Minapoli
KKP Dorong Industrialisasi Patin Berkelanjutan
Patin

KKP Dorong Industrialisasi Patin Berkelanjutan

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
3 menit baca

JAKARTA - Kementerian Kelautan dan\r\nPerikanan (KKP) menyiapkan strategi  pemenuhan\r\nsuplai produk patin nasional salah satunya dengan mendorong industrialisasi\r\nbudidaya patin berkelanjutan...

JAKARTA - Kementerian Kelautan dan\r\nPerikanan (KKP) menyiapkan strategi pemenuhan\r\nsuplai produk patin nasional salah satunya dengan mendorong industrialisasi\r\nbudidaya patin berkelanjutan di\r\nsentral-sentral produksi. Hal tersebut menyusul semakin terbukanya peluang\r\npasar ekspor patin nasional khususnya ke kawasan Timur Tengah. Sebelumnya KKP\r\ndengan Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) telah meluncurkan brand \r\nmarket "Indonesian Pangasius,\r\nthe Better Choice" pada pameran Seafex di Dubai Oktober 2018 lalu.

Disamping\r\nitu, menyusul penetapan ikan patin sebagai menu makanan haji Indonesia tahun\r\n2019 oleh Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh, Kementerian Agama, secara\r\nlangsung membuka peluang ekspor produk patin ke Kerajaan Saudi Arabia.

Menanggapi\r\nhal tersebut, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam\r\nketerangannya di Jakarta (26/5) mengatakan bahwa semakin terbukanya pasar\r\nekspor patin, akan secara langsung berdampak positif terhadap geliat usaha\r\nbudidaya di berbagai daerah. Menurutnya, permasalah pasar selama ini kerap jadi\r\nsalah satu yang dikeluhkan para pembudidaya. Oleh karenanya, ia mengatakan\r\noptimis, jika pasar terbuka, maka nilai tambah akan lebih banyak dirasakan para\r\npembudidaya.


"Saya\r\ndapat info dari teman-teman APCI bahwa akan ada rencana ekspor perdana produk\r\npatin ke Saudi Arabia dalam waktu dekat. Ini sangat positif, dan menambah\r\noptimisme kami, bahwa komoditas patin mulai jadi unggulan ekspor dan tentu akan\r\nmeningkatkan nilai devisa. Ini yg harus kita dorong, agar produk budidaya bisa\r\ntembus ekspor.

Slamet\r\njuga mengatakan optimis untuk memenuhi kebutuhan ekspor dan memberikan suplai\r\nshare yang besar. Ia memastikan telah menyiapkan strategi yakni melalui\r\nindustrialisasi budidaya patin berkelanjutan.

Slamet\r\nmenjabarkan bahwa industrialisasi ini harus dibangun dalam setiap rantai sistem\r\nproduksi khususnya benih dan pakan. Ia menekankan pentingnya industrialisasi\r\nperbenihan untuk mendukung industry budidaya patin berkelanjutan.

"Jadi\r\nmasalah benih ini bagian yang sangat penting. Melalui industrialisasi\r\nperbenihan kita akan dorong pemenuhan kebutuhan benih yang unggul dan adaptif\r\nmelalui breeding program untuk perbaikan genetik. Disamping itu, kita juga akan\r\nbangun sistem logistiknya, sehingga ada konektivitas yang efisien mulai dari\r\nbroodstock center, larva center, UPR dan pembudidaya di sentral sentral\r\nproduksi. Jika benih berkualitas maka akan berpengaruh langsung terhadap\r\nefisiensi pakan juga", jelas Slamet.

“Selain\r\npenguatan induk dan benih, KKP juga melakukan pengembangan pakan mandiri.\r\nKhususnya untuk ikan-ikan air tawar, seperti patin, hal ini untuk menekan biaya\r\nproduksi patin, sehingga produk semakin berdaya saing”, lanjut Slamet


Terkait\r\npeningkatan daya saing produk, KKP juga terus fokus untuk mendorong penerapan\r\ncara budidaya ikan yang baik (CBIB) atau yang juga dikenal dengan Sertifikasi\r\nIndo-GAP (Indonesian Good Aquaculture Practices) yang setara atau diakui juga\r\nsecara internasional.

"Terkait\r\nsertifikasi Indo-GAP akan terus didorong untuk menjamin keberterimaan produk\r\npatin nasional di dunia internasional. Saya optimis, preferensi konsumen global\r\nakan semakin tinggi dan ini kesempatan kita untuk mengisi market share ekspor\r\nke berbagai negara, khususnya Timur Tengah", pungkas Slamet.

Hal\r\nsenada juga disampaikan Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), Imza\r\nHermawan. Imza saat dikonfirmasi mengakui bahwa aktivitas budidaya berjalan\r\ndengan cukup baik. Namun, ia juga menekankan pentingnya mendorong kualitas\r\ninduk dan benih.

"Jadi\r\ninduk dan benih berkualitas ini faktor utama penentu kesuksesan budidaya, utamanya\r\ndalam meningkatkan efisiensi priduksi. FCR bisa ditekan, jika benih yang\r\ndigunakan berkualitas", akunya.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk\r\ndiketahui, data sementara produksi ikan patin nasional tahun 2018 sebesar\r\n391.151 ton, naik 22,25% dari 319.966 ton pada tahun 2017.

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan