\nair dan lahan, disamping itu menciptakan usaha yang minim dampak negatif\r\nterhadap ekologi.


Baca juga: KKP Gunakan Teknologi RAS untuk Siapkan Industri Benih Ikan Nasional




“Teknologi RAS ini merupakan teknologi\r\npembenihan ikan intensif yang dapat diterapkan untuk berbagai jenis komoditas\r\nbaik tawar, payau maupun laut, sehingga nantinya dapat menjadi solusi mengatasi\r\npermasalahan kebutuhan benih ikan di seluruh Indonesia”, ujar Slamet.

Lanjut Slamet, keunggulan RAS dibandingkan\r\nsistem konvensional diantaranya yaitu aman dari pencemaran yang terjadi di luar\r\nlingkungan perairan sehingga sanitasi dan higienitasnya lebih terjaga serta\r\nramah lingkungan. Selain itu, juga mudah dalam pemeliharaan dan stabilitas\r\nkualitas air lebih terjaga serta penggunaan air lebih hemat.

“RAS harus terus dikembangkan untuk berbagai\r\nkomoditas budidaya karena dapat mengendalikan hama dan penyakit, meningkatkan\r\nefisiensi pemanfaatan pakan serta meningkatkan produktivitas sistem budidaya,\r\nsehingga pendapatan juga akan meningkat tajam”, tambah Slamet.


Baca juga: Jadermawan Sinaga: Nila RAS ala Ibu Rumahan

Salah satu keberhasilan implementasi teknologi\r\nRAS yaitu pada pembenihan ikan Gurame yang dilakukan oleh Tim Balai Perikanan\r\nBudidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu KKP untuk mencukupi kebutuhan benih gurame di\r\nProvinsi Sulawesi Utara.

Kepala BPBAT Tatelu, Fernando J. Simanjuntak\r\nmenyebutkan bahwa penerapan RAS ini memang ditujukan untuk meningkatkan padat\r\ntebar benih, kelangsungan hidup, keseragaman serta laju pertumbuhan sehingga\r\nterjadi peningkatan produktivitas.

Saat dimintai keterangan lebih teknis, Fernando\r\nmenjelaskan komponen RAS yang digunakan terdiri dari wadah pemeliharaan, tabung\r\nfilter, lampu UV, reservoir dan heater (pengatur suhu) serta pompa air.




Filter akan berfungsi sebagai unit pembersihan\r\ndan perbaikan kualitas air, kemudian tempat berkembangnya bakteri pengurai amonik\r\nsisa pakan dan feses atau sisa metabolisme lainnya.

“Tabung filter dan UV terbagi atas 2 (dua) aitu\r\n2 (dua) filter kimia yaitu 75% zeolit dan 25% arang aktif dan 1 (satu) filter\r\nbiologi yaitu dengan penggunaan bioball”, ungkapnya.

Wadah pemeliharaan benih dapat disesuaikan\r\ndengan kebutuhan dan telah terintergrasi dengan sistem resirkulasi. Sedangkan\r\nreservoir, heater dan pompa air berada diluar wadah pemeliharaan ikan.

Secara ekonomi usaha pendederan ikan gurame\r\ndengan teknologi RAS sangat menguntungkan. Dengan biaya investasi untuk wadah\r\npemeliharaan berupa container plastik ukuran 47 cm x 65 cm x 40 cm sebanyak 18\r\nbuah, kemudian pembelian rak besi, bak reservoir, tabung filter, media filter\r\n(zeolit dan arang aktif), pompa, lampu UV dan heater membutuhkan biaya sebesar\r\nRp. 33,6 juta, dengan biaya penyusutan per siklus (2 bulan) sebesar Rp. 1,2\r\njuta.


Baca juga: Teknologi Ini Percepat Produksi Benih Ikan Berkelanjutan

Sedangkan untuk operasional sebesar Rp. 14 juta\r\nper siklus untuk pembelian telur gurame, cacing sutera, obat-obatan dan biaya\r\nlistrik.

Telur gurame yang ditebar sebanyak 30.000 telur\r\nmenghasilkan produksi benih gurame ukuran 2 – 4 cm sebanyak 25.500 ekor per\r\nsiklus. Jika harga per ekornya adalah\r\nRp. 2 ribu, maka penghasilan setiap kali siklus adalah Rp. 51 juta.

“Keuntungan per siklus sebesar Rp. 34,5 juta\r\nselama 2 bulan, sedangkan keuntungan setahun mencapai Rp. 207 juta, ini sangat\r\nmenguntungkan secara ekonomi karena pay back periode (waktu pengembalian modal)\r\nhanya ± 0,7 tahun”, sebut Fernando.

Pendapatan pembenihan gurame dengan teknologi\r\nRAS mampu mencapai Rp. 49.000,- per liter air dalam wadah budidaya sedangkan\r\nkonvensional hanya Rp. 317,- atau meningkat rata-rata sebesar 155 kali lipat.\r\nHal ini dimungkinkan karena padat tebar dengan teknologi RAS jauh lebih tinggi.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Kondisi ini menunjukkan bahwa pemanfaatan\r\nteknologi RAS pada pembenihan ikan terbukti jauh lebih efisien dalam penggunaan\r\nair dan lahan dibandingkan sistem konvensional.




Tentang Minapoli

Minapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. 

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan