\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nMari bersinergi dan berkolaborasi, agar\r\npotensi perikanan bukan hanya mimpi!\r\n\r\nSebagian dari kita mungkin sudah\r\nmulai...
Mari bersinergi dan berkolaborasi, agar\r\npotensi perikanan bukan hanya mimpi!
\r\n\r\nSebagian dari kita mungkin sudah\r\nmulai bosan mendengar ataupun membaca informasi tentang potensi produksi\r\nperikanan budidaya Indonesia yang sangat besar bahkan hingga 105 juta ton per\r\ntahun. Selain itu Organisasi Pangan Dunia (FAO) dalam salah satu artikelnya\r\njuga menyatakan bahwa akuakultur adalah salah satu sektor yang memiliki\r\npertumbuhan tercepat di antara sektor penghasil pangan atau agrikultur lainnya.\r\nSehingga istilah “the sleeping giant” memang cukup tepat menggambarkannya.\r\nNamun akankah kita membiarkan potensi besar itu terus tertidur?
\r\n\r\nSaat ini ketika berbicara masa depan\r\nperikanan, kita boleh mulai tersenyum melihat sejumlah anak muda yang sebagian\r\njustru bukan memiliki latar belakang perikanan terjun ke industri ini dalam\r\nkurun 5 tahun terakhir ini. Mereka yang dikenal dengan pelaku startup\r\n(perusahaan rintisan) ini berinovasi mengembangkan produk dengan sentuhan\r\nteknologi terkini dengan misi membawa industri perikanan ke level yang lebih\r\ntinggi mulai dari produktivitas hingga efisiensi.
Baca juga:\r\n\r\n

Inovasi Startup
\r\n\r\n
Inovasi yang dikembangkan para\r\nstartup ini cukup bervariasi mulai dari akses permodalan melalui crowd funding\r\n(fintech), alat kualitas air dan alat pemberi pakan otomatis yang bisa\r\ndikontrol dan monitor secara jarak jauh (Internet of Things/IoT), substitusi\r\ntepung ikan (bioteknologi), jasa peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia/SDM\r\n(human resource), pemasaran produk (e-commerce), hingga pasca panen (processing\r\n& logistic).
\r\n\r\nPengembangan inovasi yang dilakukan\r\noleh para startup ini juga tidak mudah karena di depan badai sudah menanti.\r\nPara pelaku startup memerlukan akses pendanaan salah satunya ke investor,\r\nkarena ini menjadi “napas” startup sebelum memperoleh pendapatan dari bisnis\r\nmodel yang dijalankan, tak jarang juga para pendiri startup (founder) di awal\r\nrela merogoh kocek pribadinya cukup dalam atau dikenal dengan istilah\r\nbootstrapping.
Baca juga: Peran Startup di Sektor Akuakultur
Selain itu akses ke industri juga\r\ntidak kalah penting agar inovasi yang dikembangkan dapat selaras dengan\r\nkebutuhan industri, mengingat sebagian besar dari pelaku startup yang berasal\r\ndari non perikanan dan masih minimnya pengalaman berinteraksi dengan industri.\r\nSDM juga salah satu tantangan besar di dunia startup, dibutuhkan SDM yang memiliki\r\nmental baja dan punya determinasi tinggi untuk bisa merealisasikan ide menjadi\r\nsuatu inovasi.
Jika salah satu tantangan tadi tidak\r\nbisa dilewati bukan tidak mungkin ide-ide tersebut tenggelam sebelum menjadi\r\ninovasi. Karena faktanya hanya 5 % dari startup di dunia ini yang berhasil\r\nmelewati badai tantangan tersebut untuk terus berlayar membuktikan dan\r\nmengembangkan inovasi yang ditemukan.
\r\n\r\nButuh Sinergi
\r\n\r\n
Disinilah kita memerlukan sinergi dan\r\nkolaborasi antara para stakeholder perikanan. Tanpa itu, ide akan sulit\r\ndikonversi menjadi inovasi. Tanpa itu, inovasi yang ada tidak akan menjadi\r\nsolusi. Tanpa itu, inovasi yang ada bisa saja menjadi basi.
\r\n\r\nSinergi tersebut dapat kita mulai\r\ndari hal yang paling dasar yaitu di perguruan tinggi. Tempat dimana sumber daya\r\nmanusia yang akan menjadi cikal bakal pelaku startup mulai diasah dan dibentuk.\r\nProses yang berlangsung di perguruan tinggi perlu disesuaikan agar semakin\r\nbanyak sumber daya manusia yang terinspirasi dan mau berdedikasi di dunia\r\nperikanan.
\r\n\r\nSudah saatnya juga penelitian ataupun\r\ntugas akhir dilakukan lintas jurusan, lintas fakultas bahkan lintas perguruan\r\ntinggi. Karena pada kenyataannya suatu usaha startup ataupun bisnis perikanan\r\ndalam kondisi nyata memang dilakukan oleh pelaku yang berasal dari\r\nmultidisiplin ilmu. Dalam dunia startup komposisi multidisiplin ini juga\r\ndikenal dengan The Startup Triangle Team yang terdiri dari hustler (business\r\nand marketing), hipster (design and user experience), dan hacker (engineer and\r\ndeveloper).
Baca juga: Startup Yogyakarta Tawarkan Sentuhan Teknologi di Tambak Udang
Sinergi dengan Kementerian Kelautan\r\ndan Perikanan (KKP) sebagai pemangku kebijakan juga diperlukan agar regulasi\r\ndan program-program yang direncanakan bisa terintegrasi. KKP dapat menginisiasi\r\nprogram inkubasi startup perikanan yang akan membuka lebih banyak lagi\r\nkesempatan para lulusan perguruan tinggi untuk mencoba merealisasikan\r\nide-idenya dan hal ini secara tidak langsung akan membantu KKP dalam\r\nmemberikan solusi terhadap permasalahan yang ada di sektor perikanan.
\r\n\r\nProgram inkubasi startup dapat\r\ndimulai melalui kompetisi inovasi (Fisheries Innovation Challenge) atas\r\npermasalahan perikanan yang dihadapi. Hasil dari kompetisi tersebut dapat\r\ndifasilitasi KKP dengan memberikan modal awal (seed funding), menyediakan\r\nfasilitas tempat kerja bersama (coworking space), akses ke mentor khususnya\r\nterkait hal teknis, akses ke industri dan tidak menutup kemungkinan akses ke\r\ninvestor melalui jaringan yang dimiliki.
\r\n\r\nKKP bisa mencoba memulai strategi ini\r\ndalam kebijakan program yang dilakukan untuk dampak yang lebih positif dan\r\nsignifikan. Caranya dengan memberikan bantuan ke masyarakat umum selain yang\r\nselama ini sudah dilakukan seperti bantuan benih, pakan, kapal dan sarana\r\nprasarana produksi lainnya.
\r\n\r\n\r\n\r\n
Teknologi Perikanan
\r\n\r\n
Peluang inovasi baru yang bisa\r\ndikolaborasikan antara KKP dan para pelaku startup masih terbuka lebar. Untuk\r\nperikanan budidaya kita ketahui bahwa salah satu kunci suksesnya adalah\r\npenentuan lokasi, jika KKP bersama pelaku startup dapat mengembangkan platform\r\nonline yang dapat memberikan informasi daerah atau titik mana saja di Indonesia\r\nyang memenuhi persyaratan baik dari kualitas air, infrastruktur, tata ruang\r\natau zonasi hingga akses transportasi maka aplikasi ini akan memudahkan dan\r\nmembuka peluang lebih besar investasi di sektor perikanan. Terlebih jika\r\naplikasi tersebut terintegrasi mulai dari perizinan usaha, akses permodalan\r\nhingga pemasaran.
\r\n\r\nBerikutnya adalah terkait data supply\r\nchain produk perikanan, seringkali kita mendengar di suatu daerah produksi ikan\r\nberlebih hingga kurang terserap maksimal sementara di daerah lain ada\r\nkekurangan pasokan. Dibutuhkan suatu platform yang dapat memberikan informasi\r\nmengenai supply and demand produk perikanan yang bisa dilihat secara online dan\r\nup to date, sehingga rantai pasok dan distribusi dapat lebih merata dan\r\nseimbang.
Baca juga: Indonesian Aquaculture Startup Secures Seed Funding in 500 Startups-led Round
Inovasi di sektor hilir juga dapat\r\ndigarap antara lain terkait dengan logistik produk perikanan. Salah satu\r\ntantangan setelah kita berhasil memproduksi ikan, adalah bagaimana memastikan\r\nikan tersebut tiba di end-customer dalam kondisi dan kualitas yang prima, baik\r\nyang melalui proses pengolahan (processing) terlebih dahulu ataupun yang tanpa\r\nproses. Inovasi logistik ini sangat penting, karena dengan menjaga produk dapat\r\nditerima dalam kondisi yang prima, ini membuka peluang lebih besar untuk\r\nmempertahankan nilai produk dan meningkatkan konsumsi produk perikanan.
\r\n\r\n\r\n\r\n
Peran Minapoli
\r\n\r\n
Dengan misi membantu terwujudnya\r\nsinergi dan kolaborasi yang lebih baik dan erat antar pelaku perikanan antar\r\npelaku perikanan maka di sinilah Minapoli hadir. Minapoli merupakan sebuah\r\nplatform jaringan informasi dan bisnis perikanan online terintegrasi yang\r\nmenggunakan teknologi cukup sederhana melalui web-based application.
\r\n\r\nPlatform Minapoli memfasilitasi para\r\npelaku perikanan khususnya akuakultur dalam hal memasarkan dan mempromosikan\r\nproduk dan jasa, berbagi informasi terkini mulai dari teknologi, regulasi,\r\ntokoh inspirasi, lowongan kerja hingga fasilitas untuk mempublikasi event-\r\nevent perikanan. Platform online tersebut dapat diakses tanpa biaya untuk\r\nfitur-fitur dasarnya. Selain melalui platform online, kami juga melakukan\r\naktivitas offline dengan berkolaborasi menyelenggarakan event mulai dari\r\nseminar, workshop, hingga exhibition untuk mempertemukan para pelaku industri\r\nperikanan.
Baca juga: Digifish 2019, KKP Dorong Terobosan Sektor Perikanan Lewat Inovasi Teknologi Digital
Pengguna atau user Minapoli akan\r\nterkoneksi dengan jaringan perikanan berkualitas yang sudah terjalin selama\r\nlebih dari 15 tahun dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Dengan terhubung\r\ndengan jaringan perikanan yang ada tentunya akan membuka banyak peluang untuk\r\nmemberikan benefit dan nilai lebih bagi bisnis yang sedang atau akan dilakukan\r\ndan tentunya pada akhirnya akan memberikan kontribusi dalam perkembangan dan\r\nakselerasi industri perikanan.
\r\n\r\n
Artikel ini dimuat di Majalah Trobos Aqua edisi November 2018
Tentang Minapoli
Minapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.
\r\n\r\n
Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
