Minapoli
KKP Lakukan Integrasi dan Inovasi Program Budidaya Berkelanjutan
Mas

KKP Lakukan Integrasi dan Inovasi Program Budidaya Berkelanjutan

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
4 menit baca

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan\r\nkebijakan terkait program prioritas sub sektor perikanan budidaya sejalan\r\ndengan arah pembangunan nasional tahun 2020. Hal ini dilakukan denga...

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan\r\nkebijakan terkait program prioritas sub sektor perikanan budidaya sejalan\r\ndengan arah pembangunan nasional tahun 2020. Hal ini dilakukan dengan\r\nmemfokuskan bantuan prioritas pemerintah agar dapat berdampak langsung kepada\r\nmasyarakat guna mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan\r\nberkelanjutan.

Hal ini sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo mengenai apa\r\nyang akan menjadi perhatian dan prioritas dalam jangka waktu 5 tahun ke depan\r\nuntuk menuju Indonesia yang adaptif, produktif, inovatif dan kompetitif. Khusus\r\ndari segi tahapan infrastruktur, Presiden menekankan untuk menyambungkan\r\ninfrastruktur dengan kawasan produksi rakyat, dimana salah satu kawasan yang\r\ndimaksud adalah tambak perikanan.


Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto,\r\ndalam keterangannya di Bogor, Senin (30/9) saat membuka Sinkronisasi Program\r\ndan Finalisasi RKA-K/L tahun anggaran 2020, mengatakan bahwa Direktorat\r\nJenderal Perikanan Budidaya (DJPB) telah menyusun program yang dapat mendukung\r\nvisi serta terfokus ke arah pengelolaan sumber daya perikanan budidaya yang\r\nberkelanjutan. “Kita telah menyiapkan strategi untuk membangun kawasan budidaya\r\nberdasarkan komoditas, khususnya untuk komoditas unggulan yang dapat dijadikan\r\nandalan pembangunan.”

Slamet menjelaskan, komoditas andalan yang dimaksud termasuk\r\nkomoditas baru yang akan lebih dimasyarakatkan pada tahun 2020. Komoditas\r\nseperti udang merguensis dan ikan cobia menjadi contoh komoditas yang\r\ndiharapkan dapat menjadi andalan baru di masa depan. Selain itu akan terus\r\ndikembangkan komoditas ikan lokal untuk meningkatkan plasma nutfah serta\r\nmenjaga kelestarian lingkungan.

“Yang tak kalah penting adalah penguatan kelembagaan\r\nkelompok pembudidaya untuk dapat meningkatkan kewaspadaan dan kekompakan antar\r\npembudidaya dalam menghadapi tantangan yang akan dihadapi dalam proses\r\nberbudidaya. Dengan berkelompok, pembudidaya dapat saling menjaga satu sama\r\nlain, serta berbagi informasi penting seperti pencegahan penyakit dan solusinya”\r\nlanjut Slamet.

Strategi berikutnya menurut Slamet adalah pemanfaatan\r\nteknologi dan digitalisasi dalam proses perikanan budidaya. Hal ini menurutnya\r\ntelah diinisiasi oleh kaum milenial yang melihat pangsa pasar potensial dalam\r\npemutakhiran sistem tata kelola yang ada. “Selain automatic feeder yang telah\r\nlebih dahulu berkembang, contoh lainnya adalah platform online yang\r\nmenjembatani investor dengan pembudidaya atau platform yang menghubungkan\r\npembudidaya dengan buyer” urai Slamet.

Slamet menambahkan “Peningkatan SDM akuakultur yang kompeten\r\nmenjadi langkah berikut yang tidak bisa ditinggalkan. Tentunya hal ini seiring\r\ndengan tema kebijakan APBN 2020 yang menargetkan APBN untuk akselerasi daya\r\nsaing melalui inovasi dan penguatan kualitas SDM. Pentingnya SDM berkualitas\r\ndiperlukan untuk menunjang pencapaian target Indeks Kinerja Utama(IKU) DJPB\r\ntahun 2020.”

Sebagai informasi, pada tahun 2020 DJPB menetapkan target\r\nIKU yakni produksi perikanan budidaya sebesar 18,44 juta ton, produksi ikan\r\nhias sebanyak 1,87 miliar ekor serta indeks Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi)\r\ndi atas 101.

“Kebijakan pengelolaan perikanan budidaya memerlukan\r\nharmonisasi dan penyederhanaan regulasi serta dukungan lintas sektor mulai dari\r\ndinas provinsi, dinas kota/kabupaten, Unit Pelaksana Teknis hingga pihak swasta\r\ndan BUMN. Dengan adanya sinergitas semua pihak, akselerasi pembangunan\r\nperikanan budidaya berdaya saing dan berkelanjutan dapat tercapai” pungkas\r\nSlamet.

Capaian Positif Sub\r\nSektor Perikanan Budidaya Tahun 2015-2019

Dalam periode 2015-2019 program bantuan pemerintah untuk\r\npembudidaya ikan seperti pakan ikan mandiri, budidaya ikan sistem minapadi dan\r\nbioflok, bantuan benih, asuransi pembudidaya ikan, excavator, pengelolaan\r\nirigasi tambak, paket bantuan ikan hias dan rumput laut telah berhasil\r\nmemberikan dampak positif terhadap perbaikan struktur ekonomi pembudidaya ikan.\r\n

Indikator keberhasilan tersebut yakni pencapaian nilai tukar\r\npembudidaya ikan (NTPi) selama 5 (lima) tahun terakhir yang tumbuh rata-rata\r\nper tahun sebesar 0,55 persen. Hingga bulan Agustus 2019 angka NTPi tercatat\r\nsebesar 101.86 atau naik sebesar 1,06 persen dibanding tahun 2018 yang mencapai\r\n101.8. Ini mengindikasikan adanya peningkatan daya beli yang dipicu oleh\r\nkenaikan pendapatan usaha di atas ambang batas kelayakan ekonomi.

Capaian lainnya yakni peningkatan nilai tukar usaha\r\npembudidaya ikan (NTUPi) sepanjang tahun 2015 – Agustus 2019 tumbuh sebesar\r\n1,85 persen. Hingga bulan Agustus 2019 NTUPi mencapai angka 114,81 atau tumbuh\r\n1,37 persen dibanding tahun 2018 yang mencapai 113,26. Capaian ini\r\nmengindikasikan bahwa usaha akuakultur semakin efisien dan visible. Rata-rata\r\nnilai pendapatan pembudidaya ikan secara nasional pada semester I tahun 2019\r\nsebesar Rp. 3,57 juta per bulan atau naik 16,24% dibanding tahun 2015 yang\r\nmencapai Rp 2,99 juta per bulan. Angka pendapatan ini jauh melampaui rata-rata\r\nUMR nasional yang hanya Rp. 2,44 juta per bulan.

Kinerja produksi perikanan budidaya nasional dari tahun\r\n2015-2018 menunjukkan peningkatan, meskipun dengan efisiensi anggaran dengan\r\npenurunan sebesar 17,30% per tahun. Selama periode 2015-2018, volume produksi\r\nikan / udang mengalami peningkatan rata-rata 7,12% per tahun. Komoditas yang\r\nmeningkat signifikan diantaranya: Udang (15,14%), Kerapu (133,21%), Lele\r\n(13,84%).

Selain itu Nilai PDB Perikanan menunjukkan peningkatan\r\npositif dengan kenaikan rata-rata sebesar 5,36% per tahun. Share perikanan\r\nbudidaya tahun 2018 mencapai 238,64 miliar atau 57,15% terhadap total PDB\r\nPerikanan Nasional.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain berbagai program prioritas, pengaplikasian inovasi\r\ndan teknologi dalam pembangunan perikanan budidaya juga turut mengambil peran\r\nmendongkrak kinerja seperti Recirculated\r\nAquaculture System (RAS), penggunaan micro bubble, sistem budidaya minapadi dan\r\nbioflok, dan automatic feeder.


Sumber : Humas DJPB

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan