Perhatian masyarakat Indonesia pada ikan cupang alam sangat\r\nminim, padahal permintaan ikan jenis ini sangat tinggi di luar negeri. Terlebih\r\nIndonesia adalah produsen ikan cupang alam terbesar di...

Perhatian masyarakat Indonesia pada ikan cupang alam sangat\r\nminim, padahal permintaan ikan jenis ini sangat tinggi di luar negeri. Terlebih\r\nIndonesia adalah produsen ikan cupang alam terbesar di dunia.
Sekretaris Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan\r\nPerikanan (BRSDM) Maman Hermawan menyatakan salah satu ikan cupang alam yang\r\nberpotensi besar dikembangkan adalah Betta channoides endemik\r\nKalimantan Timur, yang sudah ditemukan teknologi budidayanya.
Ikan ini memiliki bentuk kepala seperti ular, mirip\r\ndengan kepala ikan gabus (Channa sp.), dan merupakan ikan endemik Kalimantan\r\nTimur. Ikan ini cukup populer karena warnanya yang menarik. Jantan berwarna\r\nmerah kecoklatan bergaris putih pada siripnya, sementara betinanya\r\nberwarna lebih pucat. Ikan cupang dewasa jenis ini bisa mencapai panjang\r\n5 cm.
Teknologi budidaya Betta channoides ditemukan oleh\r\nUPT dari Badan Riset dan Sumberdaya Manusia (BRSDM) Kelautan dan\r\nPerikanan - Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok bekerjasama dengan Dinas\r\nKetahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Depok.
Agus Priyadi, Peneliti BRBIH menjelaskan ikan cupang alam (Betta\r\nchannoides) merupakan kategori ikan mouth breeder, yaitu ikan yang\r\ntelurnya dierami secara alami di mulut hingga menetas dan menjadi larva selama\r\nkurang lebih 10 – 15 hari. Namun dalam proses budidaya, larva akan dikeluarkan\r\ndari mulut induk jantan dengan cara pengocokan pada hari 6 – 8 pengeraman.
Meskipun tidak alami, jumlah larva yang didapatkan lebih\r\nbanyak dan sintasan larva dapat bertahan hingga 80%. Jika larva dibiarkan dalam\r\nmulut induk pejantan hingga 15 hari, jumlah larva yang diperoleh semakin\r\nrendah, meskipun sintasannya lebih tinggi. Dan jika dikalkulasikan secara\r\nekonomi maupun secara teknis, pengambilan larva melalui intervensi jauh lebih\r\ntinggi hasilnya dibanding dengan membiarkan larva dimuntahkan secara alami.
“Hal-hal sederhana seperti inilah yang coba dijelaskan\r\nsecara ilmiah dalam riset yang kami lakukan. Nampaknya simpel, namun butuh\r\nketelatenan, kesabaran dan keuletan dalam melaksanakan riset agar didapatkan\r\nhasil serta data yang valid dan kredibel,” ungkap Agus Priyadi.
Maman Hermawan meminta kepada peneliti BRBIH berupaya agar\r\npengetahuan dan teknologi yang telah dikuasai dapat ditransfer ke stakeholder.\r\n“Keberhasilan ini sangat bermanfaat untuk disebarkan ke masyarakat khususnya di\r\nwilayah Depok bahkan di berbagai daerah,” tutur Maman\r\nHermawan pada rilis Teknologi Budidaya Ikan Hias Cupang Alam (Betta channoides)\r\nEndemik Kalimantan Timur di UPTD Balai Benih Ikan Duren Mekar - Depok\r\npekan lalu.
Dia pun berharap, desa Duren Mekar, kecamatan\r\nBojongsari - Depok dapat menjadi inkubator bisnis ikan hias serta menjadi\r\nprogram percontohan pelatihan masyarakat dalam membudidayakan ikan hias.
Kepala BRBIH, Idil Ardi, menerangkan bahwa kegiatan uji coba\r\nbudidaya ini dimulai pada bulan Mei 2019 - November 2019 dengan\r\nmenyerahkan 30 pasang induk dan perlengkapan budidaya kepada 3 pembudidaya,\r\nyaitu Jaenudin, Jumono dan Albert yang berada di bawah bimbingan Balai Benih\r\nIkan Kota Depok.
Sejak awal hingga akhir pelaksanaan kegiatan, para\r\npembudidaya pun mendapatkan bimbingan tentang teknik budidaya ikan Betta\r\nchannoides oleh peneliti BRBIH. Dengan bermodalkan benih sebanyak 30\r\npasang, tiga pembudidaya tersebut telah menghasilkan sebanyak 268 larva per\r\nNovember 2019 dan terus bertambah hingga hari ini.
“Hal tersebut membuktikan bahwa para pembudidaya telah\r\nberhasil mengadaptasikan teknologi budidaya ikan hias cupang alam ini dan telah\r\nmenghasilkan larva dan benih,” tutur Idil.
Kegiatan ini pun didukung Walikota Depok, Mohammad Idris.\r\nPihaknya mengatakan bahwa Kecamatan Bojongsari menjadi tempat yang strategis\r\nuntuk mengembangkan budidaya ikan hias, karena terdapat 12 Pokdakan Ikan Hias,\r\ndari 35 Pokdakan yang tersebar di seluruh Kecamatan Kota Depok.
“Potensi budidaya ikan hias di Kota Depok sangat luar biasa\r\ndari sisi peningkatan perekonomian masyarakat. Ini juga menjadi ladang atau\r\nmedia untuk menyukseskan program pariwisata Kota Depok. Saya berharap Depok\r\nbisa menjadi produsen ikan hias yang luar biasa. Tentunya hal ini tidak akan\r\nberjalan tanpa adanya kerja sama dari setiap pemangku kepentingan,” ungkap\r\nIdris.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Artikel Asli : Trobos Aqua

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
