Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan\r\n(BBRBLPP) Gondol telah berhasil memproduksi benih abalon (Haliotis squamata).\r\nProyek budidaya kerang abalon yang dirintis para peneliti B...
Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan\r\n(BBRBLPP) Gondol telah berhasil memproduksi benih abalon (Haliotis squamata).\r\nProyek budidaya kerang abalon yang dirintis para peneliti BBRBLPP Gondol ini\r\nterbilang sukses. Pasalnya, hingga kini BBRBLPP mampu mempercepat periode panen\r\nabalon dibandingkan menggunakan teknik pengembangbiakan secara alamiah.
Kerang abalon yang dikembangkan BBRBLPP Gondol, indukan\r\nawalnya diambil dari perairan Bali, dengan karakteristik serupa dengan spesies\r\nabalon H. diversicolor yang hidup di perairan Taiwan.
“Budidaya abalon dari hulu ke hilir memakan waktu sampai 1,5\r\ntahun. Sedangkan jika dihitung dari ukuran benih 2,5cm hingga ukuran konsumsi\r\nsekitar 5-6cm, abalon baru bisa dipanen setelah 8 bulan pemeliharaan. Kita\r\nterus berusaha untuk memproduksi abalon dalam waktu yang jauh lebih singkat,\r\nnamun tetap berkualitas,” terang peneliti BBRBLPP Gondol, Ibnu Rusli.
Benih abalone hasil riset BBRBLPP, pada awalnya diproduksi\r\npada Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT) di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten\r\nBuleleng, Bali. Dari riset tersebut, selama dua bulan periode pemeliharaan,\r\ndapat dihasilkan benih abalon dengan panjang cangkang 0,8-1,1cm dan sintasan\r\n10-14 persen.
Pada pemeliharaan lanjutan atau pendederan, benih abalon\r\ndalam keranjang tertutup dengan sistem terapung selama 2,5 -3 bulan, diperoleh\r\nbenih abalon dengan panjang cangkang 2,5 – 3,0 cm dan sintasan mencapai 95-99\r\npersen.
“Melalui data tersebut, dapat diartikan bahwa budidaya\r\nabalon memiliki potensi yang tinggi. Penelitian kerang abalon ini dimulai dari\r\nkoleksi dan transportasi induk, pematangan gonad, pemijahan, pemeliharaan\r\nveliger dan juvenil abalon yang dilakukan dalam bak terkontrol. Sedangkan,\r\npembesaran abalon dilakukan dalam bak semen dan juga keramba apung,” jelas\r\nIbnu.
Dalam penelitiannya, sedikitnya terdapat 3 keuntungan dari\r\nteknologi budidaya abalon yang digalakkan BBRBLPP. Pertama, teknologi\r\nperbenihan abalon terbilang mudah dan sederhana untuk dilakukan oleh masyarakat\r\npembudidaya dan dapat dilakukan sepanjang tahun.
Kedua, produksi benih abalon tergolong efisien, ekonomis,\r\ndan layak dikembangkan karena dapat diterapkan secara terintegrasi di HSRT Ikan\r\nLaut sebagai alternatif usaha tambahan tanpa harus beralih profesi.
Ketiga, teknologi budidaya abalon sangat ramah lingkungan\r\nkarena tidak menggunakan bahan kimia atau disinfektan, hanya menggunakan\r\nmikroalga dan makroalga jenis Gracillaria sp. dan Ulva sp. sebagai pakan pada\r\nproses produksi benih sehingga tidak mencemari lingkungan. selain itu, cangkang\r\nabalon dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat perhiasan.
“Karena itulah, budidaya abalon dinilai Ibnu sangat\r\nmenjanjikan. Dalam hitungan kasar, biaya produksi/ekor benih abalon adalah\r\nsekitar 600 Rupiah. Sementara saat ini benih abalon untuk pendederan sudah\r\ndijual seharga 1.000 Rupiah untuk ukuran 1cm. Tak menutup kemungkinan\r\nkeuntungan tersebut dapat bertambah mengingat teknologi budidaya abalon dapat diintegrasikan\r\ndengan komoditas lainnya seperti kerapu,” tutur Ibnu.
Kepala BBRBLPP, Bambang Susanto, mengatakan bahwa alasan\r\ndikembangkannya abalon di BBRBLPP, karena teknologinya sudah dikuasai, dari\r\npembenihannya, pendederan, pembesarannya hingga sudah diaplikasikan ke\r\nmasyarakat.
Selain di Gondol, saat ini BBRBLPP juga tengah melakukan\r\ntransfer teknologi budidaya pembenihan abalon di wilayah Pangandaran, Jawa\r\nBarat serta di Maluku. Bahkan di Maluku, budidaya kerang abalon sudah mulai\r\ndirintis pihak swasta dengan basis pemberdayaan masyarakat.
“Masa depan budidaya kerang abalon sangat baik mengingat\r\nlahan yang cocok sangat luas. Terlebih pakan abalon terbilang mudah dan relatif\r\nmurah, berupa makroalga/rumput laut yang banyak di alam maupun dari hasil\r\nbudidaya," beber Susanto.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain untuk dikonsumsi, abalon juga memiliki nilai\r\nartistik. Karena kulit abalon dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat\r\nkerajinan. "Kita juga tengah memproduksi abalone dalam kemasan kaleng,\r\nsehingga pemasarannya tidak hanya merambah pasar lokal tapi juga manca negara,”\r\npapar Bambang.
Sumber : Tabloid Sinar Tani

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
