Minapoli
Lapisan Tanah pada Tambak yang Perlu Anda Perhatikan
Mas

Lapisan Tanah pada Tambak yang Perlu Anda Perhatikan

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
6 menit baca

Tambak merupakan salah satu wadah akuakultur yang umumnya\r\ndigunakan untuk budidaya udang. Penggunaan tambak sendiri biasanya berada di\r\ndaerah pesisir yang dekat dengan laut, sehingga air yang di...

Tambak merupakan salah satu wadah akuakultur yang umumnya\r\ndigunakan untuk budidaya udang. Penggunaan tambak sendiri biasanya berada di\r\ndaerah pesisir yang dekat dengan laut, sehingga air yang digunakan pun adalah\r\nair payau atau air laut itu sendiri. Di dalam tambak udang biasanya terdapat\r\nsuatu lapisan tanah yang mengendap di dasar kolam. Hal ini perlu diperhatikan\r\nsehingga pembudidaya dapat melakukan pengelolaan tanah pada tambak udang.


Udang pada dasarnya termasuk ke dalam hewan yang hidup di\r\ndasar perairan, sehingga memerhatikan kualitas air saja tidak cukup. Sebagai\r\npembudidaya tentu perlu mengetahui dan mengerti mengenai kandungan serta\r\nlapisan-lapisan tanah dari tambak sehingga kita dapat mencegah kematian serta\r\nmemantau pertumbuhan dari udang yang dibudidayakan. Selain itu kesuburan tanah\r\njuga akan menentukan kesuburan seluruh kolam budidaya, karena pertukaran\r\nsubstansi di dalamnya akan memengaruhi kualitas air secara langsung.


Tanah sebagai tempat\r\npertukaran senyawa penting

Dalam tambak terdapat produk hasil dekomposisi aerobik\r\n(pakan) antara lain karbon dioksida, air, amonia, dan nutrien lain. Sedangkan\r\npada lapisan sedimen anaerobik, terdapat beberapa mikroorganisme yang menguraikan\r\nbahan organik dengan reaksi fermentasi, sehingga menghasilkan alkohol, keton,\r\naldehida, dan senyawa organik lainnya sebagai hasil metabolisme.


Beberapa hasil metabolisme tersebut khususnya H2S, nitrit\r\ndan senyawa organik tertentu dapat masuk ke air dan berpotensi menjadi racun\r\nbagi udang anda. Lapisan oksigen pada permukaan sedimen tanah tambak mencegah masuknya\r\nsebagian besar hasil metabolisme yang beracun ke dalam air tambak. Ini dikarenakan\r\nmereka dioksidasi menjadi bentuk yang tak beracun melalui aktivitas biologi ketika\r\nmelewati lapisan aerobik atau disebut juga sebagai nitrifikasi.


Baca juga: 8 Langkah Persiapan Tambak Udang yang Baik dan Benar


Tingkat kesuburan tanah dasar tambak udang, mampu menentukan\r\nkesuburan tambak secara keseluruhan. Tanah sebagai central soil harus mampu\r\nberfungsi optimal sehingga proses dekomposisi dan pertukaran nutrien dapat\r\nberlangsung sempurna, untuk mendukung produktivitas tambak udang itu sendiri.\r\nMeskipun manajemen kualitas air dianggap salah satu faktor budidaya paling\r\npenting, tetapi banyak bukti bahwa kondisi dasar tambak dan pertukaran\r\nsubstansi antara tanah dan air sangat berpengaruh terhadap kualitas air (Boyd,\r\n1995a,b).


Bahan organik pada\r\ndasar tambak

Bahan organik yang terakumulasi dalam dasar tambak dengan\r\nvolume yang berlebihan juga akan berpengaruh tidak baik bagi tambak. Tanah\r\nsebagai dasar utama tambak dapat menampung bahan organik dari konsentrasi\r\n0%‒100%. Bahan organik dalam tanah sedimen tambak terdiri dari 48‒58% karbon\r\n(Nelson & Sommers, 1982). Sedangkan konsentrasi karbon organiknya 1,9 kali\r\nbahan organik dalam permukaan tanah (Nelson & Sommers, 1982).


Bahan organik tanah yang tidak jenuh dalam waktu yang lama\r\nmampu mengandung karbon organik sampai dengan 20% dari berat keringnya (Soil\r\nSurvey Staff, 1990). Sedangkan materi tanah yang jenuh dengan air, bahan\r\norganiknya lebih sedikit mengandung karbon organik. Secara umum, tanah\r\nterklasifikasi sebagai tanah organik jika di atas lapisan 80 cm masih banyak\r\nmengandung materi organik (Gambar 1).


\r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n \r\n\r\n \r\n

Faktor yang\r\nmempengaruhi bahan organik pada tambak

Banyak faktor yang berpengaruh terhadap konsentrasi bahan\r\norganik dalam dasar tambak. Tidak hanya kualitas sumber air, mangrove, dan\r\nkepadatan biota budidaya, manajemen pemberian pakan juga sangat berpengaruh terhadap\r\nnutrien dan bahan organik tambak. Pakan yang diberikan pada tambak udang sistem\r\nintensif, hanya 17% yang dapat dimanfaatkan oleh biotanya sebagai nutrisi,\r\nselebihnya terbuang ke alam dalam bentuk pakan tak termakan dan sisa\r\nmetabolisme biota (Primavera, 1994).


Hasil buangan berupa pakan tak termakan dan hasil\r\nmetabolisme biota dapat mengalami dekomposisi dan akan menghasilkan bahan\r\norganik yang berbahaya bagi biota budidaya dan lingkungannya. Karena salah satu\r\nhasil sederhana dari dekomposisi oleh aktivitas bakteri tanah adalah unsur\r\nnitrogen, yang dapat berupa NH4+, NH3-, NO2, NO3, maupun N2.


Baca juga: Pentingnya Biosekuriti Tambak Udang


Selain itu, keberadaan bahan organik di tambak juga dapat\r\ndipengaruhi oleh pengambilan (crop) tanah dasar sehingga berpengaruh terhadap\r\nkeberadaan aktivitas mikroba; saat pengairan air, terdapat sedimen luar yang\r\nterbawa ke dalam kolam/tambak; dan kemampuan dekomposisi bahan organik dalam\r\ntanah (Boyd, 1992).


Kandungan C-organik pada tambak dengan sistem intensif,\r\nsangat terpenagruh oleh tingginya aktivitas budidaya di dalamnya. Obat-obatan,\r\nkandungan pakan yang kompleks, penanganan yang terlalu intensif, dan kegiatan\r\nlainnya yang biasa diterapkan pada tambak intensif mampu berpengaruh terhadap\r\nkeberadaan kondisi alam tambak sehingga bahan organik juga akan beragam\r\nkondisinya.


Lapisan tanah tambak mengandung berbagai macam kandungan, tergantung pada sistem\r\nbudidaya udang yang diterapkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh\r\nHastuti et al. (2011) membahas\r\nkandungan-kandungan dalam tanah sesuai dengan sistem budidaya udang yaitu\r\ntradisional, semi intensif, intensif.


\r\n \r\n

Tekstur tanah\r\nberdasarkan sistem budidaya


\r\n \r\n

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap parameter fisika\r\nsedimen tanah dasar tambak, diperoleh tekstur yang berbeda-beda dari setiap\r\nsistem budidaya udang. Pada penelitian ini, sistem budidaya tradisional\r\nteksturnya tidak terlalu mengalami perubahan, karena tidak adanya penambahan\r\npakan tambahan yang masuk ke dalam tambak sehingga tidak ada sedimentasi yang\r\nberarti.


Untuk sistem semi intensif, secara konstan cukup mengalami\r\nperubahan selama 120 hari pemeliharaan sehingga menghasilkan tekstur dasar\r\ntanah yang beragam. Komponen debu yang berukuran halus cenderung berada pada\r\nlapisan paling bawah yaitu lapisan 10‒15 cm, selebihnya tekstur sedimennya\r\nberupa liat.


Pada hari ke-0 smpai ke-30 tekstur tanah dasar tambak sistem\r\nintensif adalah lempung liat berpasir, namun setelah hari ke-90 berubah menjadi\r\nliat dan pada hari ke-120 berubah menjadi berliat sangat halus.


Konsentrasi senyawa\r\npada lapisan tanah tambak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada semua sistem tambak\r\nyang digunakan (tradisional, semi intensif, dan intensif) nilai konsentrasi\r\nC-organik dan N-organik rata-rata terletak pada lapisan paling bawah yaitu\r\nlapisan 10‒15 cm (Tabel 2).


Baca juga: Efisiensi Pakan dengan Fermentasi dan Penggunaan Pupuk Organik Cair


Fakta ini menunjukkan bahwa diperlukan manajemen tambak yang\r\nbaik (khususnya pada pakan) sangat berpengaruh terhadap masukan, dekomposisi\r\nserta keberadaan bahan organik dalam sedimen tambak. Pada tambak, peningkatan\r\nbahan organik biasanya terdapat pada lapisan atas yaitu 0‒5 cm (Boyd, 1992).\r\nHal ini dimungkinkan, karena lapisan atas sedimen atau dasar tanah tambak\r\nadalah lapisan yang paling produktif. Bahkan tidak menutup kemungkinan lapisan\r\nini masih sering dalam kondisi aerob.


Bahan organik dan\r\nkesuburan tanah

Mikroorganisme dalam kehidupannya membutuhkan berbagai macam\r\nnutrien dan banyak nutrien tersebut berupa bahan organik. Bahan organik dalam\r\ntanah dasar tambak dapat bermanfaat untuk menghasilkan kualitas tanah yang\r\nsubur adalah C/N rasio. C/N rasio pada dasarnya adalah parameter perbandingan\r\nC-organik dan N-organik dalam tanah untuk mengetahui tingkat kesuburanny tanah.


\r\n

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam SNI rasio C/N kompos yang diijinkan adalah 10–20,\r\nsedangkan di dalam KepMenTan rasio C/N kompos yang diijinkan berkisar antara\r\n20. Pada penelitian ini disebutkan bahwa rasio C/N pada tiga sistem tambak\r\nbudidaya (tradisional, semi intensif, dan intensif) sudah lebih dari sepuluh.\r\nHal itu berarti tanah yang dimiliki tiga tambak dan daerah mangrove tersebut\r\nsudah termasuk subur.


Dibuat oleh Tim Minapoli

Sumber:

Hastuti YP, Novita L, Widiyanto T, RUsmana I. 2011. Profil bahan organic dalam berbagai kedalam tanah dasar Tambak Inti Rakyat, Karawang. Jurnal Akuakultur Indoensia. 10(2): 183-191

Boyd CE. 1992. Shrimp Pond Bottom Soil and Sediment Management. Alabama, USA: Alabama Agricultural Experiment Station. Auburn University

Primavera JH. 1994. Shrimp Farming in the Asia-Pacific: Environment and Trade Issues and Regional Cooperation. http://oldsite.nautilus.org/archives/papers/enviro/trade/shrimp.html

[Soil Survey Staff]. 1990. Keys to Soil Taxonomy. Virginia, USA: Virginia Polytechnic Institute and State University, SMSS Technical Monograph No. 19, Blacksburn.


Tentang Minapoli

Minapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis akuakultur terintegrasi. Dengan memanfaatkan teknologi, pembudidaya dapat menemukan produk akuakultur dengan mudah dan menghemat waktu di Minapoli. Platform ini menyediakan produk-produk akuakultur dengan penawaran harga terbaik dari supplier yang terpercaya. Selain itu, bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pembudidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.


Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan