Berawal dari\r\nanggapan masyarakat bahwa lele dipelihara di kolam atau empang yang jorok,\r\nmembuat Muhammad Iqbal berputar otak. Iqbal, sapaan akrabnya, melihat peluang\r\nbisnis dari hal tersebut....
Berawal dari\r\nanggapan masyarakat bahwa lele dipelihara di kolam atau empang yang jorok,\r\nmembuat Muhammad Iqbal berputar otak. Iqbal, sapaan akrabnya, melihat peluang\r\nbisnis dari hal tersebut. Ditambah, menurut riset ternyata lele memiliki\r\nbanyak protein daripada ikan salmon.
\r\n
\r\nPeluang bisnis semakin terbuka lebar ketika dia memiliki kerjasama dengan rumah\r\nmakan khusus lele. Dari situ, dia pun ingin merubah pemikiran orang-orang\r\ntentang lele yang dinilai tidak bersih untuk dikonsumsi. "Banyak yang\r\nmengenal lele itu bau dan jorok untuk bagaimana mindset orang bisa kita ubah.\r\nSaya kerja sama dengan restoran Pecel Lele Lela saya lihat di situ ada peluang\r\nbisnisnya dan itu berhasil mereka jadi suka," ujar Iqbal kepada CNBC\r\nIndonesia, pekan lalu.
\r\n
\r\nDia menuturkan bahwa lele yang dia ternak adalah jenis lele sangkuriang. Dengan\r\nmodal terbilang minim yakni Rp 5 juta. pemilik MAS 78 Farm ini berhasil\r\nmengembangkan bisnis\r\nlele hingga meraup omzet ratusan juta.
\r\n
\r\n\r\n
Iqbal pun mengubah konsep ternak lele dengan metode\r\nbiogreen. Metode ini bersih, tanpa bau dan sehat. Bahkan, saking\r\nhigienisnya air kolam lele pun bisa langsung diminum. Peternak lele asal\r\nBekasi ini membawa metode budi daya dengan Cara Budi Daya Ikan yang\r\nBaik (CBIB), di mana semua proses budi daya, maupun panen sudah dipersiapkan\r\ndengan baik.
\r\n
\r\nLele yang dibudidayakan bebas dari kontaminasi bahan kimia dan biologi, serta\r\naman dikonsumsi. Salah satu ciri dari metode ini adalah penggunaan pakan\r\nprobiotik, media kolam terpal bulat, dan manajemen budi daya. Selain itu\r\nmenurutnya, lele dipelihara dalam kolam bundar terpal berukuran diameter 2\r\nmeter. Keunggulan penerapan kolam terpal bulat ini, selain praktis, efisien dan\r\nmurah, juga mampu menampung lebih banyak bibit ikan lele.
\r\n
\r\nPadat tebarnya menurut dia bisa mencapai 700 ekor lele/meter kubik. Budi daya ikan\r\nini bila panen bisa menghasilkan 200 kg sebulan dan dipasok ke restoran juga\r\nonline. "Setiap bulannya, kita bisa panen dari 4 kolam\r\ndan memanen lele hingga 200 kg dimana 1 kg nya isinya 6-7 ekor\r\ndijual Rp 25 ribu. Tentunya kendala ada tapi saya bersyukur dengan sistem ini\r\nsangat minim risiko karena airnya," ungkapnya
\r\n
\r\nBerbicara peminat, Iqbal mengaku sangat tinggi jumlah masyarakat yang yang\r\ningin menyantap lele organik ini. Dalam setahun kenaikannya mencapai 3-5 persen\r\nbahkan dia mengaku masih kekurangan untuk suplai ke penduduk sekitar. Kini,\r\nIqbal tak cuma beternak ikan lele tapi juga membuat produk olahan yang bisa\r\ndiekspor ke luar negeri. "Jadi olahan lele itu adalah turunan bisnis dari\r\nproduk yang kita budidayakan. Kita buat abon, keripik kulit dan nugget. 3\r\nproduk yang sebetulnya saya bawa keluarga negeri tersebut yakni Rusia, Jepang\r\ndan Eropa," kata Iqbal.
Sumber : CNBC Indonesia

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
