Kementerian Kelautan dan Perikanan\r\n(KKP) menggelar dialog dengan\r\nPembudidaya ikan dan Kelompok Pakan Ikan Mandiri se-Garut di Leles Lestari di\r\nDesa Leles Kecamatan Leles, Sabtu (28/12/2...

Kementerian Kelautan dan Perikanan\r\n(KKP) menggelar dialog dengan\r\nPembudidaya ikan dan Kelompok Pakan Ikan Mandiri se-Garut di Leles Lestari di\r\nDesa Leles Kecamatan Leles, Sabtu (28/12/2019).
Dialog Menteri Kelautan dan Perikanan ini\r\ndihadiri oleh Wakil Bupati Garut, Ketua dan wakil DPRD Kabupaten Garut, Dirjen\r\nPerikanan Budidaya, Plt Dirjen Pengelolaan Ruang Laut, Kepala Dinas Kelautan\r\ndan Perikanan Provinsi Jawa Barat, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Garut,\r\nCamat Leles dan Kepala Desa Leles.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy\r\nPrabowo dalam kesempatan ini menegaskan bahwa sebagai Menteri dirinya diperintahkan\r\nPresiden untuk terus membangun komunikasi kepada pembudidaya dan nelayan dengan\r\nbaik serta membangun sentra produksi perikanan budidaya dengan optimal, karena\r\ndi perikanan budidaya akan tercipta lapangan pekerjaan dan devisa untuk negara.
”Potensi perikanan budidaya kita sangat\r\nbesar, ini dapat dilihat dari potensi perikanan yang ada. Namun demikian,\r\npotensi tersebut baru 10 % dimanfaatkan belum optimal dan harus kita\r\ntingkatkan. Kelompok Leles Lestari menjadi contoh atau model untuk dikembangkan\r\noleh pembudidaya ikan dan kelompok pakan ikan mandiri lainnya” Jelas Edhy.

Edhy sangat bangga dan memberikan apresiasi\r\nkepada Kelompok Leles Lestari yang dapat mengolah sampah organik dari limbah\r\nkulit nangka, kulit pisang, dan lain-lain yang dikumpulkan oleh masyarakat\r\nsebanyak 7 Ton dapat menghasilkan 3,5 Ton maggot sebagai bahan baku pakan ikan\r\nyang proteinnya tinggi.
Menteri Edhy menyampaikan bahwa betapa\r\npentingnya pembuatan pakan secara mandiri oleh para kelompok pembudidaya ikan.\r\nArtinya mengurangi ketergantungan dari pakan pabrikan yang harganya semakin\r\nhari semakin mahal.

Edhy sangat bangga dan mengapresiasi satu\r\nkeberhasilan yang luar biasa yang dilakukan oleh kelompok Leles Lestari dalam\r\nmemproduksi pakan mandiri berkualitas. Terlebih kelompok ini mampu memproduksi\r\nmaggot atau BSF (Black Soldier Fly) sebagai sumber protein yang baik bagi\r\npertumbuhan ikan. Black Soldier Fly (BSF)/Lalat Tentara Hitam dalam bahasa\r\nIndonesia dan Hermetia illucens (latin) merupakan jenis lalat dari sekian\r\nbanyak jenis lalat yang ternyata memberikan banyak sekali manfaat bagi manusia.\r\nSelama hidupnya maggot ini memakan hal-hal yang bersifat organik, dan ini dapat\r\ndimanfaatkan untuk menekan limbah organik. Protein serangga ini memiliki\r\nkualitas yang tinggi dan menjadi sumber daya makanan ikan. Selain itu sebagai\r\nsalah satu upaya solusi terhadap pelestarian lingkungan dan sumberdaya alam\r\nuntuk menghadirkan manfaat bagi kemandirian dan pemberdayaan masyarakat sekitar
“Ini capaian luar biasa yang memegang\r\nprinsip zero waste (tanpa limbah) dan ini saya kira wajib menjadi rekomendasi\r\nbagi pembudidaya ikan lainnya. Bisa dibayangkan jika semua mampu menghasilkan\r\ninovasi serupa, maka bukan hanya nilai ekonomi yang didapatkan, tapi secara\r\nlangsung kita berperan dalam penyelamatan bumi dari masalah sampah” jelas\r\nMenteri Edhy.
Menteri Edhy mengucapkan terima kasih atas\r\nsegala upaya dan dukungannya terhadap program pakan mandiri yang merupakan\r\nprogram strategis nasional dalam rangka meningkatkan pendapatan nasional,\r\nmenciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan daerah dan\r\nnasional. Untuk itu, kelompok pakan ikan mandiri dan pembudidaya ikan siap\r\ndibantu terutama peralatan yang dibutuhkan dalam rangka meningkatkan produksi\r\npakan dan produksi ikan budidaya dan ini bisa \r\ndijadikan barometer program pakan nasional,” pungkasnya.
“Saya juga sekilas membaca profile kelompok\r\nini yang juga mampu memproduksi varian produk ikan sehat dan higienis hasil\r\nbudidaya dengan brand "green fish farming". Ini patut dikembangkan\r\nuntuk memenuhi kebutuhan domestik dengan menembus pasar pasar ritel modern,\r\nsehingga nilai tambahnya lebih besar atau jika memungkinkan mampu menembus\r\npasar ekspor. Dengan label "green fish" akan menarik konsumen global\r\nyang preferensinya pada produk organik, aman dan ramah lingkungan” ujar Edhy.

Sementara itu Slamet Soebjakto dirjen\r\nPerikanan Budidaya KKP menyampaikan bahwa program kerja KKP untuk peningkatan\r\nbudidaya ikan air tawar terus digenjot, tidak hanya melalui program pakan\r\nmandiri, namun juga program budidaya sistem bioflok, minapadi, bantuan bibit\r\ndan induk unggul, pembangunan Unit Pembenihan Rakyat, serta kegiatan\r\npendampingan teknologi oleh para penyuluh maupun Unit Pelaksana Teknis DJPB,\r\ndalam hal ini UPT yang terdekat Balai Besar Budidaya Ikan Air Tawar di\r\nSukabumi.
“Dukungan yang diberikan saya harap dapat\r\ndimanfaatkan sebaik mungkin guna meningkatkan usaha kelompok hingga akhirnya\r\nkelompok dapat mencapai kemandirian usaha dan saya mengajak kepada seluruh\r\nstakeholders, mari bekerjasama memajukkan perikan budidaya nasional tentu untuk\r\nkemaslahatan bangsa ini” jelas Slamet.
Dalam kesempatan yang sama Pimpinan\r\nkelompok pakan ikan mandiri, Yosep\r\nPurnama menjelaskan kelompok ini bergerak di bidang pengembang pemberdayaan dan\r\nkemandirian masyarakat melalui pelestarian lingkungan hidup serta dapat\r\nmelakukan BioKonversi limbah organik menjadi sumber daya material industri hulu\r\nbudidaya perikanan.
"tujuan saya mendirikan kelompok ini\r\nyakni untuk mengurangi volume sampah serta membangun pola penanganan sampah\r\nyang lebih aman bernilai edukasi dan ekonomi" ujar Yosep.
Selain membuat pakan ikan mandiri kelompok\r\nLeles Lestari ini juga memiliki kolam untuk budidaya ikan mas, nila, gurame dan\r\nkoi, budidaya ayam organik, budidaya\r\nburung berkicau, budidaya tanaman hias, fasilitas mesin dan bank sampah.
Sementara itu Tandi Sutandi, Kelompok Lele\r\nCikadu menjelaskan dengan adanya perhatian dari pemerintah kelompoknya merasa\r\nterbantu secara ekonomi untuk mengurangi beban keluarga.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
"Alhamdulillah kelompok saya mendapat\r\nbantuan dari KKP dan saya berharap kedepannya pemerintah selalu memperhatikan\r\npembudidaya seperti saya ini". ucap Tandi
Sumber : Humas DJPB

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
