Minapoli
Perpaduan Budi Daya Bawang Merah dan Lele Untungkan Petani
Lele

Perpaduan Budi Daya Bawang Merah dan Lele Untungkan Petani

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
2 menit baca

Para petani bawang merah di Nganjuk Jawa Timur memadukan\r\nbudi daya tanaman bawang merah dengan ternak ikan lele atau disebut Bamele.Hasil dari metode budi daya unik ini diklaim bisa\r\nmeningkatkan...

Para petani bawang merah di Nganjuk Jawa Timur memadukan\r\nbudi daya tanaman bawang merah dengan ternak ikan lele atau disebut Bamele.

Hasil dari metode budi daya unik ini diklaim bisa\r\nmeningkatkan produktivitas dan mendatangkan keuntungan ganda dari hasil kedua\r\nkomoditas tersebut.

Susanto, petani asal Dusun Padangan, Desa Banaran Kulon,\r\nKecamatan Bagor, Nganjuk, merupakan salah satu petani yang mencoba teknik\r\nBamele di lahan bawang merahnya.

Menurutnya, tujuan awal teknik ini berniat untuk\r\nmeningkatkan kesejahteraan dan mengajak petani melakukan budidaya secara sehat\r\ndan ramah lingkungan.

“Ini cara budidaya nonpestisida, tidak pakai bahan kimia\r\nkarena dibawahnya ada lele. Untuk pengendalian hama kami gunakan lampu light\r\nthrap dan pengendali hayati. Jadi produk bawang merah kami sehat dan aman\r\ndikonsumsi. Buktinya, ikan lele bisa hidup dengan baik," kata Susanto\r\nseperti dikutip dari keterangan resmi, Jumat (12/7/2019).

Menurut Susanto, budidaya dengan metode ini cukup sederhana\r\ndan bisa mengoptimalkan pemanfaatan lahan.

Penebaran bibit lele berukuran diameter kepala 6-7 mm\r\nsebanyak 132.000 ekor/ha dapat dilakukan dalam parit atau got lahan bawang\r\nmerah berukuran lebar 40 cm. Adapun, umur pemeliharaan lele sama dengan umur\r\npanen bawang merah yaitu 60 hari-70 hari.

“Hasilnya sangat memuaskan, bisa dipanen bawang merah kelas\r\norganik 16-17 ton/ha plus 10 ton lele. Harganya saat ini juga lagi bagus,\r\nbawang merah varietas Tajuk di petani dihargai Rp16.000/kg, sementara lelenya\r\nRp15.000/kg. Sangat menguntungkan," ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian Nganjuk, Judi Ernanto mengatakan\r\npihaknya akan melakukan replikasi dan kembangkan teknologi Bamele ini ke\r\nseluruh Nganjuk.

Adapun, luas areal tanam bawang merah Kabupaten Nganjuk\r\nsekitar 14.000 ha dengan produksi tahun lalu mencapai 152.000 ton. Nganjuk juga\r\nmerupakan sentra bawang merah terbesar di Jawa Timur dan ketiga di Indonesia\r\nsetelah Brebes dan Bima.

Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi sangat mengapresiasi\r\ncara unik dan inovatif petani Nganjuk dalam berbudidaya bawang merah yang ramah\r\nlingkungan menggunakan teknik Bamele.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

“Ini contoh kreativitas pola integrasi selama ini hanya\r\ndikenal mina-padi, sekarang sudah ada mina-cabai, mina-bamer dan lainnya. Tiap\r\ndaerah punya kearifan lokal dan cara sendiri dalam berbudidaya bawang merah.\r\nSilakan saja petani berimprovisasi. Bamele ini patut dicontoh sentra bawang\r\nmerah lainnya," kata Suwandi.


Sumber : Bisnis.com

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan