Minapoli
Manfaat Berlipat dari Budidaya Nila Sistem Bioflok
Mas

Manfaat Berlipat dari Budidaya Nila Sistem Bioflok

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
4 menit baca

Jakarta – Upaya Kementerian Kelautan\r\ndan Perikanan (KKP) mengembangkan teknologi bioflok untuk budidaya ikan nila\r\nsemakin dirasakan manfaatnya oleh pembudidaya ikan. Kini keberhasilan budidaya\r...

Jakarta – Upaya Kementerian Kelautan\r\ndan Perikanan (KKP) mengembangkan teknologi bioflok untuk budidaya ikan nila\r\nsemakin dirasakan manfaatnya oleh pembudidaya ikan. Kini keberhasilan budidaya\r\nyang mereka lakukan meningkat signifikan. Hal tersebut tampak dari kelangsungan\r\nhidup atau survival rate (SR) ikan mampu mencapai hingga 90%.

Selain\r\nitu, tingkat penggunaan pakan semakin efisien, dimana nilai feed conversion ratio (FCR) mampu mencapai 1,05 artinya untuk\r\nmenghasilkan 1 kg ikan nila hanya dibutuhkan 1,05 kg pakan. Angka ini menurun\r\ndrastis jika dibandingkan dengan pemeliharaan di kolam biasa dimana FCR-nya\r\nmencapai 1,5. Kepadatan juga meningkat tajam, yakni sebanyak 100 ekor/m3\r\natau 10 kali lipat dibandingkan dengan sistem konvensional hanya 10 ekor/m3.\r\n

Direktur\r\nJenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, mengungkapkan hal tersebut saat\r\ndimintai keterangannya di Jakarta, Kamis (9/5). Dengan keberhasilan ini, Slamet\r\nmeyakini bahwa pengembangan budidaya nila sistem bioflok merupakan salah satu\r\nterobosan untuk meningkatan produksi nila secara nasional maupun guna\r\nmeningkatkan pendapatan pembudidaya secara signifikan, namun tetap\r\nmengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan.

“Penerapan\r\nteknologi ini terbukti efektif dan efisien dalam penggunaan sumberdaya air dan\r\nlahan serta adaptif terhadap perubahan iklim. Sedangkan ikan nila sendiri\r\nmerupakan salah satu komoditas air tawar yang potensial untuk dikembangkan\r\nkarena tahan terhadap perubahan lingkungan, pertumbuhannya cepat serta lebih\r\nresisten terhadap penyakit. Jadi ini memang kombinasi yang sangat tepat” ujar\r\nSlamet.


“Ikan\r\nnila semakin diminati masyarakat sehingga permintaan pasar meningkat tinggi,\r\nselain untuk konsumsi lokal juga merupakan komoditas ekspor terutama ke Amerika\r\nSerikat dalam bentuk fillet. Oleh karena itu produktivitasnya harus dipacu\r\nterus-menerus”lanjut Slamet.

Slamet\r\njuga menjelaskan bahwa penguasaan teknologi budidaya nila bioflok kini terus\r\ndiperluas di berbagai daerah melalui unit pelaksana teknis (UPT) perikanan\r\nbudidaya.

“Teknologi\r\nbioflok di masyarakat akan terus dikawal UPT-UPT dan para penyuluh agar tidak\r\nkeliru menerapkannya, juga harus diterapkan secara benar sesuai kaidah-kaidah\r\ncara budidaya ikan yang baik seperti penggunaan benih unggul, pakan sesuai SNI,\r\nserta monitoring kualitas air budidaya”pesannya.

Slamet\r\nmeyakini teknologi ini juga mampu menjamin tersedianya sumber protein yang\r\nharganya terjangkau oleh sebagian besar masyarakat, guna memperbaiki gizi\r\nmasyarakat, selain dapat menyediakan lapangan kerja.

Sementara\r\nitu, Syamsul Bahari ketua kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Indra Makmur\r\nSukabumi, menuturkan bahwa selain keuntungan di atas, ikan nila yang\r\ndihasilkannya juga lebih gemuk dengan komposisi daging (karkas) lebih banyak\r\nserta kandungan air dalam daging lebih sedikit.

Lebih\r\nlanjut ia merinci biaya investasi yang dikeluarkannnya yakni untuk pembuatan\r\nkolam beton ukuran 15 m3 sebesar Rp. 2 juta dan pompa air Rp. 500 ribu.\r\nSedangkan biaya operasional untuk benih sebanyak 1.500 ekor, pakan 283,5 kg dan\r\nprobiotik dan molase sebanyak 3 liter, serta kebutuhan listrik, sehingga total\r\nbiaya operasional sebesar Rp. 3,9 juta.

Dengan\r\nperiode pemeliharaan selama 3 bulan produksi nila yang dapat diperolehnya\r\nmencapai sebanyak 270 kg, dengan ukuran panen 200 gr per ekor. Jika harga per\r\nekor Rp. 26 ribu maka pendapatan kotor sebesar Rp. 7 juta.

“Keuntungan\r\nbersih budidaya ikan nila sistem bioflok yang dapat saya peroleh dari setiap\r\nkolam mencapai Rp. 3,1 juta per siklus, saya memiliki 10 unit kolam dengan\r\nrincian 2 bak tandon dan 8 kolam budidaya sehingga pendapatan bersih selama\r\nperiode budidaya yang saya lakukan dapat mencapai Rp. 24,8 juta”, sambungnya.

Syamsul\r\njuga bercerita bahwa air media budidaya hanya sekali dimasukkan dalam wadah\r\nbudidaya dan dapat digunakan sampai panen, penambahan air hanya untuk mengganti\r\npenguapan dan pengontrolan kepadatan.

“Dengan\r\nbudidaya nila sistem bioflok ini menjadi sumber pendapatan keluarga bagi\r\npembudidaya dan pihak-pihak lain yang terkait dengan usaha ini, karena hasilnya\r\ndapat dijual ke usaha perdagangan ikan, rumah makan, jasa rekreasi pemancingan,\r\npengolahan fillet dan lainnya”, tambah Syamsul.

\r\n\r\n
Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan