\r\nKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)\r\nmendorong pengembangan inovasi sistem informasi berbasis digital guna\r\nmenjamin konektivitas rantai sistem bisnis akuakultur.\r\n \r\nDirektur Jender...
\r\nKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)\r\nmendorong pengembangan inovasi sistem informasi berbasis digital guna\r\nmenjamin konektivitas rantai sistem bisnis akuakultur.
\r\n
\r\nDirektur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet\r\nSoebjakto mengapresiasi banyaknya start up yang melakukan berbagai\r\ninovasi digital di bidang akuakultur. Hal tersebut disampaikan Slamet saat\r\nmembuka sekaligus menjadi pembicara kunci dalam acara seminar DIGIFISH 2018\r\n"Connecting Aquaculture Through Digital Innovation" di Menara Multimedia\r\nTelkom, Jakarta (7/5).
\r\n
\r\nSlamet menyampaikan bahwa digitalisasi sistem\r\ninformasi akuakultur memiliki arti penting dalam mendorong terjadinya\r\ntransformasi sistem bisnis akuakultur yang lebih efisien. Menurutnya, ada\r\n4 (empat) faktor yang menjadi isu transformasi yaitu: (1) mendorong peningkatan\r\nefesiensi dan daya saing bisnis akuakultur dengan fokus pada pengembangan\r\nkomoditas unggulan; (2) optimalisasi pemanfaatan potensi lahan budidaya\r\nberbasis daya dukung lingkungan; (3) membangun rantai sistem produksi akuakultur\r\ndari hulu ke hilir secara menyeluruh; serta (4) integrasi kegiatan dan anggaran\r\nantara stakeholder terkait.
\r\n
\r\nUntuk itu, Slamet menambahkan bahwa transformasi\r\nindustrialisasi akuakultur yang modern harus mempertimbangkan beberapa hal\r\nyaitu (1) harus berorientasi pada pemanfaatan sumberdaya alam (SDA) secara\r\nefisien, penciptaan nilai tambah dan produktivitas secara optimum; (2)\r\nmendorong keterampilan tenaga kerja melalui peningkatan kapasitas sumberdaya\r\nmanusia (SDM) terlatih; dan (3) pembukaan akses pasar yang luas (hyperkoneksi),\r\ndaya saing tinggi, dan efisiensi manajemen.
\r\n
\r\nIa menambahkan bahwa digitalisasi juga merupakan\r\nbagian upaya KKP dalam memodernisasi sistem informasi kagiatan akuakultur guna\r\nebih meningkatkan kualitas, ketepatan dan efisiensi waktu dalam setiap rantai\r\nbisnis.
\r\n
\r\n"Digitalisasi ini akan menjadi jembatan\r\nmodern bagi seluruh stakeholder perikanan budidaya. Dengan begitu akan terjamin\r\nkonektivitas secara efisien diantara stakeholders. Dalam hal akses pasar,\r\nsistem ini akan mampu menjamin efesiensi rantai pasar, untuk kegiatan on farm\r\nakan lebih efisien waktu, tenaga dan proses”, jelas Slamet.
\r\n
\r\nSementara itu, dalam kesempatan yang sama,\r\nkoordinator Manajemen Program Digital Amoeba Telkom, Fauzan Feisal menyampaikan\r\nbahwa Telkom Indonesia sangat mendukung digitalisasi sektor-sektor ekonomi di\r\nIndonesia, salah satunya dimulai dari sektor agribisnis. Melalui program\r\nDigital Amoeba (sebagai pengelola inovasi dari karyawan), Telkom memulai\r\npembangunan jaringan kerja digitalisasi dengan industri perikanan budidaya,\r\nkarena kunci sukses digital adalah people, inovasi dan sharing-economy.
\r\n
\r\nSalah satu inovasi digital akuakultur hasil\r\nkreasi anak muda yaitu Minapoli, yang mengambil peran sebagai hub jaringan\r\ninformasi dan bisnis perikanan. Sebagaimana disampaikan oleh CEOnya, Rully\r\nSetya Purnama, penyelenggaraan event Digifish 2018 dengan tema Connecting\r\nAquaculture through Digital Innovation ini salah satunya untuk memperluas dan\r\nmemperkuat jaringan perikanan agar tercipta sinergi yang lebih erat dan lebih\r\nbaik bagi perkembangan industri perikanan ke arah yang lebih positif.
\r\n
\r\nPada acara yang sama juga ditampilkan berbagai\r\ninovasi digital yang mulai berkembang di bidang akuakultur diantaranya\r\nE-fishery, Iwa-Ke, fisHby, Jala, InFishta dan Growpal. E-fishery adalah\r\nteknologi pintar sebagai solusi pemberian pakan yang mudah dan efisien untu\r\nmengintegrasikan untuk pemberian pakan dengan metode continuous feeding untuk\r\nmemenuhi pola makan udang yang terus menerus. Kemudian, Iwa-Ke merupakan start\r\nup yang bergerak dalam bidang distribusi beragam ikan seperti ikan nila merah,\r\npatin dan gurami melalui sarana informasi digital untuk pemasaran antaranya\r\nGo-Jek, Iwa-Ke Depot serta telah memiliki mitra pembudidaya lebih dari 60 Ha\r\ndan jaringan pembudidaya diberbagai provinsi.
\r\n
\r\nFisHby merupakan start up digital akuakultur\r\nuntuk menggalang dana yang dibutuhkan oleh pembudidaya kemudian menyalurkannya\r\nsesuai dengan perjanjian di awal. Berbeda dengan fisHby, Jala merupakan solusi\r\nbertambak udang yang menawarkan sistem manajemen terkini, dengan berbasis data,\r\nuntuk membantu petambak untuk membuat keputusan manajemen yang tepat\r\nberdasarkan informasi aktual yang terjadi di tambak.
\r\n
\r\nDalam hal investasi akuakultur, start up\r\nberbasis digital seperti InFishta membantu pencarian modal invertasi perikanan\r\nyang dapat berdampak sosial sehingga membantu pembudidaya ikan untuk\r\nmendapatkan sumber modal, sekaligus mendapatkan keuntungan. Kemudian, Growpal\r\nmemberikan peluang untuk membuat perubahan secara sosial melalui penanaman\r\ninvestasi dengan keuntungan yang menjanjikan di sektor perikanan dan kelautan.
\r\n
\r\nPemanfaatan teknologi informasi berbasis digital\r\ntelah dilakukan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) yaitu pertama,\r\nsistem perizinan online melalui aplikasi kegiatan usaha bisnis akuakultur\r\n(AKUBISA) yang meliputi izin pemasukan ikan hidup (SIAPIH), izin pengangkutan\r\nikan hidup hasil budidaya (SIKPI), serta rekomendasi pembudidayaan ikan\r\npenanaman modal (RPIPM). Kedua, pemanfaatan teknologi informasi melalui inovasi\r\nteknologi untuk mendorong peningkatan produktivitas, efisiensi usaha perikanan\r\nbudidaya dan meningkatan daya saing produksi melalui aplikasi pemanfaatan\r\nautofeeder, penerapan budidaya sistem bioflok, serta budidaya sistem keramba\r\njaring apung (KJA) offshore yang berbasis pada teknologi digital.
Sumber : http://kkp.go.id/djpb/artikel/3929-kkp-dorong-pengembangan-akuakultur-berbasis-digital
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
