Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan menjadikan\r\nsubsektor perikanan budidaya sebagai ujung tombak perekonomian nasional. Ini\r\ndilakukan lantaran subsektor perikanan budidaya memiliki pot...
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan menjadikan\r\nsubsektor perikanan budidaya sebagai ujung tombak perekonomian nasional. Ini\r\ndilakukan lantaran subsektor perikanan budidaya memiliki potensi besar untuk\r\ndikembangkan dan menjadi salah satu sumber peningkatan kesejahteraan\r\nmasyarakat.
“KKP akan mendukung sepenuhnya pengembangan budidaya melalui\r\nkolaborasi antara DPR, Pemda dan stakeholders terkait. Saya pastikan program\r\nKKP akan diarahkan secara langsung pada pembudidaya dan fokus pada peningkatan\r\nefisiensi dan nilai tambah pendapatan,” kata Direktur Jenderal Perikanan\r\nBudidaya, Slamet Soebjakto, Kamis (30/1).
Pernyataan Slamet ini disampaikan menanggapi permintaan\r\nWakil Ketua Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, saat melakukan kunjungan kerja di\r\nKabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, hari ini, agar KKP fokus menggenjot\r\nproduksi budidaya agar dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Daniel\r\nmengatakan, subsektor ini memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Bahkan\r\njika digarap maksimal, nilai ekonominya bisa melebihi sektor migas.

Menurut Slamet Soebjakto, kontribusi kabupaten Musi Rawas,\r\nSumatera Selatan, bagi pengembangan produksi perikanan budidaya memang cukup\r\nbesar khususnya untuk komoditas unggulan ikan air tawar seperti nila, lele dan\r\npatin.
Dia juga mengamini besarnya potensi perikanan budidaya ini.\r\nKata Slamet, program-program seperti Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GERPARI),\r\nbudidaya bioflok, dukungan induk dan benih, minapadi dan rehabilitasi\r\nkawasan/kolam telah secara nyata mampu memperbaiki struktur ekonomi masyarakat,\r\nutamanya peningkatan daya beli dan pendapatan.
Sebagai gambaran angka NTPi tahun 2019 tercatat 102,09 atau\r\nnaik dibanding tahun 2018 yang mencapai 100,80. Begitupula rata-rata pendapatan\r\nnaik dari semula Rp3,38 juta per bulan menjadi Rp3,62 juta per bulan.
“Kami sangat menyadari pentingnya dukungan dari seluruh\r\nstakeholders, utamanya dukungan politik dari Komisi IV DPR RI, utamanya terkait\r\nregulasi dan penganggaran. Kami berharap sub sektor perikanan budidaya jadi\r\nprioritas kebijakan nasional, sehingga sumber dukungan akan berasal dari\r\nseluruh lintas sektor terkait,” imbuh Slamet.
Slamet juga memastikan bahwa kebijakan Pemerintah Pusat\r\nterus berupaya mendorong investasi antara lain melalui harmonisasi dan review\r\nterhadap berbagai aturan (Permen KP) yang dinilai menghambat ruang gerak iklim\r\nusaha. Ia menyebut, ada sekitar 29 Permen KP yang saat ini sedang dilakukan\r\nproses review. KKP juga tengah melakukan upaya reformasi birokrasi, dalam hal\r\nini perijinan yang lebih ramah terhadap investasi. Upaya ini, kami harapkan\r\ndapat dilakukan oleh pemerintah daerah sesuai kewenangannya.
“Jadi intinya, saat ini Pemerintah akan berada digarda\r\npaling depan untuk menjamin keberpihakan kepada para pelaku perikanan”, pungkas\r\nSlamet.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan panen ikan di kolam\r\nair deras yang merupakan salah satu potensi besar di Kabupaten Musi Rawas. KKP\r\njuga memberikan dukungan langsung kepada para pembudidaya ikan dengan total\r\nnilai Rp418.850.000. Nilai tersebut antara lain dukungan benih ikan patin\r\n100.000 ekor, 50 paket calon induk ikan lele, 200 ribu benih ikan nila, 10 ton\r\npakan ikan mandiri, 1 paket budidaya ikan sistem bioflok.
Bangun Pusat Induk Unggul Nasional
KKP memilih Kabupaten Musi Rawas sebagai pusat pengembangan\r\ninduk ikan unggul nasional (national broodstock center). Pemilihan Musi Rawas\r\nsebagai lokasi broodstock center, selain karena kabupaten ini merupakan salah\r\nsatu sentral budidaya ikan air tawar, juga karena komitmen Pemda yang tinggi\r\ndalam upaya memajukkan perikanan budidaya.
Slamet menjelaskan, keberadaan broodstock center ini\r\nakan jadi penyangga stock suplai induk ikan unggul dan benih bermutu guna\r\nmemenuhi kebutuhan nasional, khususnya untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan.
“Keberadaan broodstock center ini sangat penting\r\ndan strategis sebagai bagian dalam mengembangkan logistik induk dan benih\r\nnasional. Kami akan fokus untuk kembangkan komoditas unggulan ikan air tawar\r\ndan kami dorong untuk menyuplai kebutuhan khususnya di wilayah Sumatera dan\r\nKalimantan. Saya meyakini nanti ada multiplier effect yakni tumbuh dan\r\nberkembangnya unit-unit pembenihan rakyat sekaligus memicu perkembangan\r\naktivitas budidaya di berbagai daerah,” jelasnya.
Selain untuk pengembangan induk bagi komoditas unggulan\r\nkomersial, broodstock center ini nantinya juga akan fokus pada produksi induk\r\ndan benih bagi jenis ikan endemik dan spesifik lokal seperti Papuyu, Belida dan\r\nlainnya.
Sebagai informasi, jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) yang\r\nmenggeluti usaha budidaya ikan di Kabupaten Musi Rawas mencapai 4.062 RTP\r\ndengan didominasi pembudidaya ikan skala kecil.
Tahun 2019 tercatat produksi perikanan budidaya Kabupaten\r\nMusi Rawas sebanyak 76.321,95 ton dengan luas pemanfaatan lahan kolam mencapai\r\n792,66 hektar. Adapun komoditas unggulan yakni ikan nila, lele, patin, dan\r\ngurame.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Sedangkan produksi benih di Kabupaten Musi Rawas tahun 2019\r\nmencapai 1.420.800.000 ekor dengan luas kolam/unit perbenihan seluas 94,36 ha.\r\nProduksi benih ini dihasilkan oleh UPTD Dinas Perikanan Kabupaten Musi Rawas\r\ndan unit unit pembenihan rakyat.
Sumber: KKP News

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
