Minapoli
KKP Yakin Dapat Tingkatkan Produksi Pakan Mandiri
Mas

KKP Yakin Dapat Tingkatkan Produksi Pakan Mandiri

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
4 menit baca

JAKARTA – Salah satu tantangan perikanan\r\nbudidaya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pakan ikan yang efisien dan\r\nberkualitas, namun dengan harga yang tetap terjangkau. Isu ini menjadi penting,\...



JAKARTA
– Salah satu tantangan perikanan\r\nbudidaya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pakan ikan yang efisien dan\r\nberkualitas, namun dengan harga yang tetap terjangkau. Isu ini menjadi penting,\r\nkarena pakan merupakan penyusun terbesar dalam struktur biaya produksi usaha\r\nbudidaya ikan yang mencapai lebih dari 70%.

Disisi\r\nlain, harga pakan pabrikan cenderung menunjukkan tren kenaikan, sehingga akan\r\nmenyebabkan turunnya efisiensi usaha budidaya. Kondisi ini dipicu karena\r\nketerbatasan industri pakan dalam memanfaatkan bahan baku lokal untuk dijadikan\r\npakan ikan, sehingga industri masih sangat tergantung pada bahan baku pakan\r\nimpor, terutama tepung ikan.

Merespon\r\nkondisi tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat\r\nJenderal Perikanan Budidaya (DJPB) sejak tahun 2015 telah menggalakkan gerakan\r\npakan mandiri atau Gerpari.

Direktur\r\nJenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam Forum Pakan Mandiri\r\nNasional 2018 di Jakarta, Rabu (11/7), menyampaikan bahwa Gerpari merupakan\r\nlangkah konkrit pihaknya dalam menjamin ketersediaan pakan yang terjangkau oleh\r\npara pembudidaya skala kecil, yang saat ini masih dihadapkan pada kendala\r\ninefisiensi produksi. Disamping itu, dengan program pakan mandiri diharapkan\r\nakan memicu multiplier effect antara lain munculnya kelompok penyedia alat\r\nbahan baku dan juga kelompok pemasaran pakan ikan mandiri.


“menurut\r\ndata Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), produksi pakan ikan pabrikan\r\ntahun 2017 hanya 1.555.939 ton, sedangkan kebutuhan pakan ikan di tahun yang\r\nsama mencapai 8.650.260 ton. Untuk tahun 2018 kebutuhan pakan naik menjadi\r\nsekitar 9.667.620 ton dan tahun 2019 diperkirakan mencapai 10.800.960 ton. Baik\r\nuntuk jenis ikan air tawar seperti nila, lele, gurami, mas dan patin, serta\r\njenis ikan laut seperti kakap putih, bawal bintang, kerapu dan udang” terang\r\nSlamet.

“sedangkan\r\ntotal produksi pakan mandiri tahun 2018 yang tersebar di 24 provinsi baru\r\nmencapai 26.546 ton , disinilah urgensi peningkatan\r\nproduksi pakan mandiri” lanjutnya.

Untuk\r\nitu, Salmet menyampaikan bahwa KKP telah menyiapkan beberapa strategi agar\r\nproduksi pakan mandiri dapat berhasil dan meningkat. Diantaranya, pengembangan\r\npakan mandiri dipusatkan di sentra-sentra budidaya air tawar atau kawasan\r\nminapolitan, kemudian prioritas kepada kelompok usaha budidaya ikan air tawar,\r\nmemanfaatkan potensi bahan baku lokal, memproduksi pakan murah berkualitas,\r\nberkuantitas dan secara kontinu, penguatan kelembagaan dan permodalan serta\r\npengembangan jejaring pakan ikan nasional.

Selain\r\nitu, KKP juga telah mengembangkan pembuatan pakan dengan pabrik skala medium di\r\n9 Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang tersebar di Aceh, Jambi, Lampung, Karawang,\r\nSukabumi, Jepara, Situbondo, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara. UPT ini\r\nakan menjadi motor untuk mengembangkan kawasan pakan mandiri.

Di\r\nlevel pembudidaya, Slamet juga menyampaikan bahwa KKP terus memberikan dukungan\r\nberupa mesin-mesin pembuat pakan mandiri skala kecil.


“Kita\r\nberikan bantuan berupa mesin pembuat pakan ikan dan bahan baku pakan ikan,\r\nserta pengembangan berbagai jenis bahan baku pakan mandiri. Selain itu, kita\r\njuga meningkatkan kerjasama antara DJPB dengan Smart Fish/UNIDO terkait dengan\r\nteknik formulasi pakan dengan harga murah berkualitas least cost formulation\r\nkarena dapat menurunkan biaya produksi terutama dari pakan yang murah tetapi\r\ntetap berkualitas”, jelasnya.

Slamet\r\nmenambahkan, untuk mengembangkan pakan mandiri, DJPB juga berkerjasama dengan\r\nFAO dengan mengadakan kegiatan supporting local feed efficiency for inland\r\naquaculture in Indonesia yang dilakukan di Kabupaten Banyuasin, Sumatera\r\nSelatan. Selain itu, DJPB juga akan bekerja sama dengan PT. Pupuk Indonesia\r\nterkait dengan pengelolaan bahan baku pakan ikan khususnya Palm Kernel Meal\r\n(PKM) serta kerjasama dengan FAFI Belanda dalam pengembangan bahan baku pakan\r\ndari limbah bir dan bacteria protein.

“Kerjasama\r\nini tujuan utamanya adalah meningkatkan produksi pakan ikan khususnya pakan\r\nikan air tawar yang berkualitas tinggi dan biaya hemat oleh produsen pakan ikan\r\nskala kecil di Indonesia”, tutup Slamet.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada\r\nkesempatan yang sama Ketua Asosiasi Pakan Mandiri Nasional (APMN), Syafruddin\r\nmenyampaikan bahwa APMN akan berkomitmen mendukung peningkatkan pakan mandiri\r\nmelalui : (1) pendampingan teknis dan\r\nformulasi pakan ikan kepada kelompok gerakan pakan ikan mandiri, khususnya\r\npenerima bantuan mesin pemerintah di daerah anggota asosiasi, (2) pengembangan\r\nbahan baku lokal pakan ikan untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku\r\nkhususnya tepung ikan, (3) pengembangan dan inovasi mesin pakan aplikatif, (4)\r\npendataan produksi pakan mandiri secara reguler, dan (5) menjaga konsistensi\r\nmutu pakan mandiri.

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan