Minapoli
Pilih-Pilih Teknologi Pembenihan Lele
Lele

Pilih-Pilih Teknologi Pembenihan Lele

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
6 menit baca

Ragam versi teknologi atau metode pembenihan lele\r\nberkembang, lantas bagaimana sebenarnya teknologi pembenihan lele intensif yang\r\nada kiniSeiring perkembangan zaman, perkembangan teknologi pun t...

Ragam versi teknologi atau metode pembenihan lele\r\nberkembang, lantas bagaimana sebenarnya teknologi pembenihan lele intensif yang\r\nada kini

Seiring perkembangan zaman, perkembangan teknologi pun tak\r\ndapat dipungkiri. Saat ini berbagai macam cara dan upaya telah dilakukan para\r\npelaku usaha, akademisi, dan pemerintah agar bisa mengoptimalkan prosuksi benih\r\nikan dalam negeri. Dampaknya, banyak model atau sistem pembenihan yang\r\ndiaplikasikan para pembudidaya di Indonesia, dari mulai tradisional hingga\r\nintensif.

Bicara mengenai pembenihan, lele merupakan ikan\r\nkonsumsi air tawar yang tergolong mudah untuk dipijahkan. Oleh karena itu, ikan\r\nberkumis ini banyak dijadikan bahan penelitian agar memaksimalkan jumlah\r\nproduksinya dan juga cara pembenihannya agar lebih efektif dan efisien. Namun\r\ndengan banyaknya metode atau sistem pembenihan yang ada di dalam negeri,\r\nmanakah yang lebih efisien dan efektif penerapannya bagi para pembudidaya?

Intensif RAS


Tim TROBOS Aqua menyambangi sebuah lokasi usaha pembenihan\r\nlele di daerah Cibubur, Jawa Barat (Jabar). Helmi Taufik S selaku pembudidaya\r\nlele yang menerapkan sistem Resirculating Aquaculture System (RAS)\r\nmenyampaikan, bahwa tak dipungkiri lagi dengan semakin minimnya lahan-lahan di\r\ndaerah maupun perkotaan, akan semakin sulit melakukan usaha budidaya ikan. Maka\r\ndari itu perlunya sentuhan teknologi dalam budidaya ikan saat ini, dalam hal\r\nini pembenihan lele. Terutama yang masih menggunakan sistem konvensional, sudah\r\npasti menggunakan lahan yang cukup banyak dalam usahannya.

Disamping itu, lanjut Helmi, tak hanya bicara mengenai lahan\r\nyang digunakan, kualitas benih juga menjadi perhatian jika masih menggunakan\r\ncara-cara tradisional. Dalam penerapannya akan banyak menghadapi kendala dari\r\nperubahan cuaca, kurangnya pakan alami, dan manajemen kualitas air yang buruk.\r\nMaka dari itu dengan mencoba mengadopsi teknologi RAS di luar negeri untuk\r\ndiaplikasikan ke pembenihan lele, dan ternyata hasilnya cukup baik.

Dengan mengaplikasikan sistem RAS pada pembenihan, Helmi\r\njelaskan lebih gamblang, lahan yang digunakan hanya berukuran 10 x 15 meter (m)\r\natau 150 meter persegi (m2), dan wadah pemeliaharaan berupa bak fiber berukuran\r\n1 x 2 m sebanyak 32 unit. Dimana 32 unit bak fiber tersebut di kelompokan\r\nmenjadi 8 line (baris), dan setiap line terdiri dari 4 bak fiber yang\r\npembuangan airnya saling berhubungan menuju satu bak filtrasi. Air-air dari bak\r\nfiber di proses dengan 2 macam filter, yakni filter mekanis dan biologis\r\nsehingga air kembali bisa didistribusikan kembali ke wadah pemeliharaan.

Cara kerja bak filter dari sistem RAS, kata Helmi, dimana\r\nbak filter telah disekat menjadi 3 - 4 bagian, dimana bagian pertama diisi bio\r\nfilter foam berbentuk busa. Tujuannya untuk memisahkan kotoran/limbah padat\r\ndengan halus. Kemudian dari sekat pertama mengalir ke sekat kedua, dan bagian\r\nkedua ada filter biologis berupa ring keramik atau bisa juga diisi bioball.\r\nPerannya adalah memfilter air secara biologis dan meminimalisir bakteri yang\r\nkurang baik. Setelah itu, akan mengalir ke bagian terakhir melalui pipa\r\nparalon yang disinari ultra violet terlebih agar mematikan bakteri. Selanjutnya\r\ndi pompa kembali menuju bak-bak fiber dengan keadaan bersih.

“Produksi yang dihasilkan dari sistem pembenihan RAS\r\nbisa mencapai 600.000 an ekor benih lele per siklus dengan ukuran 3 - 4 cm\r\nhingga 4 - 5 cm, hal ini jelas lebih menghemat jauh lahan jika dibandingkan\r\ndengan tradisional. Jika dengan sistem tradisional rata-rata berpatokan 1.000\r\nekor per m2, yang berarti dalam 1 kolam ukuran 1x2 hanya diisi 2 - 3 ribu ekor,\r\nnamun dengan RAS 1 bak fiber berukuran 100 x 200 x 50 cm bisa mencapai\r\n20.000-an ekor,” ungkapnya.

Selain RAS, ia katakan, ada juga pembenihan lele sistem\r\nintensif lainnya yang menggunakan unit indoor hatchery (ruang penetasan dan\r\nperawatan larva) dan kolam indoor. Tujuannya agar saat proses pemijahan\r\ndilakukan, tidak terpengaruh akan perubahan cuaca yang tidak menentu.

Kemudian, dengan penggunaan indoor hatchery kuaitas air\r\nlebih mudah di kontrol sehingga sintasan (SR) larva lele tinggi. “Pemilihan\r\nsistem RAS bertujuan untuk menghemat lahan budidaya, dan juga menghasilkan\r\nbenih lele dengan kualitas yang lebih baik, karena benih dirawat dengan\r\nintensif dan treatment (perlakuan) khusus,” terang pria yang akrab disapa\r\nHelmi.

Intensif Non RAS

Di lain dearah ada Sahban I Setioko selaku pemilik Unit\r\nPembenihan Rakyat (UPR) Pasir Gaok, Bogor – Jabar ikut bicara mengenai\r\npembenihan lele intensif di indoor hatchery. Menurutnya, sudah menjadi Standar\r\nOperasional Prosedur (SOP) bahwa pemeliharaan larva sebaiknya di indoor\r\nhatchery. Hal ini karena bisa meminimalisir serangan bakteri dan juga menjaga\r\nkualitas air lebih optimal terutama di suhu dan pH (kadar asam di perairan)\r\nair. Dengan demikian, SR larva bisa lebih tinggi dibandingkan pemijahan lele yang\r\ndilakukan di luar ruangan (outdoor).

Mengenai pembenihan lele intensif banyak model yang ada di\r\nIndonesia, ada yang menggunakan RAS, akuarium, dan lain-lainnya. “Intinya\r\npembenihan intensif adalah pembenihan yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan\r\nterus menerus, dengan dukungan resources (sumber daya) yang tepat, sehingga\r\nmemperoleh hasil yang optimal. Dan dikatakan optimal bila terget kualitas,\r\nkuantintas, dan kontinuitas dapat diterima pasar,” tutur Pria yang lokasi\r\nusahanya sering dijadikan tempat penelitian.

Berbeda cara dengan Helmi, Sahban lebih rinci menerangkan,\r\npembenihan intensif tak hanya RAS. Seperti yang diterapkan di UPR Pasir Gaok\r\njuga bersifat intensif, yakni menggunakan sarana indoor hatchery dan kolam\r\npendederan indoor, serta treatment khusus yang bertujuan mangantisipasi dampak\r\nperubahan cuaca yang berakibat pada kematian benih. Lahan yang kami gunakan\r\nsekitar 317 m2, dengan pembagian 161 m2 bangunan hatchery dan 156 m2 kolam\r\nindoor dan tandon air. Wadah pemeliharaan larva berupa akuarium berukuran 100 x\r\n200 x 40 cm sebanyak 40 unit, dan kolam bundar berukuran diameter 2,5 m\r\nsebanyak 23 unit.

Proses produksinya, dimulai dari pemijahan buatan dengan\r\nmetode donor sperma jantan, kamudian telur di tebar di akuarium yang sudah dilapisi\r\nkain hapa (kain halus yang di jahit kotak) untuk media menempel telur. Setelah\r\nmenjadi larva lele baru dipanen dan dihitung secara volumetrik, untuk satu\r\nakuarium diisi larva lele sebanyak 35 - 40 ribu ekor. Kemudian larva dipelihara\r\nselama 14 hari sampai mencapai yukuran 1 - 2 cm di indoor hatchery, seteleh itu\r\ndipindahkan dan di bagi ke kolam-kolam pendederan.

“SR yang umumnya terjadi disni sekitar 67 %, perhitungannya\r\npada saat mengisi larva ke akuarium sebanyak 35 - 40 rb ekor dengan estimasi\r\ntotal larva 1,4 juta ekor. Setelah 14 hari di pelihara di hatchery, benih\r\ndipindahkan ke kolam pendederan dan dipelihara hingga mencapai ukuran 3 - 4 cm.\r\nKemudian jumlah benih yang dipanen kurang lebih sekitar 900 ribuan ekor jika\r\ntidak ada hambatan,” jelas Sahban.

Memang untuk sistem yang diterapkan di UPR Pasir Gaok\r\nmengharuskan pergantian air secara rutin dan dalam jumlah banyak, tidak seperti\r\nRAS yang minim pergantian air. namun dengan sistem ini kualitas air\r\ndipertahankan bening dan parameter airnya baik selalu, karena air yang akan\r\ndigunakan telah ditampung dan diberikan telah di-treatment sehingga saat masuk\r\nke wadah budidya ikan tidak stress.

Kelebihan dan\r\nKekurangan

Untuk sistem RAS, Helmi menggambarkan, penerapannya di\r\nsegmen pembenihan belum banyak yang menggunakan. Beberapa orang melihat pertama\r\ndari nilai investasinya yang cukup besar, karena masih banyak yang berpikiran\r\nuntuk melakukan usaha pembenihan lele dengan cara konvesional saja bisa.\r\nPadahal, sudah teruji bahwa dengan RAS pembenihan bisa meminimalisir lahan dan\r\nmeningkatkan produksi usaha.

Kedua, terlebih lagi para pembudidaya berpikir jika\r\nmenjalankan sistem RAS lebih rumit dari segi instalasi serta maintenance\r\n(peratawan) filternya. Namun, jika ditelaah lebih jauh, mereka yang belum\r\nintensif masih harus melakukan pergantian air kolam secara berkala, menyikat\r\nkolam, dan lain-lain. Hal tersebut sudah jelas lebih membutuhan tenaga dan\r\nbiaya yang lebih.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-94/15 Maret –\r\n14 April 2020


Artikel Asli: Trobos Aqua


Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan