Minapoli
Komoditas Udang Nasional Diprediksi Mampu Dongkrak Ekspor Perikanan Indonesia
Mas

Komoditas Udang Nasional Diprediksi Mampu Dongkrak Ekspor Perikanan Indonesia

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
5 menit baca

Pemerintah Indonesia melalui\r\nKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya mendongkrak peningkatan\r\nekspor produk perikanan Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mencapai target\r\nekspor ...

Pemerintah Indonesia melalui\r\nKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya mendongkrak peningkatan\r\nekspor produk perikanan Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mencapai target\r\nekspor produk perikanan Indonesia tahun 2018 yang ditetapkan mencapai nilai\r\nUSD5 miliar. Udang dinilai sebagai salah satu komoditas perikanan paling\r\npotensial untuk dikembangkan. Untuk itu, KKP menggelar Marine and Fisheries\r\nBusiness and Investment Forum dengan tema "Mendorong Ekspor Perikanan\r\nIndonesia Melalui Peningkatan Investasi Udang Nasional" di Kantor KKP,\r\nJakarta, Selasa (11/12).

Dalam kegiatan tersebut, Direktur\r\nJenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Rifky\r\nEffendi Hardijanto mengatakan, terdapat enam komoditi perikanan yang diharapkan\r\nmampu memacu nilai ekspor perikanan Indonesia, yaitu udang; tuna; kepiting\r\n& rajungan; gurita; dan rumput laut; serta cakalang & tongkol. Namun\r\nudang dinilai sebagai pilar utama ekspor produk perikanan Indonesia karena pada\r\nperiode Januari-Oktober 2018 saja, nilai ekspor udang sudah mencapai USD1,5\r\nmiliar.

Menurut Rifky, pasar utama udang\r\nIndonesia adalah pantai timur Amerika. Sedangkan pantai barat Amerika masih\r\ndikuasai pemasok dari India. Begitu pula dengan pasar Eropa yang belum dapat\r\ndioptimalkan untuk pemasaran produk perikanan Indonesia.

“Amerika marketnya in general, market\r\nleadernya adalah india, kita nomor 2. Di Eropa lebih parah lagi, size marketnya\r\nkurang lebih sama dengan amerika yaitu 6 koma sekian miliar dollar setahun,\r\ntapi Indonesia hanya nomor belasan, tidak masuk 10 besar. Di Eropa, dari market\r\n6 koma sekian miliar dollar itu, kontribusi kita hanya sekitar USD84 juta. Jadi\r\nkecil sekali,” papar Rifky mengawali sambutannya pada forum yang dihadiri\r\nKementerian/Lembaga terkait, pelaku usaha perikanan, jasa logistik, serta jasa\r\nkeuangan & asosiasi perikanan/jasa logistik tersebut.

Padahal menurut Rifky, secara umum\r\nkebutuhan udang dunia masih belum dapat dipenuhi pemasok-pemasok yang ada,\r\nsehingga ini merupakan kesempatan Indonesia untuk mengoptimalkan pemasaran\r\nhasil penangkapan atau budidaya udang Indonesia. Utamanya dengan mengoptimalkan\r\npenggunaan teknologi penangkapan atau budidaya dan pemberdayaan ahli-ahli\r\nperikanan Indonesia.

“Potensi udang ini masih besar dan\r\nternyata UPI (Unit Pengolahan Ikan) udang itu baru beroperasi di kisaran 60\r\npersen. Dan ketika saya ngobrol dengan eksportir-eksportir udang, mereka\r\n(mengaku) kekurangan bahan baku. Artinya yang harus kita dorong adalah sektor\r\nhulu, produsen udangnya. Tambaknya ini yang harus kita perbanyak. Jadi kita\r\ndorong intensifikasi dan penggunaan teknologi kolam bioflok udang,” lanjut\r\nRifky.

Sebenarnya industri pertambakan udang\r\nIndonesia pernah berjaya di tahun 1980-an. Namun karena berbagai faktor seperti\r\nfaktor teknis, finansial, politik, dan sebagainya, banyak industri pertambakan\r\nudang kemudian mati. Menurut Rifky, sudah saat mengembalikan kejayaan industri\r\nudang di Indonesia dengan pemanfaatan teknologi mulai dari perhitungan tingkat\r\nkelangsungan hidup (survival rate/SR), penetasan (hatchery), pembibitan\r\n(nursery), hingga pembesaran.

Rifky juga mendorong para investor\r\nberinvestasi di sektor pembibitan karena dinilai sangat menguntungkan secara\r\nekonomi. Peningkatan nilai udang dari benur hingga menjadi bibit udang yang\r\nsiap dibesarkan sangatlah besar atau berkali-kali lipat.

“Makanya Kementerian Keluatan dan Perikanan\r\nmerencanakan program tambahan ekspor USD1 miliar komoditi udang dalam 3 tahun\r\nke depan, di 2021. Dan ini kuncinya adalah bagaimana kita bisa mendorong\r\nproduksi di hulu, mulai dari hatchery, nursery, dan pembesaran,” tuturnya.

Adapun di sektor hatchery, Rifky\r\nmenilai perlu keterlibatan investor-investor yang memiliki pengalaman cukup\r\npanjang. Selain investor, perlu pula penataan daerah yang akan difokuskan\r\nsebagai sentra pengembangan industri penetasan udang, sehingga terbentuk\r\nklasterisasi yang dapat mempermudah jalur logistik penyiapan rantai benih.

Kemudian Rifky menambahkan, perlu\r\ndilakukan riset mengenai potensi jenis udang yang disukai masing-masing negara,\r\nmisalnya monodon (udang windu) yang banyak disukai pasar Eropa atau udang\r\njerbung yang banyak diminati negara Asia Timur seperti Jepang.

“Masing-masing negara itu beda-beda\r\nsenangnya. Ada yang senang monodon, ada yang senang vannamei, ada yang seneng\r\nmerguensis (udang jerbung),” jelasnya.

Rifky berpendapat, industri udang\r\nIndonesia juga perlu memperbaiki sistem logistik dari hulu ke hilir yang dapat\r\nmembantu upaya pembebasan atau pengurangan tarif bea masuk produk perikanan\r\nIndonesia ke negara tujuan ekspor.

Optimalisasi juga dapat dilakukan\r\npada industri pengolahan komoditi perikanan menjadi bahan makanan siap saji\r\nsesuai karakteristik millennial generation. Pengembangan ini menurut Rifky\r\ntentunya membutuhkan dukungan permodalan dari perbankan. “Kalau kita bisa menambah (nilai\r\nekspor) USD1 miliar dalam 3 tahun ke depan, maka kita bisa membantu memperbaiki\r\nneraca perdagangan Indonesia,” yakin Rifky.

Untuk berbagi pengalaman link and\r\nmatch bisnis perikanan, dalam Marine and Fisheries Business and Investment\r\nForum ini juga turut dihadirkan beberapa tokoh yang sukses menggeluti bisnis\r\nperikanan. Salah satunya Tigor Cendarma, CEO PT Bogatama Marinusa (Bomar) yang\r\ntelah 30 tahun menekuni bisnis udang dari hulu ke hilir. Ia sukses mengekspor\r\nproduknya ke berbagai negara di Asia, Amerika, hingga Eropa.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n


Sumber : KKP

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan