Minapoli
Pemerintah dan FAO Susun Formula Pakan Patin Berkualitas
Patin

Pemerintah dan FAO Susun Formula Pakan Patin Berkualitas

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
4 menit baca

Badan Pangan Dunia (FAO) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan\r\nberkolaborasi menyusun formula pakan ikan patin berkualitas berbahan baku lokal\r\nsepanjang 2019.Sebelumnya Ditjen Perikanan Budiday...


Badan Pangan Dunia (FAO) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan\r\nberkolaborasi menyusun formula pakan ikan patin berkualitas berbahan baku lokal\r\nsepanjang 2019.

Sebelumnya Ditjen Perikanan Budidaya - KKP dengan FAO\r\nbersama-sama menggarap proyek "Supporting Local Feed Self-Sufficiency\r\nfor Inland Aquaculture in Indonesia". Proyek tersebut merupakan kolaborasi\r\nyang bertujuan untuk meningkatkan produksi pakan ikan khususnya ikan air tawar\r\nyang berkualitas tinggi dengan biaya murah oleh para produsen pakan skala kecil\r\ndi Sumatera Selatan.


Baca juga: KKP – FAO Lakukan Training Percepat Perluasan Area Minapadi


Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto pada\r\nterminal workshop proyek ini (Kamis, 19/12), mengatakan FAO memiliki\r\nandil besar dalam mendukung pengembangan akuakultur di Indonesia. Ia juga\r\nmenilai berbagai support FAO, karena memandang Indonesia merupakan negara yang sangat\r\ndiperhitungkan dalam kinerja akuakultur global, khususnya bagi pemenuhan\r\nkebutuhan pangan masyarakat dunia.

Slamet juga membeberkan, bahwa proyek kolaborasi dengan FAO\r\nmelalui percontohan produksi pakan mandiri di Provinsi Sumatera Selatan\r\nberjalan dengan memuaskan. Hal ini ditandai dengan dihasilkannya paket formula\r\npakan mandiri yang berkualitas dan biaya murah, untuk ikan patin.

"Formula pakan FAO menghasilkan respon pertumbuhan\r\ndan efisiensi produksi. Saya yakin dengan menggunakan formula ini usaha\r\nbudidaya ikan patin, khususnya di Sumatera Selatan akan semakin berkembang.\r\nKomoditas patin akan terus kita dorong, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan\r\npangan dalam negeri saja, namun kita akan dorong untuk ekspor. Terlebih pasar\r\nsudah mulai terbuka misalnya ke Timur Tengah, UE, Amerika dan negara\r\nAsia,”jelas Slamet.

Ditambahkan Slamet, pakan mandiri saat ini memiliki kualitas\r\nyang tidak kalah jauh dengan pabrikan. Menurutnya inovasi formula sudah banyak\r\nberkembang misalnya dengan penggunaan silase, enzim dan bahan baku lokal\r\nseperti palm karnel milk (PKM). Menurut dia, upaya ini berhasil\r\nmeningkatkan efisiensi pakan.


Baca juga: Pemerintah - FAO Gelar Pelatihan Pemantauan Populasi Sidat


Khusus untuk PKM ini, Slamet menyatakan, Indonesia\r\nsebagai produsen terbesar kedua setelah Malaysia dan 80% nya diekspor.\r\nKendalanya saat ini, kelompok Gerpari (Gerakan Pakan Ikan Mandiri) sulit\r\nmendapatkannya karena harga mulai tinggi seiring permintaan untuk pakan awalnya\r\ntinggi.

“Nah, ini yang saya himbau kepada pemerintah daerah untuk\r\nmemfasilitasi agar 10% produksi PKM bisa dialokasikan untuk bahan baku\r\npakan ikan, tentunya dengan biaya yang murah. Saya sudah berkirim surat ke\r\nGubernur Riau terkait hal ini, nanti jika belum ada tindak lanjut akan\r\nkami susulkan lagi surat himbauan berikutnya", tegasnya.

Hingga November tahun 2019, total produksi pakan mandiri\r\nsecara nasional mencapai 32.557 ton. KKP menargetkan ke depan kontribusi pakan\r\nmandiri terhadap kebutuhan pakan nasional akan lebih besar lagi. Dimana saat\r\nini diperkirakan kontribusinya baru sekitar 17%.

Sementara itu asisten FAO Representatif Indonesia, Ageng\r\nHerianto mengatakan bahwa proyek kerjasama ini dapat membantu para pembudidaya\r\nikan untuk mendapatkan akses pakan yang berkualitas dan murah. Ia menargetkan\r\nformula yang dihasilkan dapat menjadi solusi untuk menekan biaya produksi yang\r\n70%-nya dipicu dari harga pakan yang tinggi. Ia juga memastikan bahwa produk\r\npakan formula FAO telah memenuhi standar mutu sesuai SNI dengan kisaran protein\r\nsebesar 20 - 25%. Produk ini aman dari tambahan bahan bahan kimia dan biologis\r\nyang berbahaya.

Formula pakan patin itu telah diuji lapang pada enam\r\nkelompok di Palembang dan Kab Banyuasin dan hasilnya memuaskan dibanding\r\npakan mandiri yang selama ini diproduksi kelompok. Hasilnya, konversi pakan\r\nrata-rata kurang dari 2 dan harga terjangkau yakni rata-rata Rp 4.750/kg.\r\nSebagai informasi formula pakam FAO terdiri dari silase ikan, kepala\r\nudang, ikan asin, poles (dedak), bungkil sawit, kanji, premix, multi-enzym,\r\ndan phytase


Baca juga: FAO Pilih Indonesia Sebagai Lokasi Percontohan Perbaikan Tata Kelola Biosekuriti Perikanan Budidaya


FAO International Consultant, Thomas Shipton, menilai\r\nIndonesia merupakan negara yang sangat diperhitungkan dalam pengembangan\r\nakuakultur global saat ini. Untuk itu, FAO memiliki kepentingan dalam\r\nmemberikan dukungan bagi pengembangan akuakultur di Indonesia. FAO menaruh\r\nharapan besar pada Indonesia dalam kontribusinya terhadap ketahanan pangan\r\nglobal.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Artikel Asli : Trobos Aqua


Tentang Minapoli

Minapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. 

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan