Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong\r\nperluasan kawasan minapadi di berbagai daerah di Indonesia. Adapun Provinsi DIY\r\nmenjadi salah satu target pengembangan kawasan minapadi t...
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong\r\nperluasan kawasan minapadi di berbagai daerah di Indonesia. Adapun Provinsi DIY\r\nmenjadi salah satu target pengembangan kawasan minapadi tersebut.
Sebelumnya, KKP memilih Kabupaten Bantul sebagai sasaran\r\npengembangan minapadi di DIY yakni melalui dukungan percontohan minapadi seluas\r\n15 ha pada TA. 2019. Bentuk dukungan tersebut antara lain benih Ikan nila strain unggul ukuran 6-8 cm\r\natau sebanyak 300 ribu ekor, 15 ton pakan terapung, prasarana dan sarana\r\nlainnya berupa pembuatan caren, pemagaran, peralatan perikanan, serta\r\npendampingan. Adapun Paket bantuan tersebut diberikan kepada kelompok Dwi\r\nManunggal yang beranggotakan 30-40 orang, dengan total bantuan senilai 450 juta\r\nrupiah.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam\r\nketerangannya di sela sela kunjungan kerjanya di kawasan Minapadi Kab. Bantul.\r\nKamis (5/9) mengatakan bahwa pemilihan Kab. Bantul sebagai salah satu kawasan\r\nminapadi tidak terlepas dari potensi bantul yang cukup besar, salah satunya\r\nketersediaan sumber air yang cukup dan lahan persawahan yang luas. Untuk itu,\r\nmenurut Slamet, potensi besar ini harus dapat dimanfaatkan dengan menggenjot\r\nnilai tambahnya melalui usaha minapadi.

"Pengenalan konsep minapadi di Kabupaten Bantul, saya\r\nrasa akan memberikan efek ganda bagi masyarakat. Artinya yang semula hanya\r\nmengandalkan hasil panen padi, maka dengan minapadi, masyarakat akan punya\r\ntambahan pendapatan dari penjualan ikannya. Ini sangat potensial untuk\r\nmendongkrak ekonomi masyarakat", ungkap Slamet.
Slamet menjelaskan bahwa \r\nminapadi merupakan model inovasi akuakultur yang tepat guna, dan\r\npotensial untuk diadopsi dan dikembangkan oleh masyarakat. Selain keuntungan berlipat, model ini juga\r\nsangat ramah lingkungan.
“Minapadi dapat meminimalkan serangan hama pada padi, selain\r\nitu kotoran dari ikan juga menyuburkan padi, sehingga terjadi hubungan yang\r\nmutualisme. Minapadi juga tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida, sehingga\r\nproduk padi yang dihasilkan bersifat organik. Saat ini padi organik memiliki\r\nnilai jual tinggi, karena tergolong kategori premium. Di samping itu melalui sistem ini\r\nproduktivitas padi juga naik ”, Jelas Slamet.

Slamet menambahkan, para ahli telah melakukan penelitian\r\nbahwa budidaya ikan sistem minapadi tidak mengurangi produktifitas padi. Bahkan\r\ndengan sistem ini mampu meningkatkan hasil panen padi hingga 2-3 ton per musim\r\ntanam, sehingga akan meningkatkan pendapatan petani baik pendapatan dari padi\r\nmaupun pendapatan dari ikan. Hal yang menarik menurut Slamet, bahwa selain itu,\r\nke depan lokasi minapadi ini dapat juga dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai\r\nlokasi agrowisata yaitu pariwisata berbasis penggunaan lahan pertanian atau\r\nperikanan untuk menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk selfi, seperti yang\r\nsudah diterapkan di lokasi minapadi lain, misalnya di Sukabumi, Samberembe -\r\nSleman, serta Bali.
"Daerah-daerah tersebut dapat menjadi contoh bagaimana\r\npengelolaan kawasan minapadi dapat menggerakan sektor lain seperti wisata dan\r\nedukasi. Selain minapadi saat ini juga berkembang mina cabe, dan juga mina\r\nterong. Mina cabe bisa dilihat di Dusun Samberembe Sleman ,” jelas Slamet. Untuk mengoptimalkan pengembangan minapadi di\r\nKabupaten Bantul, KKP juga memberikan bantuan Unit Pembenihan Rakyat (UPR) di\r\nKab Bantul. Keberadaan UPR ini untuk penyediaan benih ke lokasi-lokasi minapadi\r\nserta ke masyarakat pembudidaya lainnya. Dengan keberadaan UPR, maka\r\nketersediaan benih untuk ditebar pada musim tanam berikutnya sudah teratasi\r\ndengan sendirinya.
Adapun bantuan Unit Pembenihan Rakyat (UPR) senilai 200 juta\r\ndiberikan kepada kelompok Mina Harapan Sejahtera yang juga beranggotakan 30-40\r\norang. Pulung Haryadi, Asisten III\r\nKabupaten Bantul yang mewakili Bupati Bantul, menyampaikan apresiasi kepada KKP\r\nyang telah membantu Kabupaten Bantul dalam penyediaan gizi ikan bagi\r\nmasyarakat, utamanya dalam meningkatkan konsumsi makan ikan.
“Percontohan minapadi ini merupakan yang pertama di Bantul.\r\nTadi kita lihat bersama bahwa ikan yang dipelihara terlihat sehat dan besar,\r\ninsyaallah akan memberikan hasil yang bagus. Saya berharap kelompok dapat\r\nmemanfaatkan bantuan ini dengan baik sehingga bisa menjadi contoh bagi\r\nkelompok-kelompok lainnya,” tutur Pulung.
Sementara itu, Subandi ketua kelompok Dwi Manunggal\r\nmenyatakan siap untuk mensukseskan program minapadi di Kabupaten Bantul.
“Benih nila yang kami tebar 1,5 bulan yang lalu, kami\r\ntargetkan mampu menghasilkan panen ikan sebanyak 1,2 ton. Dengan pendampingan\r\nteknis yang dilakukan oleh KKP melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar\r\nSukabumi serta penyuluh perikanan setempat, kami optimis target yang kami dapat\r\ntercapai” tutup Subandi.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebagaimana diketahui, sejak tahun 2016 hingga tahun 2018,\r\nKKP telah mengembangkan percontohan minapadi di lahan seluas 580 ha dan\r\nmenyebar di 26 kabupaten di Indonesia. Untuk tahun 2019, DJPB sedang\r\nmengembangkan lagi di lahan seluas 400 ha yang tersebar di berbagai daerah,\r\nsalah satunya di Desa Tamanan, Kabupaten Bantul DIY. Khusus di Provinsi DIY,\r\nlahan minapadi telah mencapai 35 ha, masing-masing 25 ha di Kabupaten Sleman\r\ndan 15 ha di Kabupaten Bantul yang semula tidak ada sama sekali.
Sumber : Humas DJPB

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
