Minapoli
KKP Bersama FAO Berhasil Kembangkan Pakan Ikan Berbahan Baku Bungkil Kelapa Sawit di Sumatera Selatan
Mas

KKP Bersama FAO Berhasil Kembangkan Pakan Ikan Berbahan Baku Bungkil Kelapa Sawit di Sumatera Selatan

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
5 menit baca

Bungkil kelapa sawit atau dikenal dengan\r\nPalm Karnel Meal (PKM) merupakan produk sampingan pembuatan minyak kelapa sawit\r\nyang tersedia sepanjang tahun di Provinsi Sumatera Selatan berpotensi seb...


Bungkil kelapa sawit atau dikenal dengan\r\nPalm Karnel Meal (PKM) merupakan produk sampingan pembuatan minyak kelapa sawit\r\nyang tersedia sepanjang tahun di Provinsi Sumatera Selatan berpotensi sebagai\r\nbahan baku pakan ikan.

Untuk itu, Kementerian Kelautan dan\r\nPerikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Budidaya bersama Food and Agriculture\r\nOrganization (FAO) mengembangkan pakan ikan patin berbahan baku PKM di Sumatera\r\nSelatan melalui proyek “Supporting Local Feed Self-Sufficiency for Inland\r\nAquaculture Development in Indonesia”.

Bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia (World\r\nFood Day), Rabu (16/10), KKP melakukan panen perdana kolam percontohan pakan\r\nikan mandiri di Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Jarwo di Desa Sungai\r\nRegit, Kec.Talang Kelapa, Kab. Banyuasin, Sumatera Selatan.

Dalam keterangannya di Jakarta, Direktur\r\nJenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto sangat mengapresiasi proyek\r\npakan mandiri ini. “Kalau Palm Karnel Meal atau disingkat PKM ini sudah\r\nberhasil dikembangkan, kita dapat mengurangi penggunaan tepung ikan yang selama\r\nini sebagian besar kebutuhannya memang masih dari impor”. Apalagi Indonesia\r\nmerupakan penghasil PKM terbesar kedua setelah Malaysia," kata Slamet.

Lanjutnya, sejak tahun 2019 ini, KKP\r\nbersama FAO memang sedang mengembangkan pakan ikan mandiri berbahan baku lokal\r\nyaitu PKM sawit melalui uji coba pakan untuk membandingkan efektivitas dan\r\nefisiensi dari formula pakan yang direkomendasikan FAO dengan pakan yang\r\nbiasanya digunakan oleh pembudidaya patin. Uji coba ini melibatkan 6 kelompok\r\npembuat pakan ikan yang berlokasi di Kabupaten Banyuasin dan Kota Palembang.

“Kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan\r\nproduksi pakan ikan khususnya patin yang berkualitas tinggi dan hemat biaya\r\nyang mampu diproduksi oleh produsen pakan skala kecil di Indonesia. Apalagi,\r\npakan mandiri sebagian besar sekitar 80% memang digunakan untuk pakan ikan\r\npatin”, ujarnya.


Lalu kata Slamet, tujuan lainnya adalah\r\nmeningkatkan produksi ikan air tawar secara signifikan dengan cara pengelolaan\r\npakan yang lebih efektif dan efisien dengan pengurangan ketergantungan pada\r\nbahan pakan impor. Selain itu juga menciptakan kesempatan kerja alternatif\r\nsektor perikanan budidaya untuk meningkatkan pendapatan bagi penduduk\r\npedesaan.

“Pakan mandiri saat ini semakin diminati\r\ndan menjadi andalan pembudidaya ikan skala kecil, karena terbukti memberi nilai\r\ntambah keuntungan, mampu menekan 30 – 50% dari biaya produksi. Selain itu,\r\nkualitas pakan mandiri mampu bersaing dengan pakan pabrikan”, tutur Slamet.

Slamet berharap produk PKM agar tidak\r\nsemuanya untuk diekspor, mengingat PKM ini merupakan bahan baku kaya protein\r\nyang dapat menjadi sumber bahan baku pakan ikan, sehingga masyarakat pembuatan\r\npakan ataupun para pembudidaya juga dapat meningkatkan keuntungan usahanya.

“Saya rasa pemanfaatan PKM ini bisa menjadi\r\nCSR (tanggung jawab sosial) perusahaan kepada kelompok pakan mandiri yaitu\r\ndalam bentuk dukungan pemenuhan kebutuhan PKM bagi bahan baku pakan secara\r\nkontinu”, Slamet menyakinkan.

"Indonesia ini kaya akan bahan baku\r\npakan karena merupakan negara tropis dimana biota mudah sekali tumbuh, baik\r\ndari tumbuh tumbuhan maupun hewan serta limbahnya yang sangat potensi sebagai\r\nbahan baku pakan”, tutup Slamet.

Untuk diketahui, pemanfaatan tumbuhan\r\nsebagai pengganti tepung ikan juga telah dilakukan oleh salah kelompok pakan\r\nmandiri di Lampung dengan mengembangkan tanaman legum atau dikenal dengan\r\nindigofera. Beberapa referensi menyebutkan, Indigofera mengandung protein\r\nsebesar 23 - 26%, selain itu kaya serat dan kalsium.

Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (pokdakan)\r\nJarwo yaitu Wagiman, mengakui dengan penggunaan pakan mandiri formulasi FAO,\r\npertumbuhan ikan patin yang dipeliharanya lebih baik dibandingkan dengan\r\npenggunaan pakan yang mereka produksi.


“Kalau dengan pakan yang kami produksi\r\nkandungan proteinnya hanya 18% kemudian ikan patin yang dipelihara 6 bulan\r\nhanya mencapai ukuran 400 – 500 gr per ekor (1 kg isi 3 ekor), sedangkan dengan\r\npakan formulasi FAO, proteinnya bisa mencapai 28% dan berat panennya bisa >\r\n600 gr per ekor”, ujar Wagiman saat dimintai keterangan di sela-sela panen\r\nikan.

Menurut Wagiman memang selama ini\r\nkelompoknya, memproduksi pakan ikan tanpa proses penepungan terlebih dahulu,\r\nsehingga kemungkinan nutrisi dalam bahan baku tidak tercampur sempurna.\r\nSedangkan untuk memproduksi pakan formulasi FAO, semua bahan baku harus masuk\r\ntahap penepungan baru kemudian dicampur bersamaan dalam mixer.

“Sebelum proyek ini, kami tidak\r\nmemanfaatkan bungkil kelapa sawit ini yang ternyata berpotensi menjadi bahan\r\nbaku pakan ikan karena kandungan proteinnya yang cukup tinggi berkisar 18 –\r\n20%”, sambung Wagiman.

Komposisi pakan FAO sendiri terdiri dari\r\nsilase ikan (7,5%); kepala udang (10%); ikan asin (34%); poles (22,5%); bungkil\r\nsawit (21,6%); kanji/sagu (4%); premix (0,25%); multi-enzyme (0,1%) dan phytase\r\n(0,05%). Selain itu, FAO juga memberikan bantuan berupa mesin pencampur dan\r\nmesin penepung.

Pada kesempatan yang sama, Kepala\r\nPerwakilan FAO Indonesia, Stephen Rudgard menyampaikan dukungannya bagi Indonesia\r\ndalam mencapai kemandirian pakan ikan, sehingga keberhasilan pengembangan pakan\r\nmandiri di Indonesia dapat menjadi rujukan tersendiri di level Asia Pasifik\r\nterlebih saat ini Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang memberikan\r\nperhatian terhadap kemandirian pakan ikan yang dilaksanakan masyarakat.

Stephen juga sangat mengapresiasi\r\npemanfaatan bungkil kelapa sawit untuk bahan baku pakan ikan patin.

Ia berharap kerjasama ini dapat mendorong\r\nkesuksesan gerakan pakan ikan mandiri (Gerpari) yang telah dilakukan oleh\r\npemerintah sejak tahun 2015.


"Kegiatan pakan mandiri sangat tepat\r\ndengan semangat dunia untuk meningkatkan ketahanan pangan, mengurangi kelaparan\r\ndengan penyediaan pangan yang sehat, yang sesuai dengan tema hari pangan\r\nsedunia hari ini yaitu our actions are our future, healthy diets for a zero\r\nhunger world. Melalui pakan ikan mandiri maka kita mampu menyediakan kebutuhan\r\nprotein yang sehat yaitu ikan dengan harga yang lebih murah sehingga akan\r\nmembantu penanganan kelaparan serta mengurangi malnutrisi di masyarakat",\r\nujar Stephen.

Pada kegiatan tersebut, KKP juga memberikan\r\nbantuan kepada masyarakat Kabupaten Banyuasin berupa 1 paket mesin pakan ikan\r\nmandiri dan bahan baku pakan kepada Kelompok Lele Organik, 1 unit eskavator\r\nkepada Koperasi Sumber Bahari, 300 ribu benih ikan lele dan patin dan 30 ton\r\npakan ikan kepada Kelompok Family Farm, bantuan 721 ekor calon induk kepada\r\nKelompok Ranggon Jaya Bersama serta 5 paket budidaya bioflok. Total bantuan\r\nsenilai kurang lebih 2,6 millar rupiah.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Sedangkan bantuan dari FAO berupa 17 unit\r\nmesin mixer pakan dan 5 unit mesin penepung (hammer mill).


Sumber : Humas DJPB

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan