Makassar – Sosialisasi upaya pencegahan penyakit early\r\nmortality syndrome (EMS) yang disinyalir memiliki kemiripan dengan penyakit\r\nAcute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) semakin intensi...
Makassar – Sosialisasi upaya pencegahan penyakit early\r\nmortality syndrome (EMS) yang disinyalir memiliki kemiripan dengan penyakit\r\nAcute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) semakin intensif dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan\r\nPerikanan. Sepanjang bulan April hingga Mei 2019 KKP bersama stakeholder\r\nperikanan budidaya seperti Shrimp Club Indonesia (SCI), Gabungan Perusahaan\r\nMakanan Ternak (GPMT), usaha pengolahan dan lainnya melakukan road show\r\nsosialisasi pencegahan penyakit ini di Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa\r\nBarat, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat,\r\nKalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat. Selain itu, KKP juga membentuk dan\r\nmengintensifkan peran tim taskforce (gugus tugas) pencegahan penyakit AHPND beranggotakan\r\nunsur pemerintah, pelaku usaha, akademisi dan pakar.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto\r\nmenjelasakan bahwa sosialisasi tersebut merupakan bagian dari tindaklanjut\r\nhasil surveilan EMS/AHPND yang dilakukan oleh DJPB dan BKIPM tahun 2018 lalu\r\nserta 12 poin kesepakatan bersama antara pelaku usaha dan pemerintah saat\r\npertemuan tanggal 20 Pebruari 2019 di Surabaya tentang upaya pencegahan\r\nEMS/AHPND.
Sedangkan pemilihan lokasi sosialisasi sendiri menurut\r\nSlamet, didasarkan pada pertimbangan bahwa daerah-daerah tersebut secara\r\ntradisional merupakan sentra penghasil udang utama di Indonesia.
“Perlu kita sosialisasikan 12 kesepakatan ini kepada\r\nsuluruh pembudidaya dan stakeholder lainnya. Namun demikian, yang lebih penting\r\nlagi adalah bagaimana hasil dari sosialisasi ini kita implementasikan ke\r\nseluruh tambak maupun hatcehry masing-masing. Kita harus sama-sama memiliki\r\nkomitmen yang kuat mencegah penyakit ini. Masing-masing stake holder harus tahu\r\nperannya sesuai dengan 12 butir kesepakatan tersebut” ujar Slamet dalam\r\nsambutannya pada sosialisasi Nasional: Pencegahan EMS/AHPND Dalam Budidaya\r\nUdang Di Provinsi Sulawesi Selatan, Selasa (14/05).
"KKP terus melakukan surveilance atau pengawasan terhadap cara budidaya ikan yang baik, penggunaan\r\ninduk, dan memonitor residu. Oleh karena itu, sebagai tindak lanjut\r\nsosialisasi ini DJPB akan menerjunkan pengawas pembudidaya ikan untuk memonitor\r\nkegiatan budidaya di masyarakat" lanjutnya.
Sebagaimana diketahui EMS/AHPND merupakan penyakit serius\r\nyang dapat menyebabkan berbagai kerugian fisik dan finansial pada industri\r\nbudidaya udang yang telah terjadi di beberapa negara sehingga berpotensi\r\nmengancam produksi udang.
Penyakit ini ditimbulkan oleh adanya infeksi Vibrio\r\nparahaemolyticus (Vp AHPND) yang mampu memproduksi toksin. Pada umumnya, AHPND\r\nrentan menyerang udang windu (Penaeus monodon) dan udang vaname (Penaeus\r\nvannamei) dengan mortalitas mencapai 100% pada stadia postlarvae (PL) umur\r\n30-35 hari dan udang usia < 40 hari setelah tebar di tambak.
Pertama kali ditemukan di Republik Rakyat China pada\r\ntahun 2009 dengan sebutan Covert Mortality Disease. Pada Tahun 2011, AHPND dilaporkan telah\r\nmenyerang Vietnam dan Malaysia, disusul Thailand (2012), Mexico (2013) dan\r\nPhilipina (2015). Saat ini India juga\r\ndilaporkan diduga terserang AHPND, namun belum ada notifikasi dari pihak\r\npemerintah India;

FAO mencatat bahwa dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun\r\nproduksi udang di Thailand mengalami penurunan produksi yang sangat drastis\r\ndari 609.552 ton pada tahun 2013 menjadi 273.000 ton di tahun 2016 akibat\r\nserangan AHPND. Sedangkan dampak\r\nkerugian ekonomi yang dialami Vietnam selama kurun waktu 2013 – 2015 adalah\r\nsebesar US$ 216.23 million atau rata—rata sebesar US$ 72 million per tahun.
“Indonesia hingga saat ini masih terbebas dari penyakit\r\nEMS/AHPND, namun jika melihat dari latar belakang munculnya penyakit ini, maka\r\nsegala potensi resiko dalam industri budidaya udang nasional harus diantisipasi\r\nsecara serius. Indonesia mewaspadai masuknya penyakit lintas batas\r\n(transboundary disease) yang dapat mengancam industri perudangan nasional dalam\r\nhal ini wabah AHPND dari negara terjangkit”ujarnya.
“Ini tentu jadi fokus perhatian kita agar Indonesia tidak\r\nmengalami nasib yang sama. oleh karena itu, jangan sampai ada kejadian AHPND di\r\nIndonesia, jika sudah ada tampak gejala saja, kita harus segera bertindak.\r\nMencegah lebih baik daripada pengobatan” lanjut Slamet tegas.
Pengalaman hancurnya usaha budidaya udang windu akhir\r\ntahun 90-an menurut Slamet harus menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia\r\nuntuk mencegah kejadian serupa pada udang vanname. Menteri Kelautan dan\r\nPerikanan (Susi Pudjiastuti) di awal menjabat jelasnya, telah mengingatkan hal\r\nini, karena dapat menyebabkan seluruh usaha hulu hilir yang terhubung dengan\r\nkomoditas udang dapat gulung tikar.
“Mengapa ini menjadi penting, karena udang adalah\r\nprimadonanya komoditas ekspor dari Indonesia. Meskipun volumenya lebih kecil\r\ndari tuna namun nilai ekspornya lebih besar. Sehingga udang berkontribusi\r\nsignifikan terhadap pertumbuhan PDB perikanan” jelasnya.
Slamet menerangkan bahwa gejala indikasi penyakit ini\r\ndapat ditemukan baik di hatchery seperti pada post larva benur, air bak benur\r\ndan induk, pakan alami (artemia dan cumi) serta feses. Sedangkan pada tambak, dapat ditemukan pada\r\nudang, kepiting, air tambak dan sedimen (lumpur).
“Oleh karena itu dari hulu hilir harus benar-benar aman.\r\nDi tahun 90an kita mengenal panca usaha, yakni lima usaha yang harus dilakukan\r\noleh pembudidaya seperti persiapan lahan, benur, sarana prasarana (peralatan\r\ndan pakan), manajemen usaha, serta pengendalian penyakit dan lingkungan. Kita\r\nperlu hidupkan kembali konsep yang cukup baik ini” ajak Slamet.
“Sungguh sangat tidak bisa dibayangkan apabila kita\r\nterlambat dalam menyikapi kejadian ini. \r\nCapaian produksi udang yang selalu kita upayakan terus meningkat dari\r\ntahun ke tahun, seketika itu industri udang kita akan hancur seperti yang\r\nterjadi di Thailand dan Vietnam. Dampak yang akan ditimbulkan tidak hanya\r\ndirasakan oleh pembudidaya, melainkan oleh industri lainnya seperti pengolahan,\r\npakan, serta penurunan devisa dari sektor perikanan”Slamet mengingatkan.
Ada 6 (enam) langkah atau upaya yang telah dilakukan oleh\r\npemerintah dalam mencegah penyakit ini yaitu: pertama, Peningkatan kewaspadaan\r\n(public awareness) terhadap gejala-gejala serta cara penanganan EMS/AHPND\r\nmelalui sosialisasi, peningkatan kapasitas pengujian laboratorium serta\r\nmeningkatkan pengawasan terhadap lalu lintas induk, calon induk, benur, serta\r\npakan alami (polychaeta dan artemia) khususnya dari negara wabah. Kedua,\r\nmengajak untuk penebaran benur intensif 80 – 100 ekor per m2.
Selanjutnya ketiga, kembali melakukan persiapan seperti\r\nprinsip-prinsip dasar atau panca usaha (back to basic). Keempat, pelarangan\r\nmenggunakan induk tambak untuk HSRT atau Naupli Center. Kelima, pengembangan\r\nkawasan budidaya perikanan berbentuk klaster secara terpadu dan terintegrasi\r\ndalam satu kesatuan pengelolaan, baik lingkungan, teknologi, input produksi\r\nmaupun pemasaran. Keenam, upaya mempertahankan keberlanjutan usaha budidaya\r\nperikanan melalui pengaturan izin lokasi dan izin lingkungan (AMDAL/UKL-UPL),\r\npenyediaan saluran inlet/outlet yang terpisah.
“Saya akan keluarkan edaran berupa larangan penggunaan\r\ninduk-induk yang diperoleh dari tambak. Kita akan ganti dari hasil breeding\r\nprogram dari broodstock centre yang dimiliki pemerintah. Ini upaya pembenahan\r\nnyata untuk pencegahan penyakit ini. Pada tahap awal edaran ini sifatnya\r\nhimbauan namun pada akhirnya akan kita wajibkan” jelas Slamet.
Selain itu tambah Slamet, upaya-upaya lain juga sudah\r\ndilakukan, “tahun 2019 ini anggaran monitoring residu dan sertifikasi\r\nditingkatkan, tiap kawasan usaha budidaya juga kita dorong harus memiliki\r\nAMDAL. Kemudian tahun 2020 nanti akan kita optimalkan lagi peran\r\nposikandu,”lanjutnya.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
“Saya berharap agar melalui pertemuan ini mampu\r\nmenghasilkan langkah-langkah yang tepat dan efisien dalam pecegahan serta\r\npenanganan AHPND, juga agar seluruh stakeholder segera berbenah dalam upaya\r\nmenangkal penyakit AHPND. Semua ini untuk mencegah agar penyakit ini tidak ada\r\ndi Indonesia” pungkas Slamet mengakhiri sambutannya.

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
