Minapoli
Pengelolan Air di Tambak
Udang

Pengelolan Air di Tambak

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
5 menit baca

Kegiatan budidaya udang selalu menyisakan limbah, seperti\r\nsisa pakan, kotoran udang, serta kulit udang yang molting, agar budidaya\r\noptimal diperlukan teknik pengelolaan air tambak yang benar. Pe...

Kegiatan budidaya udang selalu menyisakan limbah, seperti\r\nsisa pakan, kotoran udang, serta kulit udang yang molting, agar budidaya\r\noptimal diperlukan teknik pengelolaan air tambak yang benar. Pengelolaan air\r\nmedia pemeliharaan selama proses produksi meliputi pergantian dan penambahan\r\nair, pengukuran kualitas air, penyiponan dan aplikasi probiotik. Sumber air\r\nuntuk pergantian air harus berasal dari air tandon yang telah siap pakai dan steril\r\natau dari sumur bor, setiap air masuk ke dalam petakan selalu menggunakan\r\nsaringan air dengan ukuran sekitar 200 mikron. Air dalam tandon disterilisasi\r\ndengan kaporit 20 – 30 mg/liter.

Pada pemeliharaan sistem tertutup, pergantian air hanya\r\nmengganti air yang hilang karena penguapan dan bocoran (penambahan air), namun\r\nada juga tambak yang melakukan pergantian air sekitar 10 – 20 %. Penambahan\r\nvolume air pada umur 30 – 60 hari bertujuan untuk menambah volume air akibat\r\nrembesan dan evaporasi (penguapan) sedangkan pada umur lebih dari 60 hari\r\nbertujuan untuk pengenceran kelimpahan plankton yang berlebihan (terlalu\r\npekat), kelimpahan populasi bakteri yang merugikan, memperbaiki kondisi\r\nparameter khususnya bahan organik yang terlalu pekat dan memperkecil gas – gas\r\nberacun.


Baca juga: Mencegah Penyakit Udang Berdasarkan Warna Air Tambak


Monitoring kualitas air sebaiknya dilakukan minimal dua kali\r\nsehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Hasil monitoring tersebut dijadikan\r\nsebagai dasar dalam menentukan tindakan pengelolaan kualitas air misalnya, pada\r\nkondisi air pekat (salinitas tinggi dan kelimpahan plankton sangat tinggi)\r\nsebaiknya dilakukan pengenceran dengan memperbanyak pergantian air. Salinitas\r\nyang terlalu tinggi (melebihi batas normal) dapat menyebabkan pertumbuhan udang\r\nterhambat karena proses osmoregulasi terganggu. Apabila demikian, udang\r\nlebih banyak mengeluarkan energi untuk proses osmoregulasi dibandingkan untuk\r\npertumbuhan. Osmoregulasi adalah proses pengaturan dan penyeimbangan tekanan\r\nosmosis antara dalam dan luar tubuh udang.

Saat kelimpahan plankton rendah (kecerahan tinggi) tindakan\r\npemupukan, inokulasi plankton dan pergantian air sebaiknya diperjarang. Udang\r\nyang dibudidayakan dengan sistem tertutup, setelah berumur 60 hari banyak\r\nditemukan endapan di dasar petakan. Bahan organik ini berasal dari plankton\r\nyang mati, sisa pakan, feses, obat – obatan dan lainnya. Untuk itu, perlu\r\ndikeluarkan dengan cara disipon menggunakan pompa air. Pada tambak dengan umur\r\nlebih dari 30 hari sudah mulai terlihat banyak plankton yang mengendap dan\r\nmati. Pada awalnya terlihat banyak yang mengapung dan mengumpul dipojok petakan\r\nkarena tiupan angin dan gerakan arus air. Kandungan berbagai organisme ini\r\nmengandung berbagai kadar yang dapat menimbulkan gas beracun.

Kotoran ini apabila tidak segera diangkat akan mengendap dan\r\nmengalami perombakan (dekomposisi) yang menghasilkan gas beracun\r\nseperti H2S, NH3 sehingga cepat menurunkan kualitas air. Pengangkatan\r\ndengan menggunakan serok datar dengan diameter 30 cm dapat membantu mempercepat\r\nmemindahkan plankton yang mati.


Baca juga: Budidaya Udang Berbasis Lingkungan Menjadi Tumpuan Ekspor Perikanan


Vitamin C merupakan salah satu jenis vitamin yang mudah\r\nrusak bila terkena panas dan mudah larut dalam air. Selain meningkatkan\r\nketahanan tubuh terhadap penyakit, mencegah kelainan bentuk tubuh, mencegah stress\r\nlingkungan, mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan laju pertumbuhan pada\r\nudang. Pemberiannya dapat dicampurkan pada pakan dengan dosis 5 – 7 gram/kg\r\npakan.

Akumulasi limbah organik yang terlalu tinggi berupa sisa\r\npakan, kotoran udang, serta kulit udang yang molting, akan berakibat fatal\r\nkarena menyebabkan timbulnya masalah kesehatan ikan sampai membahayakan\r\nkelangsungan hidup udang. Untuk mengurangi akumulasi limbah organik dapat\r\ndilakukan dengan cara memasukkan beberapa jenis probiotik. Jenis bakteri yang\r\nbiasanya diberikan yaitu Bacillus, Nitrobacter dan Nitrosomonas untuk\r\nmenguraikan bahan organik di dasar tambak. Selain itu dapat juga Lactobacillus untuk\r\nmembantu proses pencernaan dalam tubuh udang.

Pengelolaan air budidaya udang vaname juga dilakukan dengan\r\naplikasi probiotik. Tujuan pemberian probiotik adalah untuk membantu proses\r\ndekomposisi dengan mengurai bahan organik yang ada di tambak. Jenis bakteri\r\nyang digunakan adalah Bacillus sp. Selain fungsi dekomposisi\r\nprobiotik juga dapat menjaga kualitas air tetap baik. Efektifitas kerja\r\nprobiotik yang diberikan ke tambak ditandai dengan pH air yang cenderung turun\r\n(≤ 7). Selain itu terlihat bahwa dalam air tambak terbentuk gumpalan kecil –\r\nkecil berupa plankton dan organisme lain (flock). Selama pemeliharaan probiotik\r\ndiberikan dengan dosis 0,5 – 1 ppm.


Baca juga: Evaluating Compensatory Growth in Pacific White Shrimp in a Biofloc System


Efektifitas kerja probiotik yang telah diberikan ketambak\r\nditandai dengan pH air yang cenderung turun (<7). Penebaran pemberian\r\nprobiotik dilakukan secara berkala setiap dua hari sekali pada waktu pagi hari\r\nyaitu pada pukul 07.00 dengan kondisi kincir dinyalakan. Selain probiotik,\r\npembudidaya juga menggunakan sumber C – organik yang digunakan untuk\r\nmenumbuhkan flok di tambak. Sumber C-organik yang digunakan dapat berupa\r\nmolase. Molase yang akan di tebar harus dilarutkan dulu dalam air, kemudian\r\ndisiramkan keseluruh permukaan tambak secara merata.

Pemberian molase dilakukan pada pagi hari. Molase digunakan\r\nkarena memiliki kandungan C-organik tinggi tetapi tetap rendah protein,\r\ntersedia cukup banyak dan harganya murah. Selain molase juga dapat digunakan\r\ntepung tapioka, tepung sagu, dan sebagainya. Bahan tersebut mengandung\r\nC-organik antara 40 – 60%.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Pengapuran juga dilakukan selama proses pemeliharaan udang\r\ndi tambak. Fungsi kapur adalah untuk menaikkan pH air dan menambah kandungan\r\nkalsium yang terlarut di air sebagai bahan untuk memperkeras kulit udang.\r\nPemakaian kapur sangat tergantung dengan kondisi udang dan air. Apabila terjadi\r\nhujan lebat dalam waktu yang lama maka kapur diberikan adalah 10 mg/l, apabila\r\nkulit udang banyak yang lembek akibat molting maka dapat diberi kapur untuk\r\nmembantu proses pengerasan kulit udang.

Sumber : Info Akuakultur


Tentang Minapoli

Minapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. 



Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan