Minapoli
KKP Resmikan Kawasan Hatchery Ikan Laut Modern di BPBL Ambon
Mas

KKP Resmikan Kawasan Hatchery Ikan Laut Modern di BPBL Ambon

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
4 menit baca

Ambon – Direktur Jenderal\r\nPerikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto\r\nmeresmikan hatchery ikan laut modern dan terbesar kapasitas produksinya yang\r\nberada di ...

Ambon – Direktur Jenderal\r\nPerikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto\r\nmeresmikan hatchery ikan laut modern dan terbesar kapasitas produksinya yang\r\nberada di Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon, Selasa (30/4/2019) pagi.\r\nDalam kesempatan itu, Slamet menyampaikan bahwa dengan beroperasinya hatchery\r\nini, maka kebutuhan benih berbagai jenis ikan laut seperti bubara, kakap putih,\r\nkerapu macan dan kerapu bebek bagi pembudidaya ikan, khususnya dikawasan timur\r\nIndonesia semakin terpenuhi. Jangkauannya pun makin luas hingga ke seluruh\r\nMaluku, Maluku Utara, Sulawesi, Papua, dan Papua Barat.

“Pembangunan\r\nhatechery ini merupakan implementasi dari amanat menteri Kelautan dan\r\nPerikanan, Bu Susi, agar kita memiliki balai perikanan budidaya laut yang\r\nmodern dan sebagai pintu gerbang inovasi teknologi perikanan budidaya laut di\r\nIndonesia Timur. Ini akan menjadi kebanggaan Indonesia”, terang Slamet.

Hatchery\r\nini modern karena sepenuhnya telah menerapkan teknologi Recirculating\r\nAquaculture System (RAS) seperti di negara-negara maju, khususnya pada fase\r\npendederan dan penggelondongan benih. Keunggulan teknologi ini yaitu kepadatan\r\nikan bisa ditingkatkan dimana dengan wadah yang sama, kapasitasnya bisa naik\r\nhingga 5 kali lipat. Kualitas air juga mudah dikontrol dan jauh lebih stabil.\r\nSelain itu, penggunaan air ganti jauh lebih sedikit yakni hanya dibutuhkan 10%\r\ndari volume total air per hari, sehingga jauh lebih efisien bila dibandingkan\r\ndengan teknologi biasa (flowthrough) yang membutuhkan pergantian air hingga 300\r\n% agar ikan bisa hidup dengan baik.

“Dibangunnya\r\nhatchery ini bertujuan untuk menciptakan industri budidaya atau pembenihan yang\r\nberkelanjutan sehingga apa yang dilakukan harus meningkatkan efisiensi dan\r\nproduktivitasnya serta ramah lingkungan. Oleh karena itu juga perlu diterapkan\r\nmekanisasi dan digitalisasi”, lanjutnya.

Slamet\r\njuga menjelaskan bahwa penerapan teknologi RAS di hatchery sudah sangat tepat.\r\nIa mengutip pernyataan FAO bahwa ada tiga kendala yang dihadapi oleh perikanan\r\nbudidaya kedepan yakni sempitnya lahan akibat alih fungsi lahan untuk kegiatan\r\nlain, seperti perumahan dan industri.

Selain\r\nitu lanjut Slamet, terjadi krisis air dan tantangan bagaimana meningkatkan\r\nproduktivitas seiring semakin meningkatnya penduduk dunia yang menuntut\r\nkebutuhan pangan. “oleh karena itu jawabannya adalah penerapan teknologi RAS\r\ndan ini sudah sangat tepat” tegas Slamet.

Penerapan\r\nteknologi RAS, menurut Slamet saat ini sudah diterapkan juga oleh UPT DJPB\r\nlainnya termasuk balai perikanan budidaya air tawar di Sukabumi, Mandiangin\r\nKalimantan Selatan dan Tatelu Sulawesi Utara.

Dalam\r\nkegiatan yang juga dihadiri oleh seluruh kepala UPT lingkup Ditjen Perikanan\r\nBudidaya tersebut, Slamet juga berpesan agar UPT selain sebagai pusat produksi\r\nbenih juga menjadi rujukan dan bermanfaat luas bagi seluruh stakeholder.

"Selain\r\nsebagai pusat produksi benih dan induk unggul, UPT juga berfungsi sebagai pusat\r\nteknologi dan inovasi, pelayanan laboratorium, pakan alami dan memiliki fungsi\r\npembinaan serta pendampingan kepada masyarakat" pungkasnya.

Sementara\r\nitu Kepala BPBL Ambon, Tinggal Hermawan menjelaskan bahwa hatchery yang baru\r\ndiresmikan ini dibangun di lahan seluas 2 hektar sehingga keseluruhan hatcehry\r\nyang dimiliki BPBL Ambon kini berdiri di lahan seluas 4 hektar. Kapasitas\r\nproduksi benih hatcehry pun kini mampu mencapai 3 juta ekor benih per tahunnya\r\ndari sebelumnya hanya 700 ribu ekor.

Salah\r\nsatu komoditas utama yang diproduksi lanjut Tinggal yakni benih ikan Bubara.\r\nIkan yang telah berhasil diproduksi massal oleh BPBL Ambon ini, kapasitas\r\nproduksinya berhasil ditingkatkan hingga minimal 1 juta ekor benih per tahun\r\ndari sebelumnya 500.000 ekor atau naik hingga 2 kali lipat lebih.

Sementara\r\nitu, Walikota Ambon dalam sambutan tertulisnya menyampaikan bahwa salah satu\r\naktivitas ekonomi yang menjadi prioritas pembangunan kota Ambon yakni sektor\r\nperikanan disamping jasa/perdagangan dan pariwisata. Oleh karena itu\r\nmenurutnya, pemerintah kota Ambon terus berupaya meningkatkan produksi\r\nperikanan termasuk perikanan budidaya.

“Oleh\r\nkarena itu masyarakat dan pemerintah kota Ambon, tentunya sangat bersyukur\r\nserta memberikan apresiasi yang tinggi, bahwa di hari ini, diresmikan hatcery\r\natau unit pembenihan Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon. Ini tentu akan\r\nmendukung pengembangan perikanan di Kota Ambon yang ditetapkan sebagai salah\r\nsatu lumbung ikan nasional”ungkap asisten III Pemerintah Kota Ambon saat\r\nmembacakan sambutan Walikota.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan