Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan\r\ndan Perikanan (KKP)melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT)\r\nSukabumi berhasil mengembangkan inovasi tepat guna yakni ...
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan\r\ndan Perikanan (KKP)melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT)\r\nSukabumi berhasil mengembangkan inovasi tepat guna yakni budidaya cacing sutera\r\n(Tubifex) dengan sistem apartment.
Inovasi teknologi tersebut diluncurkan oleh Menteri Kelautan\r\ndan Perikanan Edhy Prabowo bertepatan dengan pembukaan Rapat Kerja Teknis\r\n(Rakernis) Perikanan Budidaya di Palembang, pada Senin (27/1/2019).
Inovasi budidaya cacing sutera sistem apartment ini menjadi\r\njawaban atas permasalahan penyediaan pakan alami cacing sutera yang secara umum\r\nmasih tergantung dari hasil tangkapan alam.
Demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya,\r\nSlamet Soebjakto saat mendampingi Menteri Edhy pada Launching Budidaya Cacing\r\nSutera Sistem Apartment tersebut.
Menurut Slamet, kebutuhan cacing sutera terus meningkat di\r\nkalangan para pembenih ikan air tawar. Cacing Sutera, masih menjadi pakan alami\r\nyang paling efektif bagi benih ikan air tawar. Ini karena kandungan nutrisi\r\nyang terkandung dalam cacing sutera sangat tinggi terutama protein yang\r\nberkisar 57% - 60%.

"Ketersediaan cacing sutera sepanjang tahun menjadi\r\nkeniscayaan. Hingga saat ini memang pembenih masih menjadikan pakan alami ini\r\nsebagai andalan. Sementara kebutuhannya masih tergantung dari alam. Saya rasa\r\ninovasi sistem apartment ini menjadi solusi untuk menjamin suplai cacing sutera\r\nsesuai kebutuhan dan tersedia sepanjang tahun. Di sisi lain, tentu harga\r\nnantinya bisa terjangkau oleh para pembenih. Setelah launching ini, nanti akan\r\nkita siapkan bagaimana action plan nya agar dalam setahun ini, inovasi ini bisa\r\ncepat memasyarakat di sentral sentral perbenihan air tawar di Indonesia,"\r\njelas Slamet.
Saat dimintai keterangan, Kepala BBPBAT Sukabumi, Supriyadi\r\nmengemukakan bahwa sistem apartment memiliki berbagai keunggulan dibanding\r\nkonvensional, di antaranya : lahan yang digunakan lebih efisien karena wadah\r\nbudidaya yang dibuat vertikal; suplai cacing sutera dapat disediakan sesuai\r\nkebutuhan dan sepanjang tahun; kualitas yang lebih baik karena lebih bersih\r\ndari kontaminan cemaran di alam; serta produktivitas yang lebih tinggi\r\ndibanding konvensional.
Jika sistem konvensioal produktivitas hanya 0,5 liter per\r\nmeter persegi per bulan, maka produktivitas sistem apartment minimal 1,2 liter\r\nper meter persegi per bulan. Disamping itu, sistem ini menjadi alternatif usaha\r\nyang menjanjikan bagi masyarakat.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
"Sesuai arahan pak Dirjen, saat ini balai akan mulai\r\nmembuat beberapa percontohan di beberapa daerah. Ini dimaksudkan sebagai upaya\r\nmemperkenalkan inovasi ini di kalangan masyarakat, sehingga ke depan akan mampu\r\ndiadopsi secara massal, khususnya di sentral-sentral perbenihan," ungkap\r\nSupri.
Sumber: detik.com

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
