Ikan Nila Fillet yang Dihasilkan Berkualitas Tinggi Menembus Pasaran EksporHidangan steam fillet ikan nila yang dibungkus alumunium\r\nfoil menjadi makanan pelengkap obrolan sore itu. Saat dibuka bung...
Ikan Nila Fillet yang Dihasilkan Berkualitas Tinggi Menembus Pasaran Ekspor
Hidangan steam fillet ikan nila yang dibungkus alumunium\r\nfoil menjadi makanan pelengkap obrolan sore itu. Saat dibuka bungkusnya, daging\r\nputih yang masih agak panas itu mengepulkan asap tipis. Tanpa dibumbui apa-apa\r\ndaging ikan itu terasa segar dan kenyal, dengan rasa yang khas tanpa bau lumpur\r\nsedikit pun setelah dicicipi.

Itulah salah satu pengalaman berkesan dari tim TROBOS Aqua\r\nyang berkesempatan mencicipi olahan fillet nila berkualitas premium yang\r\ndiproduksi langsung dari Danau Toba. Menurut Head of Unit Tilapia Processing\r\nToba Tilapia Imam Santoso, fillet nila premium dihasilkan melalui sistem\r\nproduksi yang bagus dari hulu hingga hilir, yang terintegrasi mulai dari\r\npembenihan nila berkualitas, pendederan, pembesaran, hingga\r\npengolahannya.
Tak ayal jika produk fillet nila Danau Toba bisa menembus\r\nbeberapa pasar luar negeri. Mulai dari pasar Asia yang meliputi Singapura\r\nhingga Taiwan. “Juga sampai Amerika, yakni Amerika Serikat dan Kanada,” tambah\r\nImam.
Jaga Kualitas\r\nPremium
Fillet nila premium ini, terang Imam, dihasilkan oleh PT\r\nSuri Tani Pemuka (STP), anak perusahaan JAPFA, di Kabupaten Simalungun,\r\nSumatera Utara. Pabrik seluas kurang lebih 7,4 hektar (ha) ini sudah beroperasi\r\nmenghasilkan fillet nila premium untuk ekspor sejak beberapa tahun yang lalu.\r\nDia pun menerangkan, alasan STP mengambil bisnis nila hingga olahannya antara\r\nlain untuk menghindari persaingan dengan para pembudidaya lokal di pasar ikan\r\nsegar.
Dan untuk menghasilkan olahan nila premium tak terlepas dari\r\nsistem produksi yang sudah tersertifikasi. Dalam company profile STP (Toba\r\nTilapia), disebutkan perusahaan ini memiliki spesialisasi dalam menghasilkan\r\ntilapia (nila) dengan kualitas premium menggunakan induk yang berkualitas\r\ntinggi dan pakan yang diproduksi khusus oleh pabrik pakannya sendiri.\r\nTilapianya dibudidayakan secara alami dalam keramba jaring apung (KJA) di Danau\r\nToba. Dengan sistem budidaya yang baik tersebut, Toba Tilapia mendapatkan\r\nbeberapa sertifikat seperti BAP (Best Aquaculture Practices), ASC (Aquaculture\r\nStewardship Council), juga dari KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan).
Proses budidaya yang tersertifikasi ini penting dalam\r\nmenghasilkan produk fillet yang berkualitas. Imam Santoso mengatakan, kualitas\r\ntekstur daging dan rasa produk fillet yang baik dihasilkan dari ikan yang\r\ndibudidayakan dengan baik.
Imam menceritakan secara singkat bagaimana nila dari Danau\r\nToba diolah. Untuk menjaga kualitas, kata Imam, nila yang diproses harus masih\r\nhidup. Padahal jarak pengangkutan dari Danau Toba ke pabrik tersebut mencapai\r\n32 kilometer (km). “Fresh masih hidup, kalau mati gak diproses,” terangnya\r\nsambil mengamati proses olahan dari CCTV.
Ikan mati, meskipun belum lama, tidak dapat diproses karena\r\ndarah di dalam tubuhnya tidak sempat dikeluarkan. Padahal, pengeluaran darah\r\ndari dalam ikan ini menjadi salah satu proses yang harus dilakukan di pabrik\r\nToba Tilapia agar kualitasnya bagus. “Kalau mati kan darah belum keluar. Kalau\r\ndi dalam proses (SOP) kan ada proses bleeding, mengeluarkan darah,” imbuh\r\nImam.
Proses pembuatan fillet berjalan setiap hari kerja. Bahan\r\nbaku ikan hidupnya sudah sampai di pabrik dari pukul setengah 6 pagi. Secara\r\numum, untuk sampai menjadi fillet berkualitas ekspor ada beberapa proses yang\r\nharus dilakukan seperti bleeding (pengeluaran darah), pemiletannya itu sendiri,\r\npenyucian, skinning (pemisahan kulit), trimming (perapihan setelah dikuliti),\r\npemvakuman, pembekuan, hingga pengemasan.
Berdayakan\r\nMasyarakat
Memulai budidaya sejak 2012, Toba Tilapia mendapat izin dari\r\nPemerintah Daerah Simalungun untuk memproduksi nila hingga 30 ribu ton per\r\ntahun di 3 lokasi di Danau Toba. “Tapi saat ini kami hanya beroperasi di satu\r\nlokasi saja,” kata Imam. Produksinya pun masih sangat jauh dari izin yang\r\ndiberikan. Pada 2018 saja, produksi nila Toba Tilapia masih di angka 4 ribu ton\r\nper tahun.
Telah berproduksi sejak 2012, Toba Tilapia baru menggunakan\r\npabrik sendiri itu sejak 2016. Pembuatan pabrik nila di Sumatera Utara ini\r\nsebagai respon dari ajakan pemerintah daerah saat itu untuk memajukan\r\nSimalungun. “Ya kami berusaha seluruhnya di kabupaten Simalungun, mulai dari\r\nhatchery, grow out dan processing plan, juga tenaga kerja 85 % warga lokal,\r\nkami juga pakai merk dagang Toba Tilapia, sehingga kami membawa nama Toba mendunia,”\r\nungkap Imam.
Sesuai dengan jargon utama perusahaan induknya “Growing\r\ntowards mutual prosperity” dimana Toba Tilapia turut memberdayakan masyarakat\r\nsetempat. Tidak hanya memberdayakan secara langsung dengan menjadikannya\r\nkaryawan, tetapi juga melalui peluang dan aktivitas lainnya. Pemberdayaan ini\r\nsudah dimulai dari hulu produksi di bagian budidaya hingga di bagian\r\npemanfaatan limbah produksi pengolahan.
Dari sisi hulu, Toba Tilapia telah memberdayakan pembudidaya\r\nlokal untuk bekerjasama dalam menghasilkan benih ikan nila yang siap ditebar di\r\nKJA Danau Toba. Kerja sama ini terjalin dalam program contract farming. Di mana\r\npembudidaya mendapatkan larva berkualitas dari hatchery Toba Tilapia untuk\r\ndipelihara hingga bobotnya 20 gram. Setelah itu benih dibeli kembali oleh Toba\r\nTilapia untuk ditebar di KJA.
Kerja sama ini membawa dampak positif bagi para pembudidaya\r\nmitra, mereka merasa diuntungkan dengan kerjasama tersebut. Sebabnya mereka\r\nmendapatkan pasokan bibit nila yang berkualitas. Hal itu membuat kegiatan\r\nbudidaya mereka menjadi lebih mudah. “Saya semangat juga bergabung di sini.\r\nKarena ada pertumbuhan lebih cepat. Hasil kerja kita putarannya jadi lebih\r\ncepat lagi,” ujar Gimson, salah satu pembudidaya mitra Toba Tilapia.
Sementara di bagian hilirnya, Toba Tilapia juga melakukan\r\nedukasi kepada masyarakat setempat untuk memanfaatkan hasil samping dari\r\npengolahan. Hasil samping ini cukup banyak karena produk akhir hanya\r\nmembutuhkan 27-33 % bagian tubuh ikan nila. “Kita kerja sama dengan karang\r\ntaruna dan kelompok tani, kita jual kepala dan tetelan (nila),” ungkap Imam\r\nSantoso.
Untuk dapat memanfaatkan hasil samping tersebut, masyarakat\r\nterutama ibu-ibu PKK diberikan pelatihan cara pengolahannya. Beragam produk\r\nbisa dihasilkan dari hasil samping itu, mulai dari kerupuk kulit, tepung ikan,\r\nminyak ikan, hingga menjadi bahan baku. “Tetelannya itu mereka setiap hari ada\r\nyang beli fresh. Ada juga yang kita bekukan (hasil sampingnya),” tambah\r\nImam.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Menurutnya lagi, pemberdayaan masyarakat untuk pengolahan\r\nhasil samping ini telah sejalan dengan pemerintah daerah Kabupaten Simalungun\r\nyang perhatian dengan produk sampingan dari olahan ikan. Tak hanya untuk\r\nkeperluan masyarakat sekitar, hasil samping dari olahan nila Toba Tilapia juga\r\nbisa sampai ke pulau Jawa. “Itu biasanya kalau di Jawa dibuat kerupuk kulit”\r\nkata Imam.
Artikel Asli : Trobos Aqua

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
