Beberapa\r\nhasil riset yang telah dihasilkan antara lain pakan ikan alternatif dari magot,\r\ntanaman hias air, dan smart keramba jaring apung (KJA) Adakah\r\nyang termenung ketika mel...
Beberapa\r\nhasil riset yang telah dihasilkan antara lain pakan ikan alternatif dari magot,\r\ntanaman hias air, dan smart keramba jaring apung (KJA)
Adakah\r\nyang termenung ketika melihat sosok ikan-ikan koi yang berlarian dalam air?\r\nKetika ada manusia mendekati, rombongan mereka pun ikut mendekat ingin tahu.\r\nDan ketika manusia berjalan, mereka pun ikut seakan-akan mengikuti kemana\r\nmanusia pergi. Lantas, apa yang menjadikan ikan hias begitu berbeda diantara\r\nkomoditas ikan hias lainnya?
Komoditas\r\nikan hias jika dibandingkan ikan konsumsi, tentunya akan dipandang sebelah\r\nmata. Karena peranannya terhadap perekonomian yang jauh lebih kecil, ikan ini\r\nbelum dipandang sebagai ikan ekonomis penting. Data dari Kementerian Kelautan\r\ndan Perikanan (KKP) menyebutkan, Indonesia memiliki setidaknya 4.700 spesies\r\nikan hias tawar dan laut, dan yang diperdagangkan tidak lebih dari 50\r\nspesies.
Salah\r\nsatu kendalanya, terang Kepala Badan Riset dan Sumberdaya Manusia Kelautan dan\r\nPerikanan (BRSDM) KKP Sjarief Widjaja, yakni ikan hias dilihat sebagai\r\nkomoditad hobi, bukan sebagai komoditas yang pengaruhi pangan. “Kalo bicara\r\npangan berapa ton berapa makan sehari. Kalo hobi kan gak, bukan kebutuhan\r\nperorangan. Sehingga belum secara serius lihat nilainya. Padahal ekspor ikan\r\nhias bisa mencapai 1,1 miliar ekor atau senilai 60 juta USD setahun, dan\r\nmarket share kita itu baru 7% di pasaran global ini. Makanya target kami, akan\r\nada 100 spesies baru pada 2019 yang dapat kita kembangkan dari BRBIH,” ungkap\r\nSjarief.
Target\r\nini, terang Idil Ardi, Kepala Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok-Jawa\r\nBarat tentu tidak main-main dan penuh semangat. Karena, menurut Idil, sebetulnya\r\nikan hias di pasaran sudah banyak diperdagangkan, namun ikan lokal masih\r\nminimal jumlahnya dibandingkan ikan introduksi.
“Contohnya,\r\nikan koki, tetra, platy itu introduksi. Makanya jenisnya yang dimaksud itu ikan\r\nlokal, kalau ikan introduksi udah banyak, tapi ikan lokal kita padahal harganya\r\nsangat mahal. Kalau ikan cupang introduksi Rp 10 ribu ekor, tapi yang jenis\r\nlokal Betta channoides satu pasangnya Rp 300 ribu. Adapula arwana super\r\nplatinum yang dihargai hingga miliaran rupiah,” jelas Idil.
Magot\r\ndari Sampah Organik
Makanya,\r\njelas Sjarief, ada mimpi besar terselip dalam pengembangan potensi ikan hias.\r\nYakni menjadikan komoditas ikan hias sebagai salah satu pendorong pengembangan\r\nekonomi daerah desa atau kota. Karena secara umum sebetulnya sudah banyak\r\npenelitian dan inovasi yang dilakukan, sepert komoditas ikan hiasnya, hingga\r\ntanaman hias airnya. Namun, sebagian besar sifat penelitian ini masih\r\nmasing-masing.
"Makanya\r\nkolaborasi riset antara berbagai sektor di dalam membangun inovasi teknologi\r\npenting adanya. Namun hal ini masih belum terbiasa dilakukan sehingga hasil\r\nriset masih terkesan sepenggal sepenggal dan belum begitu menggiurkan bagi\r\nkalangan industri untuk mengembangkannya,” papar Sjarief.
Dalam\r\nmewujudkan kolaborasi riset, BRSDM pun melaksanakan kerja sama dengan berbagai\r\ninstansi. Bebarapa hasil riset yang telah dihasilkan oleh peneliti BRBIH dan\r\ntelah dikembangkan dan dimanfaatkan oleh pengguna yang diwujudkan dalam bentuk\r\nkerja sama, antara lain hasil penelitian pakan ikan alternatif dari magot,\r\ntanaman hias air dan smart keramba jaring apung (KJA).
Adanya\r\nberbagai kerjasama ini, Idil harapkan bisa bermanfaat untuk pengembangan ikan\r\nhias, khususnya dengan target KKP untuk pengenalan 100 spesies baru. Salah\r\nsatunya kerja sama Pusat Riset Perikanan dengan PT. Biomagg Sinergi\r\nInternasional, A-Wing Group untuk pengembangan hasil riset pakan ikan\r\nalternatif dari magot dan turunannya.
Bahkan\r\nsebagai inovasi terbaru, magot dihasil dari lalat BSF dengan memanfaatkan\r\nsampah organik dari daerah sekitar, bisa di desa ataupun kota. Melta Rini\r\nFahmi, peneliti senior di BRBIH Depok mengungkap, pemanfaatan magot menggunakan\r\nlalat Black Soldier Fly (BSF) yang siklus hidupnya jauh lebih singkat\r\ndibanding siklus larvanya (magot). Siklus hidup lalat BSF tidak lebih dari dua\r\nminggu, sedangkan magot fase hidupnya bisa mencapai hampir satu bulan.
Rini\r\nmenerangkan, magot punya kemampuan mendegradasi material organik, dan disisi\r\nlain karena lalat BSF siklus hidupnya singkat. Berbeda dengan lalat lain yang\r\nfase hidupnya lebih panjang dan bisa menyebarkan penyakit.
Selengkapnya\r\nbaca di majalah TROBOS Aqua Edisi-82/15 Maret – 14 April 2019
Artikel Asli

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
