Minapoli
Sumatera Barat Kembangkan Ikan Sidat untuk Ekspor
Sidat

Sumatera Barat Kembangkan Ikan Sidat untuk Ekspor

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
2 menit baca

Unit Pelaksana Teknis Konservasi dan Pengawasan Sumber Daya\r\nKelautan, Dinas Perikanan Sumatera Barat (Sumbar) tengah mengembangkan ikan\r\nsidat (Anguiliformes) untuk tujuan ekspor sekaligus melest...

Unit Pelaksana Teknis Konservasi dan Pengawasan Sumber Daya\r\nKelautan, Dinas Perikanan Sumatera Barat (Sumbar) tengah mengembangkan ikan\r\nsidat (Anguiliformes) untuk tujuan ekspor sekaligus melestarikan ikan sungai\r\nyang populasinya mulai langka tersebut.
\r\n
\r\nKepala UPT Konservasi dan Pengawasan Sumber Daya Kelautan Sumbar Irwansyah\r\nYan melalui Kasi Konservasi Sani Ikhsan Putra di Padang, Selasa, menyatakan,\r\npermintaan ikan Sidat langsung dari eksportir di Jepang sudah ada, namun karena\r\ntangkapannya masih belum banyak ikan dipasarkan ke Jakarta dan selanjutnya di\r\nekspor ke Jepang dalam jumlah yang relatif kecil.
\r\n
\r\n"Ikan sidat ini oleh masyarakat setempat kurang dikonsumsi dan juga sangat\r\njarang ditemui dijual di Pasar Padang. Hasil tangkapan nelayan biasanya\r\ndipasarkan ke Jakarta dengan harga sekira Rp150 ribu/kg," ujarnya sembari\r\nmenjelaskan.
\r\n
\r\nikan ini biasanya ditemui di sungai di pulau-pulau di kabupaten kepulauan\r\nMentawai dan memiliki keunikan berupa pemijahan di laut dan setelah ukuran\r\ntertentu naik ke muara dan besar di sungai.
\r\n
\r\nDi Jepang ikan Sidat yang disebut unagi ini dijadikan kabayaki, makanan khas\r\nJepang yang mengandung protein tinggi. Ikan Sidat yang diekspor biasanya\r\nberukuran 4-6 ekor per kgnya.
\r\n
\r\nDalam upaya memperbanyak populasi ikan Sidat, pihaknya tengah mengembangbiakan\r\nikan tersebut dengan mendatangkan benihnya dari Pelabuhan Ratu Jawa Barat. Ikan\r\nini dirawat di balai benih ikan Sicincin, Kab. Padang Pariaman sampai ukuran\r\ntertentu yang aman untuk dikembang lanjutkan oleh peternak ikan budidaya.
\r\n
\r\n"Sudah ada peternak yang akan mengembangkan ikan yang hidup di air\r\nmengalir serta jernih ini. Kalau untuk ekspor ikannya harus bersih dan\r\nterawat," jelasnya.
\r\n
\r\nBerdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ekspor sidat\r\n(termasuk belut) pada paruh pertama 2019 mengalami peningkatan sekitar 25\r\npersen dibandingkan tahun lalu yaitu 5.186 ton sedangkan periode yang sama\r\ntahun lalu sebesar 4.142 ton.
\r\n
\r\nSidat tersebut di antaranya diekspor paling banyak ke China, Hong Kong, Jepang\r\ndan Thailand dengan menghasilkan devisa 9,49 juta dolar AS atau meningkat\r\ndibanding sebelumnya 7,78 juta dolar.
\r\n
\r\nMeski permintaan ekspor atas sidat tinggi, tetapi pasokan sidat di dalam negeri\r\nsangat terbatas. Dari sisi pasokan, sidat hingga saat ini masih merupakan usaha\r\npenangkapan dari perairan umum. Jenis sidat pun belum dibudidayakan pada\r\ntingkat hatchery sehingga benihnya tergantung penangkapan dari alam.
\r\n
\r\nDi negara lain ikan Sidat masuk dalam Convention on International Trade in\r\nEndangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) sebagai spesies yang\r\nterancam punah.

\r\n\r\n

Sumber: Antara News

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan