Meskipun harga pakan khusus udang relatif mahal, tetapi\r\nuntung budidaya udang memang nyata gurihnya. Apalagi, ada aplikasi pakan\r\nfermentasi yang bisa membuat pakan lebih bergizi. “Biasanya, kand...
Meskipun harga pakan khusus udang relatif mahal, tetapi\r\nuntung budidaya udang memang nyata gurihnya. Apalagi, ada aplikasi pakan\r\nfermentasi yang bisa membuat pakan lebih bergizi. “Biasanya, kandungan protein\r\npakan yang telah difermentasi akan naik. Misal, bekatul dianalisis total\r\nsugar-nya sebagai gambaran jumlah karbohidrat yang ada. Semula, kadar total\r\nsugar 13,27% dan protein 0,31%. Setelah fermentasi, TS turun menjadi 8,32%\r\ndan protein naik menjadi 2,13%,” terang Agnes Heratri, Direktur CV\r\nPradipta Paramita.
Menurut Agnes, pakan fermentasi adalah pakan yang sebelum\r\ndiberikan ke udang atau ikan sudah difermentasikan terlebih dahulu. Dengan\r\nbegitu, bahan-bahan di dalam pakan akan dibantu pemecahannya oleh enzim yang\r\ndihasilkan oleh mikroba atau probiotik, yang digunakan saat fermentasi.
Baca juga: Efisiensi Pakan dengan Fermentasi dan Penggunaan Pupuk Organik Cair
Sebagai contoh, biji jagung terbagi menjadi bagian yang\r\nmudah dipecah dan sulit dipecah. Bagian yang sulit dipecah\r\ndisebabkan—misalnya—mengandung banyak lignin, selulosa, hemiselulosa, atau\r\nbahan lain penyusun serat kasar. Dalam sistem pencernaan, bahan-bahan yang\r\nsulit dipecah tersebut akan dibuang melalui feses, meskipun masih terdapat\r\nnutrisi yang bisa digunakan. Disebabkan waktu pencernaan terbatas, bahan yang\r\nsusah dicerna akan dibuang.
TDN naik, FCR turun
Fermentasi membantu pemecahan bahan-bahan yang terdapat\r\ndalam pakan secara enzimatis. Bahan penyusun material pakan yang tidak atau\r\nsulit terurai dalam saluran pencernaan menjadi lebih banyak yang terurai.\r\nDengan begitu, bahan pakan yang dicerna tubuh menjadi lebih banyak dan\r\nefisiensi penyerapan pakan juga naik. Semakin banyak nutrisi yang bisa diserap\r\ntubuh menyebabkan TDN (total digestible nutrient) naik.
“Naiknya TDN jelas akan meningkatkan hasil produksi. Jika\r\nsebelumnya banyak nutrisi yang terbuang, kini nutrisi diserap dan terkonversi\r\nmenjadi daging. Feed Convertion Ratio (FCR) pun menurun. Pasalnya,\r\njumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram produk menjadi\r\nlebih sedikit,” urai Agnes.
Pendapat senada juga diungkapkan Sales Excecutive PT.\r\nIndonesia Evergreenfeed area Jateng Selatan, Andi Prasetya. Menurutnya,\r\nfermentasi mengadopsi sistem lambung yang anaerob. “Seperti lambung kita, tidak\r\npunya jendela. Pakan diperam atau dibuat tape dengan bantuan bakteri yang bisa\r\nmenghasilkan enzim protease, lipase, dan amilase,” tuturnya.
Dalam proses fermentasi, pakan sudah ‘dicerna’ di luar\r\nsehingga kerja lambung udang menjadi lebih ringan untuk memproses protein dan\r\nunsur lain yang terkandung dalam pakan.
Baca juga: Fermented Protein Could Be The Path to Sustainable Aquaculture
Lambung selamat dari asupan bahan nabati yang ada dalam\r\npakan, sedangkan nutrien yang sudah jadi—seperti asam amino essensial, glukosa,\r\ndan asam lemak langsung—bisa diserap udang.
“Pakan yang difermentasi tidak menjadi racun, rusak, atau\r\nmengembang meskipun sudah 3 hari tidak dikonsumsi dan masih berada di badan\r\nair. Pakan lebih ulet dan tidak mudah hancur. Efek proses fermentasi membuat\r\ntekstur pakan menjadi tidak cepat hancur di dalam air,” lanjut Andi.
Udang Lebih Sehat
Garry Chrisnata, Direktur PT. Universal Sinergi Dinamika\r\nmengungkapkan bahwa pemberian pakan fermentasi memperbaiki dan meningkatkan\r\nsistem imun atau kekebalan tubuh udang terhadap virus penyebab penyakit.\r\n“Dengan penggunaan pakan fermentasi angka kematian bisa diturunkan antara\r\n30—50%,” ujarnya.
Sementara itu, Ibnu Sahidir, Perekayasa di Balai\r\nPerikanan Besar Air Payau (BPBAP) Ujung Batee Aceh, mengatakan bahwa\r\npeningkatan kandungan vitamin hasil metabolisme mikroba dalam pakan fermentasi\r\njuga berfungsi sebagai probiotik di usus.
Persentase protein pakan akan meningkat serta\r\nbiovailabilitas mineral juga ikut meningkat meningkat. Pakan fermentasi\r\nmemperbaiki kesehatan usus dan kekebalan tubuh udang, sedangkan limbah padat\r\nyang dihasilkan menjadi lebih sedikit.
“Beberapa spesies probiotik yang biasa digunakan untuk\r\nfermentasi mampu menghasilkan zat autoimun dan mampu menghasilkan nutrisi\r\ntambahan.
Beli probiotik disini!
Sebagai contoh, Bacillus mampu memberikan dampak\r\nmeningkatkan kekebalan tuhuh dengan meningkatnya sistem imun dan menghasilkan\r\nvit B12. Sementara Lactobacillus mampu menghambat serangan\r\ninfeksi E. Coli dan Salmonella sehingga udang lebih tahan\r\nterhadap infeksi saluran pencernaan,” ungkap Agnes.
Protein pakan mengandung unsur (N) yang akan terurai oleh\r\nbakteri nitrosomonas menjadi amoniak. Selanjutnya, bakteri nitrobacter merubah\r\nnitrogen menjadi nitrit, sedangkan azotobacter merubah nitrit menjadi nitrat.\r\nNitrat yang dihasilkan akan menyuburkan plankton.
Macetnya proses nitrifikasi menghasilkan nitrit yang\r\nberacun. Seiring dengan naiknya pH dan suhu, keseimbangan bergeser sehingga\r\nammonium berubah menjadi amoniak yang beracun bagi udang.
Bakteri anaerob merombak unsur N dalam pakan yang sudah\r\ndifermentasi langsung ke asam amino esensial. Inilah jalan pintas reaksi\r\nnitrifikasi tanpa melalui proses menghasilkan nitrit. Dengan begitu, usus udang\r\ndapat diusahakan aman dari kerusakan, yang kebanyakan menimbulkan kasus white\r\nfeses disease (WFD). Hal ini disebabkan total nutrisi bisa dimanfaatkan\r\noleh udang.
“Disebabkan jumlah pakan yang terserap tubuh lebih tinggi,\r\nsisa nutrisi yang terbuang dalam feses menjadi lebih sedikit. Dengan begitu,\r\nbeban cemaran organik TOM (Total Organik Matter) menjadi lebih kecil.\r\nBeban cemaran air lebih sedikit, ekosistem kolam makin sehat dan kualitas air\r\nsemakin bagus,” tambah Andi.
Baik—Buruk Aplikasi Fermentasi
Bukannya tanpa risiko, aplikasi pakan fermentasi juga\r\nmemiliki beberapa kelemahan. Selain dari bertambahnya anggaran untuk pembelian\r\nprobiotik, beberapa metode fermentasi dirasakan kurang praktis sehingga\r\naplikasinya terasa merepotkan.
Tak hanya itu, Ibnu Sahidir juga mengungkapkan bahwa energi\r\npakan menurun akibat dimanfaatkan oleh mikroba. Selain itu, pakan rentan\r\nterkontaminasi mikroba patogen saat proses fermentasi sehingga menghasilkan\r\nracun. “Water stability pakan menurun dan zat terlarut mudah mengalami\r\npelarutan atau leaching ke air,” ungkapnya.
Dalam fermentasi pakan, petambak perlu memahami bahwa\r\nprobiotik akan aktif dan hidup untuk memecah bahan pada media yang basah. Oleh\r\nsebab itu, sebelum ‘memeram’ pakan, tambahkan air terlebih dulu.
Baca juga: Kombinasi Tepung Bayam dan Taoge Substitusi Tepung Kedelai
Selanjutnya, taburkan tepung probiotik dan aduk hingga rata.\r\nJika probiotik yang digunakan dalam bentuk cair, encerkan terlebih dulu\r\nprobiotik dengan air yang bersih agar dengan mudah tercampur merata. Air\r\njuga memberikan kelembapan pada pakan yang akan difermentasi. Selanjutnya,\r\npakan yang sudah dicampur dengan probiotik dan lembap di-inkubasi dalam waktu\r\n1—2 hari.Mengapa 1—2 hari?
“Bila lebih, hasilnya akan berbeda,” terang Agnes.
Menurutnya, bentuk fisik pakan yang terfermentasi\r\nberhubungan dengan kadar air dan waktu fermentasi. Pakan yang terlalu basah dan\r\ndifermentasi dalam waktu lebih lama akan membentuk jaringan hifa atau miselium\r\njamur sehingga akan membentuk gumpalan.
Sementara bentuk pakan yang tidak terlalu basah dan\r\ndifermentasi pada umur fermentasi 1—2 hari hampir sama dengan pakan\r\nnonfermentasi, tetapi lebih basah dan beraroma lebih harum.
Larutan Fermentasi Alternatif
Hal yang perlu dipahami dalam proses fermentasi pakan bahwa\r\nberbeda probiotik menyebabkan bahan pakan yang dipecahkan juga bisa berbeda.
Otomatis, hasil akhirnya pun berbeda. Oleh sebab itu,\r\npenggunaan mikroba atau probiotik harus tepat agar hasil fermentasi maksimal\r\nsesuai dengan harapan.
Sedikit berbeda dengan aplikasi fermentasi pakan sebelumnya,\r\npemberian larutan fermentasi justru tidak mengharuskan pemeraman pakan.\r\nPemberian pakan ke udang atau ikan justru dilakukan segera setelah pakan\r\ndicampur larutan fermentasi.
Hasil penelitian yang dilakukan Romi Novriadi, Staff\r\nDirektorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan\r\nPerikanan, menunjukkan tingkat perbaikan kualitas pakan, diukur dari laju\r\npertumbuhan, rasio konversi pakan, tingkat kelulushidupan, tingkat konsumsi\r\npakan, dan Thermal Growth Coefficient (TGC).
Penelitian ini ini dilakukan dengan cara pelapisan pakan\r\ndengan larutan BF, campuran fermentasi hasil akitivitas Lactobacillus spp\r\ndan Bacillus spp. Proses coating dilakukan dengan\r\nmelarutkan serbuk BF dan molase ke dalam air tawar.
Baca juga: Using a Probiotic Mixture is More Effective Alone
Campuran ini diaerasi selama 8—12 jam. Selanjutnya, larutan\r\nBF dicampur dalam pakan dan diaduk rata dengan mixer selama 15 menit.\r\nPakan yang telah tercampur rata kemudian dikeringanginkan dan segera diberikan\r\nkepada udang.
Hasil percobaan menunjukkan penggunaan larutan fermentasi\r\n(BF) memberikan pengaruh signifikan terhadap berat akhir udang, rasio konversi\r\npakan (FCR), tingkat kelulushidupan, dan populasi bakteri Vibrio spp\r\ndalam saluran pencernaan.
Secara statistik, penggunaan larutan BF dengan konsentrasi\r\n1% memberikan hasil pertambahan berat yang lebih besar dibandingkan perlakuan\r\nBF dengan dosis 0,5 % atau tanpa pemberian larutan BF.
Rasio konversi pakan dengan suplementasi BF 1 % juga lebih\r\nrendah dibandingkan 0,5 % BF dan pakan control. Komposisi bakteri Vibrio spp\r\npada perlakuan 1 dan 2 % BF juga memberikan jumlah total Vibrio spp\r\nyang lebih kecil dibandingkan 0,5 % BF dan kontrol. Sementara pada akhir masa\r\npercobaan, tingkat kelulushidupan udang dengan perlakuan 1% dan 2% BF lebih\r\nbaik dibandingkan 0,5 % dan kontrol.
Menurut Romi, enzim pencernaan pada udang—termasuk\r\nvaname—umumnya disintesis di F-cells (fibrillar cells) dan terakumulasi di\r\nB-cells (blister-like cells). Hepatopankreas sebagai organ sekretori utama\r\nmengeluarkan enzim pencernaan yang meliputi protease, enzim lipolitik,\r\nkitinase, selulase, laminarinase, α/β-glukosidase, dan α-amilase sehingga\r\nberbagai bahan penyusun pakan—termasuk selulosa—dari dinding sel tumbuhan,\r\nlaminarin dari alga cokelat, dan non-starch polysaccharides lainnya dapat lebih\r\nmudah dicerna.
“Penambahan larutan fermentasi Lactobacillus spp dan\r\nBacillus spp dengan menggunakan molase sebagai substrat memperkuat reaksi enzim\r\nini, sekaligus mempercepat proses degradasi makro-nutrien menjadi partikel yang\r\nlebih mudah diserap.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Nutrien yang lebih mudah diserap dan kondisi kesehatan\r\npencernaan yang lebih baik menjadikan udang yang diberi pakan perlakuan\r\nmemiliki karakter pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan yang lebih baik,”\r\nterang Romi.
Artikel Asli : Info Akuakultur
Tentang Minapoli
Minapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
