Minapoli
Nila Sebagai Komoditas Urban Farming
Mas

Nila Sebagai Komoditas Urban Farming

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
2 menit baca

Nila yang dikenal sebagai komoditas tahan banting dinilai\r\nberpeluang besar untuk dimanfaatkan lebih luas untuk budidaya urban farmingAkuaponik urban farming menjadi salah satu inovasi teknologi\r\n...

Nila yang dikenal sebagai komoditas tahan banting dinilai\r\nberpeluang besar untuk dimanfaatkan lebih luas untuk budidaya urban farming

Akuaponik urban farming menjadi salah satu inovasi teknologi\r\nyang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan dunia kala ini. Khususnya di\r\nkalangan kaum muda perkotaan. Karena sistem urban farming ini memanfaatkan\r\nlahan sempit, hemat air, ramah lingkungan, serta bisa menghasilkan komoditas\r\nyang menguntungkan.


Konsep awalnya berasal dari integrasi sistem tanaman\r\nhidroponik dengan kolam berisi komoditas ikan. Inovasi ini bahkan sudah dikenal\r\ndi kalangan peneliti perikanan lebih dari satu dekade lalu. Bahkan konsep\r\nakuaponik ini menjadi salah satu unggulan yang dipamerkan dalam salah satu expo\r\npertanian dan perikanan 2011 lalu di Tenggarong-Kalimantan Timur. 

Di Eropa, seperti di negara Belanda, Jerman, Swiss, hingga\r\nPerancis, sudah banyak kalangan muda yang mengembangkan inovasi teknologi untuk\r\nurban farming. Dan di Belanda, seperti di Den Haag sudah pernah dikembangkan\r\nurban farming dengan akuaponik memanfaatkan ikan nila. 

Nila, atau populer disebut tilapia menjadi komoditas pilihan\r\nakuaponik karena dinilai lebih tahan banting terhadap kondisi perairan. Karena\r\nnila merupakan ikan yang lebih resisten, tahan terhadap perubahan yang terjadi\r\ndalam air, seperti suhu. “Apalagi nila menjadi salah satu komoditas pilihan\r\nfavorit untuk konsumsi masyarakat,” terang Muhammad Iqbal, pelaku usaha lele\r\ndan nila di daerah Jatiasih, Bekasi-Jawa Barat.

Lebih Tahan Banting

Sementara di Indonesia sendiri, pengembangan akuaponik juga\r\nsedang dilakukan balai-balai penelitian terkait. Seperti dikembangkan melalui\r\nkonsep Yumina-Bumina Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan\r\nPerikanan (BRPBATPP) Badan Riset Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan\r\nKementerian Kelautan dan Perikanan (BRSDM KKP). 

Nurhidayat, Pelaksana tugas (Plt) Kepala BRPBATPP\r\nmengatakan, saat ini sistem Yumina-Bumina berdasarkan lima sistem yakni sistem\r\nrasponik, sistem aliran bawah, sistem aliran atas, sistem pasang surut, dan\r\nsistem rakit. Komoditas yang dikembangkan selain nila adalah lele, patin, dan\r\nmas.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Sistem akuaponik ala rasponik dengan nila bahkan sudah Iqbal\r\nterapkan bersama komoditas lainnya, yaitu lele. Bahkan, hal yang menggembirakan\r\nbagi Iqbal, penerapan budidaya seperti ini memberikan laju sintasan yang sangat\r\nbaik dibanding budidaya sistem konvensional. “Baik nila atau lelenya, tingkat\r\nkematiannya sangat sangat rendah. Bahkan bisa saya katakan dibawah 1 %,” ujar\r\nIqbal.


Artikel Asli : Trobos Aqua

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan