Minapoli
Monitoring Kesehatan dan Pengelolaan Hama Penyakit Udang
Udang

Monitoring Kesehatan dan Pengelolaan Hama Penyakit Udang

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
6 menit baca

Udang yang sehat mampu tumbuh sesuai target pertumbuhan\r\nserta dapat dipanen pada umur budidaya yang telah ditetapkan. Ingin udang\r\nsehat ? Lakukan langkah-langkah berikut.Kesehatan udang ditentuk...

Udang yang sehat mampu tumbuh sesuai target pertumbuhan\r\nserta dapat dipanen pada umur budidaya yang telah ditetapkan. Ingin udang\r\nsehat ? Lakukan langkah-langkah berikut.

Kesehatan udang ditentukan oleh pengelolaan lingkungan yang\r\nbaik. Hal ini disebabkan media budidaya yang baik mampu menunjang pertumbuhan\r\nudang yang dibudidayakan. Monitoring kesehatan yang dilakukan secara kontinyu\r\nserta upaya mencegah timbulnya hama dan penyakit dalam usaha budidaya merupakan\r\nkunci menciptakan serta mempertahankan kesehatan udang. Selama lingkungan masih\r\nmampu mentoleransi beban polusi internal sebagai hasil degradasi input produksi\r\n(pupuk,obat, pakan dan feses udang), udang akan tetap dalam kondisi sehat.

Pada umumnya, serangan penyakit mulai terjadi pada bulan\r\nkedua pemeliharaan. Kunci manajemen kesehatan udang adalah pencegahan. Terapi\r\nudang dengan menggunakan obat-obatan merupakan langkah pencegahan dini agar\r\nvirulensi penyakit dapat dihambat bahkan rantai penyebaran dan serangan\r\npenyakit dapat dimusnahkan. Kemampuan mengendalikan faktor penyebab stres dan\r\nantisipasi yang tepat terhadap potensi serta gejala sakit tersebut menentukan\r\nkualitas dan kuantitas udang hingga masa panen.

Monitoring kesehatan udang

Pengamatan kesehatan udang sangat perlu dilakukan untuk\r\nmengetahui kondisi kesehatannya setiap hari. Pengamatan dilakukan dengan\r\nmengontrol udang di anco, yang bisa dianggap mewakili kondisi keseluruhan udang\r\ndi dalam kolam. Pengamatan dilakukan secara visual, baik terhadap udang maupun\r\nanco. Hal ini disebabkan anco merupakan miniatur dari lingkungan kolam. Selama\r\npengecekan diharapkan tidak terdapat udang yang mati di dalam anco. Banyaknya\r\nfeses udang di anco menunjukkan bahwa udang melakukan metabolisme dengan baik.\r\nSelain itu, pakan yang diberikan di anco termakan oleh udang dengan indikator\r\nbahwa jumlah pakan yang terdapat di anco berkurang atau habis pada saat\r\npengecekan.

Pengamatan terhadap kondisi organ-organ tubuh udang juga\r\nperlu dilakukan secara berkala, seperti kelengkapan antena, ekor, kaki renang,\r\nrostrum, dan warna tubuh. Sekecil apapun perubahan tubuh seperti adanya kaki\r\nyang patah, ekor gripis, antena patah, penyimpangan warna, atau warna yang\r\ntidak lazim dengan adanya titik-titik warna lain; segera lakukan antisipasi.

Udang yang sehat dicirikan dengan gerakan aktif mengelilingi\r\npetakan tambak dan meloncat bila anco diangkat serta memberikan respon positif\r\nterhadap arus, cahaya, bayangan dan sentuhan pada malam hari. Setelah berumur\r\nlebih dari 50 hari udang sering meloncat keluar petakan; tubuh berwarna putih\r\ncerah atau mengkilap dan titik-titik hitam yang jelas; tubuh bersih dan tidak ada\r\nkotoran atau lumut yang menempel; tubuh tidak lembek dan keropos; anggota tubuh\r\ntidak ada yang cacat; ujung ekor, kaki renang, kaki jalan tidak geripis dan\r\ntidak bengkok; ekor membuka dan lebar seperti kipas; insang jernih, bersih, dan\r\nterdapat gerakan seperti aliran air; dan kondisi isi usus terlihat penuh di\r\nbawah sinar, tidak terputus-putus.

Hasil dari pengamatan udang dapat dijadikan sebagai salah\r\nsatu acuan untuk memberikan perlakuan pada udang maupun media budidaya. Jika\r\npakan di anco tidak habis, tidak terdapat feses udang, serta isi usus udang\r\nterlihat putus-putus atau tidak penuh; lakukan evaluasi jumlah pakan berupa\r\npengurangan jumlah pakan. Jika terdapat udang yang mati, anggota tubuh udang\r\ntidak lengkap, dan gerakan udang lambat; lakukan pengamatan dasar kolam. Dasar\r\nkolam yang kotor karena tumpukan bahan organik sisa metabolisme atau dari\r\nsumber lain dapat dibersihkan dengan cara disifon atau dibuang melalui central\r\ndrain. Jika karapas udang lembek, lakukan perlakuan pada air, misalnya melakukan\r\npergantian air, pengapuran, atau penambahan bahan aditif lainnya.

Pengelolaan hama\r\ndan penyakit udang

Pengelolaan hama dan penyakit dilakukan dengan tindakan\r\npencegahan dan pengendalian. Tindakan pencegahan dilakukan agar hama dan\r\npenyakit tidak timbul dalam kegiatan usaha budidaya. Sementara tindakan\r\npengendalian merupakan serangkaian usaha untuk menghilangkan hama dan penyakit\r\nikan yang muncul dalam kegiatan usaha. Kehadiran hama dan penyakit ikan akan\r\nmengganggu bahkan dapat mengakibatkan kerugian yang besar serta mengancam\r\nkeberlanjutan usaha budidaya udang.

Pengendalian hama harus dilakukan sejak awal sampai akhir\r\nkegiatan budidaya, mulai dari tahap persiapan wadah sampai pemanenan.\r\nPengendalian dilakukan dengan cara mencegah dan memeriksa udang secara berkala.

Hama adalah segala hewan (organisme) yang ada di dalam\r\ntambak selain yang dibudidayakan dan dianggap merugikan, biasanya mengakibatkan\r\nhilangnya hewan budidaya karena proses makan-memakan (predasi), terjadi\r\npersaingan (kompetisi) dalam pemanfaatan ruang dan makanan, atau menimbulkan\r\nkerugian di bidang fasilitas. Dalam budidaya udang, hama di tambak digolongkan\r\nmenjadi empat, yaitu pemangsa (predator), penyaing (kompetitor), perusak\r\nsarana, dan pencuri. Hama predator akan memangsa udang yang dibudidayakan\r\nsehingga mengakibatkan turunnya populasi udang. Sementara hama penyaing akan\r\nmenyaingi udang dalam hal ruang gerak, perolehan oksigen, serta konsumsi pakan\r\nyang diberikan.

Teknik pencegahan dan pemberantasan hama dimulai sejak\r\npersiapan pemeliharaan sampai panen. Beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu\r\nmelakukan persiapan pemeliharaan dengan baik; pemberantasan manual dengan\r\nmelakukan patroli keliling; penyaringan air yang masuk (filter); penggunaan\r\ntandon pengendapan dan tandon perlakuan sebelum digunakan; pemasangan penghalau\r\nburung dengan tali senar yang melintang di atas permukaan air tambak atau\r\ndengan suara kincir angin atau alat lain yang dapat menimbulkan bunyi;\r\npemasangan pagar keliling areal tambak untuk untuk membatasi pergerakan manusia\r\ndan pengaruh hewan lain dari luar lingkungan budidaya; serta penggunaan\r\nobat-obatan organik, misalnya saponin 15 mg/liter untuk membunuh hama ikan\r\ndalam tambak.

Penyakit yang timbul pada udang vaname dapat disebabkan oleh\r\nvirus, bakteri, parasit, dan protozoa. Umumnya, penyakit tersebut memiliki\r\nvirulensi yang berbeda tergantung dari lingkungan dan ketahanan udang itu\r\nsendiri. Penyakit pada udang ada yang bersifat patogenik dan non-patogenik.\r\nPenyakit yang bersifat patogenik umumnya memiliki sifat patogen dengan tingkat\r\nkematian tinggi. Contoh penyakit patogenik antara lain Taura Syndrome\r\nVirus (TSV), White Spot Syndrome Virus (WSSV), IHHNV (Infection Hypodermal\r\nand Hematopoietic Necrosis Virus), IMNV (Infectious Myo\r\nNecrosis Virus), NHPB (Necrotizing Hepato Pancreatitis Bacteria), dan\r\nvibriosis. Sementara penyakit non-patogenik antara lain penyakit keropos pada\r\nudang, penyakit udang kram, usus dan hepatopankres abnormal, serta udang\r\nberenang abnormal.

Selama proses budidaya, pengelolaan air perlu dilakukan\r\ndengan baik sehingga udang dapat hidup dengan baik dan tidak mengalami stres.\r\nStres menyebabkan pembentukan antibodi pada udang terganggu. Jika pembentukan\r\nantibodi udang berlangsung dengan baik dan air media budidaya tetap dalam\r\nkondisi optimal sesuai kebutuhan udang, penyakit tidak akan timbul. Timbulnya\r\npenyakit disebabkan adanya interaksi antara inang, patogen dan lingkungan\r\nbudidaya. Jika udang dalam kondisi lemah, terdapat patogen yang ganas, serta\r\nkondisi lingkungan budidaya buruk; udang akan bisa mengalami kematian.

Rekomendasi untuk meminimalkan infeksi hama dan penyakit\r\npada budidaya udang yaitu menggunakan benih udang yang berkualitas, baik SPF\r\natau SPR; mendeteksi serta memonitor kesehatan udang secara rutin dan teratur;\r\nmenjaga kualitas air tetap stabil sehingga udang tidak mengalami stres;\r\nmengaplikasikan probiotik dan immunostimulan untuk meningkatkan imunitas udang\r\nterhadap serangan penyakit; serta menerapkan biosecurity.

Biosecurity adalah pengelolaan kawasan budidaya yang\r\ndilakukan sebagai upaya proteksi pada setiap tahapan budidaya untuk mencegah\r\ndan mengurangi penyakit masuk ke dalam kawasan budidaya serta mencegah\r\npenyebarannya ke tempat lain. Dengan begitu, biota yang dipelihara dapat tumbuh\r\ndengan optimal. Manfaat biosecurity adalah memperkecil kerugian dalam\r\noperasional budidaya karena terinfeksi penyakit, mengetahui secara dini adanya\r\nwabah penyakit, sehingga kegiatan selanjutnya dapat lebih cepat diantisipasi\r\ndan menekan kerugian yang lebih besar, apabila terjadi kasus wabah penyakit.

Prinsip penerapan biosecurity di pertambakan udang\r\nadalah mencegah masuknya penyakit atau jasad patogen ke dalam wilayah budidaya\r\nudang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun cara masuk patogen\r\nbisa lewat manusia, hewan, dan peralatan yang digunakan selama proses budidaya.

Untuk meminimalkan masuknya patogen tersebut perlu dibuat\r\nbeberapa sarana penunjang, misalnya alat pengusir burung (bird screening device)\r\nyang mampu menghasilkan bunyi–bunyian tertentu. Contoh lain adalah pagar\r\npenghambat kepiting masuk ke tambak (crab screening device),yang dibuat dari\r\nbahan plastik setinggi 40—50 cm, dibuat berjarak 1 meter dari pematang dan\r\nmengelilingi tambak. Tempat cuci kaki dan tangan juga perlu disediakan di pintu\r\nmasuk untuk meminimalkan patogen yang mungkin terbawa manusia yang akan masuk\r\nke wilayah tambak. Air tempat cuci kaki disterilkan dengan chlorine cair\r\natau kaporit dengan dosis 20—50 mg/l serta menyaring air masuk menggunakan\r\nsaringan 3 lapis.

Tindakan biosecurity pada air media dilakukan\r\ndengan menyaring air yang masuk dengan saringan multiple screening ukuran\r\n200—250 mikron, dengan tujuan mencegah masuknya karier penyakit dan predator.\r\nPengelolaan air tambak dimulai ketika memasukkan air untuk pertama kalinya dalam\r\ninfrastruktur budidaya, yaitu treatment pond (tandon), kanal\r\nsub-inlet, kanal distribusi, dan culture pond (tambak budidaya).

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Kualitas air yang akan digunakan untuk budidaya harus\r\ndiperhatikan; baik secara fisik, kimia, maupun mikrobiologi. Setelah masuk ke\r\ndalam fasilitas budidaya, air disterilisasi dengan crustacide, yaitu bahan\r\nkimia untuk membunuh larva crustacea yang lolos dari multiple\r\nscreening. Selanjutnya, air didiamkan selama 72 jam (aging) untuk\r\nmencegah free living virus menemukan sel inang baru. Air siap\r\ndigunakan setelah selesai aging dan tetap harus melalui multiple\r\nscreening.

Sumbe : Info Akuakultur

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan