Minapoli
Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2019
Mas

Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2019

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
4 menit baca

Diawali dengan penandatanganan MoU antara Info Akuakultur dan Himpunan\r\nPerekayasa Indonesia (HIMPERINDO), oleh Pemimpin Redaksi, Ir. Bambang Soeharno\r\ndan Ketua Himperindo, Dr. I Nyoman Jujur. &n...

Diawali dengan penandatanganan MoU antara Info Akuakultur dan Himpunan\r\nPerekayasa Indonesia (HIMPERINDO), oleh Pemimpin Redaksi, Ir. Bambang Soeharno\r\ndan Ketua Himperindo, Dr. I Nyoman Jujur. Untuk Publikasi Dan Penyebaran\r\nInovasi Teknologi Hasil Kerekayasaan budidaya perikanan, Seminar Nasional\r\nOutloock Penyakit Ikan dan Udang 2019 digelar di Ruang Lawu 2, Gedung Pusat Niaga,\r\nJakarta International Expo, Jakarta (29/11).

Acara tahunan yang dilaksanakan atas kerjasama Info Akuakultur dan\r\nINFHEM ini dihadir para pembicara diantaranya Guru Besar FPIK UNDIP, Prof. Dr.\r\nSlamet Budi Prayitno, M.Sc, selanjutnya Head of Animal Health Service PT.\r\nCentral Proteina Prima, Dr. Heny Budi Utari, M.Kes, kemudian dari Badan\r\nPengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yaitu Dr. rer. Nat. Rahmania\r\nAdmirasari, M.Sc dan Ir. Heru Dwi Wahyono, M.Kom.

Sambutan sekaligus jalannya acara ini dimoderatori oleh Ketua Indonesia\r\nNetwork on Fish Health Management (Infhem), Ir. Maskur, M.Si. Peserta yang\r\nhadir dari berbagai kalangan tidak kurang dari 100 Orang, diantaranya terdiri\r\ndari perusahaan swasta, pemerintah, universitas, dan seluruh stakeholder\r\nperikanan yang ada di Indonesia.

Prof. Dr. Ir. Slamet Budi Prayitno, MSc, menjelaskan outlook penyakit\r\nikan dan udang 2019. Penyakit ikan dan udang menjadi sangat penting dengan\r\nadanya intensifikasi budidaya dan aktifitas manusia. Penyakit infeksi dan\r\nnon-infeksi dapat menyebabkan kematian ikan sampai 100% dalam waktu kurang dari\r\n5 hari. “Puncaknya, usaha budidaya bisa colaps seperti di era 90a-an penyakit\r\nyang menyerang udang windu dan EMS pada tahun 2013,” ujarnya.

Untuk sukses dalam budidaya, kata Budi, pasca panen dan rantai tata\r\nniaga sangat dipengaruhi oleh penerapan biosekuriti, higienis, akses dan sistem\r\ntata niaga. “Untuk penyakit ikan 2019 berangkat dari tahun 2018, akan berdampak\r\nburuk jika penanggulangan di tahun sebelumnya kurang baik,” jelas Budi.



Ancaman penyakit ikan masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya\r\nseperti upwelling di keramba jaring apung (KJA), Tilv, khv,\r\nmasih bisa terjadi. Sedangkan di tambak, wfd, wssv, dan imnv juga masih bisa\r\nterjadi. Dr.\r\nHeny Budi Utari, M.Kes, menjelaskan perkembangan penyakit udang di Indonesia.\r\nlanjutnya, penyebab kerugian ekonomi di sektor perudangan wilayah Asia dan Indo\r\nPasific setidaknya terjadi sebab empat penyakit utama Virus (WSSV, IMNV, IHHNV,\r\nTSV dan SIHV), Bakteri (AHPND dan Vibrio sp), Parasit (Microsporidia dan\r\nHaplosporidia) dan Penyakit non-infeksi (Insang hitam, Toksik plankton, kram\r\notot, dll).

Penyakit udang yang disebabkan oleh virus seperti merupakan momok utama\r\npetambak udang di Indonesia. “Perkembangan penyakit udang di Indonesia seperti\r\nMio masih akan menjadi kendala udang di Indonesia. WFD dan Mio masih banyak\r\nmerebak di Indonesia dan harus bisa ditangani dengan baik,” jelas Heny.

Penyebaran Mio di Indonesia, di awali dari Jawa Timur Situbondo,\r\nkemudian menyebar karena banyak petambak yang mencari benur murah yang tidak\r\njelas kelayakannya sehingga terjadi penyebaran. Hingga di tahun 2008 area Bali\r\ndan Lombok positif, sampai Lampung, Bangka, dan daerah lainnya.

Bahkan, ungkap Heny, werus atau ebi yang ada di Indonesia sebagian sudah\r\npositif WSSV. Hubungan suhu dan infeksi WSSV erat kaitannya, udang dalam tambak\r\nyang bersuhu 33 derajat yang dipindahkan ke suhu 27 derajat akan langsung drop.\r\n“Menurut Heny, suhu 25-27 derajat adalah suhu favorit WSSV,” ujar Heny.

Pelajaran dari yang sudah terjadi, petambak harus melakukan eliminer\r\npotential carries yang sering diabaikan. Penting untuk memasang saringan 200\r\nmicron untuk cegah telur kepiting dan ikan (50-500 micron), karena itu\r\nmerupakan sumber utama masuknya carriers WSSV ke petak tambak.

“Kuncinya adalah waspada dengan kondisi petak, jangan membiarkan\r\nplankton drop karena sama saja culture hibrio. udang mati tidak dibuang akan\r\nmenjadi bahan makanan hibrio. intinya semua pelaku budidaya harus meningkatkan\r\nbiosekuriti.,” pungkas Heny.


Di sektor pakan, Dr. rer. Nat. Rahmania Admirasari, M.Sc menjelaskan\r\ntentang pengembangan microalgae dalam mendukung industri akuakultur, dimana\r\n penggunaan alga perlu dikembangkan untuk sumber pakan ikan dan udang.\r\nAplikasi dari alga banyak sekali, bukan hanya di sektor akuakultur saja tapi\r\njuga bisa jadi bahan bio diesel.

Alga bisa menjadi basic food akuakultur. Sebab, kata\r\nRahmania, kandungan energi yang tinggi atau bahkan tertinggi. Serta penggunaan\r\nmicro algae perlu dikembangkan untuk sumber pakan ikan.

Ir. Heru Dwi Wahyono, M.Kom., menjelaskan pengembangan monitoring\r\nkualitas air dengan system online untuk mendukung industri akuakultur. Dimana\r\nteknologi digital untuk monitoring kualitas air perlu disederhanakan agar\r\nsesuai dengan kondisi perikanan indonesia.

Sumber : http://infoakuakultur.com/blog/outlook-penyakit-ikan-dan-udang-2019/

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n\r\n
Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan