Minapoli
Mengukur Bisnis Pakan Akuakultur
Mas

Mengukur Bisnis Pakan Akuakultur

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
4 menit baca

Tren bisnis pakan akuakultur terus tumbuh menopang\r\nperkembangan usaha budidaya perikanan nasionalLayaknya orang bercermin, pertumbuhan bisnis pakan\r\nakuakultur (budidaya perikanan) menunjukkan pe...

Tren bisnis pakan akuakultur terus tumbuh menopang\r\nperkembangan usaha budidaya perikanan nasional

Layaknya orang bercermin, pertumbuhan bisnis pakan\r\nakuakultur (budidaya perikanan) menunjukkan perkembangan bisnis akuakultur itu\r\nsendiri. Hal ini tak lain karena pakan merupakan punya peran besar dalam\r\nkeberhasilan budidaya perikanan. Faktanya pakan menentukan pertumbuhan ikan,\r\nefisiensi produksi, dan lebih dari 60 % biaya produksi adalah dari pakan. 


Ikan dapat hidup dengan pakan alamiahnya. Namun jika\r\ndiperlukan untuk ikan bertumbuh dengan target waktu tertentu (ADG/Average Daily\r\nGain) dan mencapai ukuran sesuai permintaan pasar  dengan standar baik,\r\nmaka tentunya pakan yang tersedia dari alam tidak mencukupi baik dari segi\r\nketersediaan volume maupun kecukupan protein, mineral, dan vitamin. Pakan\r\nbuatan dapat memenuhi kebutuhan ini sehingga sangat diperlukan dan penting\r\nuntuk menjamin keberlangsungan usaha akuakultur dan memenuhi permintaan\r\nkonsumen akan produk hasil budidaya. 

Tren Pertumbuhan

Lalu seberapa tumbuhkah bisnis pakan akuakultur selama ini?\r\nData GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak) Divisi Akuakultur menunjukkan,\r\nsepanjang 10 tahun terakhir daya serap pakan akuakultur nasional mengalami\r\ntren meningkat antara 3 sampai 5 % per tahun (lihat tabel). Fluktuasi produksi\r\npakan nasional lebih banyak terjadi pada komoditas udang, sementara pakan\r\nkomoditas ikan trennya terus meningkat dan ikut mendorong peningkatan pakan\r\nsecara total.

Ketua GPMT, Deny Mulyono mengungkapkan, pada 2018 total konsumsi\r\npakan akuakultur dari pabrik pakan anggota GPMT adalah sekitar 1.665.400 ton,\r\nangka ini meningkat dari 2017 yang sejumlah 1.555.939 ton. “Komoditas ikan\r\ntetap yang dominan tumbuh dengan jumlah konsumsi pakan 1.382.534 ton dan pakan\r\nudang sebesar  282.866 ton,” ungkap Deny kepada TROBOS Aqua. 

Ditambahkan Marketing Manager PT New Hope Aqua Feed\r\nIndonesia (anggota GPMT), Martin W Hutagalung, data dari semester 1 pada 2019\r\nmenunjukkan konsumsi pakan akuakultur nasional sebesar 887.983 ton. “Angka ini\r\nmasih berubah mengikuti daya serap pasar pakan nasional sampai akhir 2019,”\r\nujar Martin.

Lebih lanjut dijelaskan Deny, jenis komoditas pakan yang\r\nmendominasi masih untuk ikan lele, nila, mas, bandeng, patin, dan udang.\r\nSebaran pakan sekitar 70 % adalah di Pulau Jawa dan Sumatera, 30 % lainnya\r\ntersebar di Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa tenggara\r\nTimur, Papua, dan wilayah lainnya.

Martin ikut menjelaskan, ikan lele masih menjadi primadona\r\nbudidaya sejauh ini dengan komposisi pangsa pasar pakan sekitar 25 % dari total\r\nkonsumsi pakan akuakultur. Tumbuh pesatnya budidaya lele tentunya mengikuti\r\npertumbuhan permintaan konsumen akan ikan air tawar ini. “Usaha budidaya lele\r\nperputarannya cepat, pasarnya tumbuh karena harga ikan ini relatif terjangkau,”\r\nkata Martin.

Tak heran jika di bagai daerah mulai Pulau Sumatera, apalagi\r\nJawa, Bali, dan Kalimantan kian tumbuh sentra-sentra budidaya lele. “Ikan\r\nberkumis ini juga teknis pemeliharaannya relatif mudah tidak memerlukan lahan\r\nyang terlalu luas,” ujar Martin.

Setelah lele, menurut Martin, komoditas yang juga tumbuh\r\ncukup signifikan yaitu ikan nila dan patin. Ikan nila kini juga kian banyak\r\npenggemar atau konsumennya di berbagai daerah. Ikan ini direspon cukup baik\r\nuntuk pasar dalam dan luar negeri. Ikan ini cocok masuk dalam kelas hidangan\r\nmurah sampai mahal karena bisa di fillet (daging tanpa tulang).

Ikan nila kian jadi primadona pembudidaya di Keramba Jaring\r\nApung (KJA) perairan umum seperti danau dan waduk di berbagai daerah. Sementara\r\nikan mas cenderung stagnan karena pasarnya lebih terbatas di Sumatera dan Jawa\r\nbarat dan daya tahan budidayanya kalah baik dengan nila di perairan umum.

Sementara udang, kata Martin, daya serap pakannya cenderung\r\nfluktuatif. Apalagi pada 2017 sempat tertekan konsumsi pakan udang nasional.\r\nHal ini salah satunya dipengaruhi berhentinya produksi tambak integrasi besar\r\ndi Lampung. “Tapi setelah itu 2 tahun terakhir daya serap pakan udang mulai\r\npulih, hal ini didukung tumbuhnya sentra-sentra baru budidaya udang di daerah\r\nlainnya,” kata Martin.

Ia menambahkan, budidaya udang yang menggiurkan dari sisi\r\nmargin keuntungan meski juga punya potensi risiko besar, ditambah dukungan\r\nteknologi digitalisasi budidaya yang kian canggih menarik banyak investor baru.\r\nKaum milenial yang sudah banyak melek teknologi mulai banyak yang masuk\r\ndi bisnis budidaya udang dengan menerapkan teknologi baru dengan harapan bisa\r\nmenekan risiko budidaya.

Permintaan &\r\nPasokan

Pertumbuhan bisnis pakan akuakultur jelas mengikuti tren\r\npermintaan pasar atau pertumbuhan usaha budidaya itu sendiri. Head of Unit\r\nAquafeed PT Indojaya Agrinusa (produsen pakan akuakultur) Sumatera Utara,\r\nKhamizul Q. Harahap menilai, secara umum permintaan dan suplai pakan masih\r\nseimbang khususnya di wilayah seperti Pulau Jawa. Hal ini karena dominan pabrik\r\npakan terdapat di sana.

Namun, lanjut  Khamizul, di musim puncak budidaya\r\nbiasanya suplai ini akan kurang. Hal ini biasa terjadi di awal dan pertengahan\r\ntahun. Dimana biasanya kualitas dan kuantitas air cukup melimpah serta tingkat\r\nketersediaan benih juga tinggi. Sementara kebutuhan pakan di luar pulau Jawa\r\nmasih banyak yang tergantung dari suplai dari pabrik Pulau Jawa. Sehingga\r\nsuplai untuk kebutuhan pakan di luar Pulau Jawa terkadang tidak tercukupi.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

 

Artikel Asli: Trobos Aqua

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan