Perikanan budidaya ke depan mempunyai peluang strategis\r\nsebagai kegiatan ekonomi masyarakat yang menguntungkan. Sehingga, akuakultut\r\nbisa dimanfaatan sebagai penggerak kegiatan ekonomi masyaraka...
Perikanan budidaya ke depan mempunyai peluang strategis\r\nsebagai kegiatan ekonomi masyarakat yang menguntungkan. Sehingga, akuakultut\r\nbisa dimanfaatan sebagai penggerak kegiatan ekonomi masyarakat. Hal itu\r\ndikarenakan, usaha perikanan budidaya atau akuakultur bisa menjadi komponen\r\npenopang ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto,\r\nakuakultur ini peluang dan masa depan bagi masyarakat. “Karena itu, Sarjana Kelautan dan Perikanan\r\ndiharapkan mampu melihat potensi dan peluang serta siap menghadapi tantangan\r\npembangunan sektor kelautan dan perikanan. \r\nSehingga, kontribusi dan profesionalisme lulusan untuk mengelola\r\nkekayaan sumberdaya perikanan Indonesia mutlak diperlukan dalam menghadapi era\r\nrevolusi industri 4.0,” kata Slamet Soebjakto, saat memberikan pembekalan\r\nkepada wisudawan Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, Senin (19/8).
Menurut Slamet, Perguruan Tinggi sebagai basis ilmu\r\npengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan tempat berkumpulnya kaum intelektual,\r\ndiharapkan dapat berperan langsung dalam memberikan kontribusi bagi kemajuan pembangunan\r\nperikanan nasional.
Lantaran, tantangan dalam pemanfaatan sumberdaya alam akan\r\nsemakin besar di tengah fenomena perubahan iklim dan lingkungan, maka\r\ndiperlukan solusi dengan mendorong pengembangan IPTEK yang sejalan dengan perkembangan\r\ndan tantangan yang ada.
“Penerapan IPTEK\r\nseperti penggunaan autofeeder atau platform digital bidang investasi perikanan\r\nmerupakan contoh nyata pemanfaatan teknologi informasi yang telah diadopsi\r\nsektor perikanan budidaya dalam upaya masuk ke era digitalisasi,” kata Slamet.
Slamet mengatakan, dalam rangka diversifikasi pasar KKP juga\r\nmendorong dibukanya pasar baru, salah satunya dengan mulai mengekspor ikan\r\npatin ke Arab Saudi tahun ini. Hal ini sejalan dengan salah satu aspek utama\r\npembangunan perikanan budidaya yakni pengembangan komoditas yang berorientasi\r\npada permintaan pasar. “Kami harapkan\r\nekspor komoditas itu dapat menjadi produk ekspor unggulan baru perikanan” ujar\r\nSlamet.
Sementara itu, Ketua Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta,\r\nMoch. Heri Edy, menyatakan bahwa pendidikan, utamanya pendidikan tinggi\r\nmerupakan salah kunci untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia\r\ndi tingkat global. Sehingga, diperlukan perubahan paradigma menghadapi\r\nmodernisasi di sektor kelautan dan perikanan.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
“Kita akan dorong kurikulum mata kuliah di bidang perikanan\r\nini lebih fokus pada upaya-upaya dalam menjawab tantangan perikanan di era\r\nglobalisasi saat ini. Kita ingin, sarjana perikanan lebih mumpuni dan menjadi\r\nproblem solving bagi masyarakat perikanan,” pungkas Heri.
Sumber : Tabloid Sinar Tani

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
