Peningkatan\r\nkualitas indukan dan benur udang terus dilakukan dengan berbagai cara, termasuk\r\npenyebarannya perlu diperketat guna meminimalisir ancaman penyakit Dalam\r\nproses budidaya udang...
Peningkatan\r\nkualitas indukan dan benur udang terus dilakukan dengan berbagai cara, termasuk\r\npenyebarannya perlu diperketat guna meminimalisir ancaman penyakit
Dalam\r\nproses budidaya udang, benur yang berkualitas memegang peranan yang sangat\r\npenting. Benur merupakan sebutan untuk benih udang, baik itu udang vannamei,\r\nwindu (tiger prawn), margeunsis (jerbung), dan lain-lainnya. Dalam budidayanya,\r\nsemua dimulai dari unit pembenihan, perawatan larva dan pemeliharaan induk\r\nudang atau yang umum dikenal dikalangan pembudidaya sebagai hathcery.
Hatchery\r\nberfungsi memproduksi benur berkualitas dan juga berperan sebagai proteksi\r\nmasuknya suatu penyakit ke dalam negara yang melakukan budidaya udang. Lantas,\r\nbagaimana kondisi benur di dalam negeri dan apa upaya pelaku usaha hatchery\r\nlakukan untuk menghasilkan benur berkualitas?
Ditemui\r\ndalam kegiatan sarasehan Shrimp Club Indonesia (SCI) chapter Jawa Barat (Jabar)\r\ndan Banten, Suryana selaku Head Office hatchery udang PT Suri Tani Pemuka\r\nwilayah Indramayu, Jabar menyampaikan gambaran kondisi produksi benur dalam\r\nnegeri. Menurut Suryana, perkembangan benur di dalam negeri sangatlah pesat,\r\ndimana dulu kala banyak yang coba-coba membenihkan sediri, namun didapati\r\nhasilnya kurang memuaskan karena waktu pemeliharaannya yang lebih lama, dan\r\nkualitas benur yang mudah terserang penyakit.
Lalu,\r\nkatanya, sejak masuknya udang vannamei ke Indonesia, perkembangan usaha\r\npembenihan udang kini lebih baik. Hal ini karena beberapa perusahaan besar\r\nmulai berkontribusi ke arah sana, mendatangkan indukan dengan kualitas baik,\r\ndan juga menghasilkan benur yang baik.
Sumber\r\nIndukan
Menurut\r\nSuryana, hingga saat ini, perkembangan produksi benur semakin pesat\r\ndibandingkan dahulu pada saat ada yang mencoba-coba membenihkan sendiri. Sejak\r\nmasuknya vannamei ke Indonesia, ini dapat dilihat dari produsen-produsen benur\r\nyang berlomba-lomba untuk menghasilkan benur dengan kualitas terbaik. “Kita\r\nterus melakukan perbaikan-perbaikan (improvement), baik dari sisi daya tahan,\r\npertumbuhan cepat, dan lain-lain,” ungkap Suryana di sela-sela acara\r\ntersebut kepada TROBOS Aqua.
Ia\r\nmenjelaskan, dalam melakukan peningkatan kualitas benur ada beberapa hal yang\r\nperlu dilakukan. Pertama, sumber indukan yang berkualitas dimana bukan hanya\r\ndilihat dari kenampakan fisik induk vannamei yang bagus dan proposional saja,\r\nnamun perlu juga dilihat dari kesehatannya genetiknya, sehingga benar-benar\r\ndipastikan sehat dan bebas dari penyakit.
Senada\r\ndengan Suryana, Farshad Shishehchian selaku Chief Executive Officer Blue Aqua\r\nInternasional (produsen induk udang vannamei) ikut angkat bicara mengenai\r\npentingnya induk udang vannamei yang sehat. Dalam mengadakan induk atau calon\r\ninduk perlu disertai adanya surat keterangan bahwa induk atau calon induk\r\ntersebut bebas dari berbagai macam penyakit.
Hal\r\nini karena dengan demikian benur yang dihasilkan nantinya juga akan bebas dari\r\npenyakit yang kini banyak dikenal dengan istilah Specific Pathogen Free (SPF).\r\n“Kami mendatangkan calon induk dari Hawai yang merupakan hasil dari penelitian\r\nOcean Institute, Amerika Serikat (AS). Mereka melakukan pengembangan indukan\r\ndengan perkawinan-perkawinan silang induk vannamei yang berasal dari Hawai,\r\nSehingga didapati vannamei yang mempunyai pertumbuhan baik,” terang Farshad.
Bicara\r\nmengenai induk udang vannamei, Ricky Liduan Kho, yang namanya sudah tidak asing\r\nlagi sebagai petambak udang kawakan dari daerah Medan mengungkapkan, saat ini\r\nkita masih ketergantungan dengan induk vannamei asal Hawai. Kemudian, hingga\r\nsaat ini hanya ada satu perusahaan di sana yang menjadi penyuplai tunggal\r\nindukan ke Indonesia.
Jadi,\r\nlanjut Ricky, apabila kini ada perusahaan lain yang mencoba mendatangkan induk\r\nvannamei, haruslah benar-benar jelas asal usulnya. “Tidak hanya benur yang\r\nmemerlukan uji polymerase chain reaction (PCR), namun calon induk atau indukan\r\njuga wajib dilakukan tes tersebut sehingga dinyatakan SPF,” tegas Ricky.
Benur\r\nKunci
Benur\r\nyang dihasilkan hatchery, kata Ricky, merupakan salah satu kunci keberhasilan\r\ndalam proses budidaya udang. Mengenai upaya peningkatan kualitas benur ia\r\nmenyambut baik adanya upaya tersebut. Harapannya, bahwa hatchery harus\r\nbenar-benar melakukan sampling terhadap benur yang dihasilkan, dan memperketat\r\npengujian.
Hal\r\nini karena, ia sebagai petambak sangat merasakan betul apabila benur yang\r\ndihasilkan kurang baik. “Saya berharap peningkatan kualitas benur terus\r\nditingkatkan agar petambak dalam budidaya tidak merasakan kerugian dari benur\r\nyang kurang baik,” kata Ricky.
Selengkapnya\r\nbaca di majalah TROBOS Aqua Edisi-83/15 April – 14 Mei 2019
Artikel Asli
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
