Minapoli
Teknologi Jaring UHMWPE Sekuat Baja
Mas

Teknologi Jaring UHMWPE Sekuat Baja

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
4 menit baca

Budidaya ikan atau akuakultur\r\nadalah industri yang berkembang dengan cepat di Indonesia. Hingga tahun 2016,\r\ntercatat oleh FAO bahwa Indonesia telah mampu memproduksi 5 juta ton ikan\r\n(tidak te...

Budidaya ikan atau akuakultur\r\nadalah industri yang berkembang dengan cepat di Indonesia. Hingga tahun 2016,\r\ntercatat oleh FAO bahwa Indonesia telah mampu memproduksi 5 juta ton ikan\r\n(tidak termasuk rumput laut) yang mencakup berbagai macam spesies ikan air\r\nlaut, tawar, maupun payau.

Budidaya ikan di dalam keramba\r\njaring apung (KJA) HDPE adalah salah satu cara yang paling konsisten untuk\r\nmemproduksi ikan dalam jumlah besar. KJA HDPE yang tahan ombak dan ramah\r\nlingkungan adalah kunci dari praktek budidaya ikan yang berkelanjutan dan\r\nmenguntungkan. Hanya saja, aspek yang tidak kalah pentingnya dari menggunakan\r\nKJA HDPE adalah penggunaan jaring yang tepat pada keramba.

General Manager PT Gani Arta\r\nDwitunggal, Andi Jayaprawira mengatakan, budidaya ikan tidak bisa\r\nmenggunakan jaring atau net yang sama dengan jaring tangkap. Jaring tangkap,\r\nmemiliki tonjolan-tonjolan simpul (knotted) yang besar dan sangat\r\nkasar sehingga beresiko tinggi menimbulkan luka pada ikan.

Luka ini dapat menimbulkan cacat\r\nberupa baretan pada sisik ikan, dan dapat menimbulkan infeksi yang dapat\r\nmeningkatkan mortality rate, sehingga penggunaan jaring bersimpul sangat\r\ntidak disarankan.


Beli jaring knotless disini!


Oleh karenanya, kata Andi,\r\npembudidaya ikan sangat disarankan menggunakan jaring tanpa simpul (knotless) yang\r\nberpermukaan halus. Jaring tanpa simpul tidak menimbulkan luka pada sisik ikan\r\nsehingga dapat menekan mortality rate, juga meningkatkan nilai jual ikan\r\ndikarenakan ikan memiliki sisik yang sempurna.

Di pasaran, jaring tanpa simpul\r\ntersedia dalam bermacam-macam bahan, mulai dari HDPE, metal, hingga UHMWPE.\r\nKategori pertama, yaitu jaring HDPE tanpa simpul memiliki konstruksi yang\r\nringan dan fleksibel, sehingga mudah untuk dioperasikan, dengan harga yang\r\nterjangkau.

Jaring ini tersedia secara luas\r\ndi pasaran dan telah diproduksi di dalam negeri oleh perusahaan penyedia alat\r\nsarana dan prasaranan perikanan budidaya dalam negeri PT. Gani Arta Dwitunggal\r\ndengan merk Aquatec. Kategori kedua, yaitu jaring metal, memiliki kontsruksi\r\nyang berat dan kaku, namun umumnya dipakai dengan tujuan untuk menghalau\r\npredator.

Kategori ketiga, yaitu jaring\r\nUHMWPE tanpa simpul, merupakan inovasi jaring budidaya ikan baru yang mulai\r\npopuler. Namun, apa itu UHMWPE? UHMWPE adalah singkatan dari Ultra High\r\nMolecular Weight Polyethylene, yaitu material yang memiliki kekuatan\r\ntarikan (tensile strength) lebih kuat daripada baja, akan tetapi\r\nringan dan fleksibel. Oleh karena kekuatannya, bahan UHMWPE telah dipakai dalam\r\nbeberapa industri berat menggantikan rantai baja dan seling baja.

Jaring UHMWPE tanpa simpul adalah\r\njaring budidaya yang dibuat menggunakan material tersebut, sehingga tiap pilar\r\njaring memiliki kekuatan setara dengan kawat baja berukuran sama. Oleh karena\r\ntiap pilar memiliki kekuatan setara kawat baja, maka satu bentang jaring UHMWPE\r\ntanpa simpul sangatlah kuat dan mampu benahan beban hingga beberapa ton.

Bebas Predator

Selain dari kekuatan tarikan,\r\nAndi memaparkan, bahan UHMWPE juga sangat sulit untuk dipotong dan tahan\r\nkorosi. Jaring UHMWPE tanpa simpul dipakai untuk melindungi ikan dari predator\r\ndi laut maupun air tawar dan terbukti mampu menghadapi serangan berbagai\r\npredator seperti ikan barracuda, ikan buntal, ikan bawal, kepiting, penyu, dan\r\nberbagai predator lainnya hingga hiu berukuran tertentu. Dengan demikian, ikan\r\nbudidaya aman hingga masa panen sekalipun KJA dipasang di area yang memiliki populasi\r\npredator tinggi.

Indonesia sebagai negara maritim\r\nmemang memiliki populasi predator laut yang tinggi, yang apabila tidak\r\ndiantisipasi dapat mengganggu usaha budidaya ikan di laut (marikultur).\r\nPadahal, potensi ekonomi budidaya ikan laut sangat tinggi dikarenakan nilai\r\nkomoditasnya lebih tinggi dari nilai komoditas ikan air tawar, sehingga jaring\r\nbudidaya anti predator ini sangat dibutuhkan.

Mengenai ketahanan dalam\r\nmenghadapi predator, jaring budidaya UHMWPE dapat dibandingkan dengan jaring\r\ndari bahan metal. Dari segi harga, jaring budidaya UHMWPE memiliki harga jauh\r\nlebih ekonomis dari jaring berbahan metal, sehingga merupakan pilihan yang\r\nlebih baik dan terjangkau untuk pembudidaya ikan.

Selain itu, tidak seperti jaring\r\nmetal, jaring budidaya UHMWPE yang ringan dan tidak kaku membuatnya mudah\r\ndipasang di lapangan dan mudah untuk diangkat ke permukaan pada saat\r\npembersihan jaring dan panen.


Baca juga: Net Gains in Aquaculture Net Technology


“Jaring budidaya UHMWPE tanpa\r\nsimpul PT Gani Arta Dwitunggal sudah digunakan oleh beberapa perusahaan di Bali\r\nuntuk memelihara ikan kakap putih dan menghalau predator berupa ikan barracuda\r\ndan hiu,” ujar Andi.

Andi menuturkan, sepanjang masa\r\npemakaian, tidak ada satupun jaring yang mengalami robek bahkan setelah digigit\r\noleh hiu berukuran sedang. Permukaan tanpa simpul yang halus menghasilkan ikan\r\nkakap putih dengan sisik yang sempurna, dan tercatat memiliki mortality\r\nrate rendah dan survival rate yang tinggi. Ikan kakap putih\r\ntersebut kemudian diekspor ke Australia dan Amerika Serikat.

Jaring budidaya UHMWPE tanpa\r\nsimpul umumnya memiliki harga 2-2,5 kali dari harga jaring budidaya HDPE tanpa\r\nsimpul, dengan umur pakai mencapai 10 tahun di laut dan mencapai 15 tahun di\r\nair tawar dengan perawatan teratur.

Melihat dari manfaatnya dalam\r\nmencegah predator, kemudahan pemakaian, dan umur pakai yang tinggi, jaring\r\nbudidaya UHMWPE tanpa simpul diprediksi akan menempati pasaran yang unik dalam\r\nindustri budidaya ikan di Indonesia sebagai solusi terbaik budidaya ikan bebas\r\npredator. (Adit)

Artikel Asli

Tentang Minapoli

Minapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. 

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan