Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggagas komoditas\r\nikan budidaya baru, yaitu king cobia (kobia).\r\n\r\nMenteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyampaikan\r\napresiasinya kepada Bal...

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggagas komoditas\r\nikan budidaya baru, yaitu king cobia (kobia).
\r\n\r\nMenteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyampaikan\r\napresiasinya kepada Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPPL) Lampung dan\r\npara stakeholder terkait yang telah berhasil memproduksi ikan kobia secara\r\nmassal. Keberhasilan ini menambah daftar varian komoditas budidaya yang\r\nmemiliki nilai ekonomis tinggi.
\r\n\r\n“Saya menyampaikan selamat dan sangat bangga atas\r\nkeberhasilan teman-teman BBPPL Lampung dan stakeholders yang terlibat dalam\r\npengembangan komoditas king kobia. Saya pikir ini adalah salah satu tambahan\r\nbaru pengembangan spesies ikan budidaya. Kami harapkan ke depan akan tumbuh\r\nspesies-spesies baru yang bisa kita kembangkan,” ucap Edhy dalam keterangan\r\ntertulisnya, Jakarta, Kamis (7/11/2019).
\r\n\r\nSaat ini, king kobia merupakan komoditas ikan laut yang\r\nsedang naik daun dan terus disosialisasikan kepada para pembudidaya. Teknologi\r\nbudidaya king kobia di BBPBL Lampung telah berkembang pesat dan sukses dalam\r\nmelakukan pemeliharaan induk, pemijahan induk, pemeliharaan larva, produksi\r\nbenih, serta kegiatan produksi ukuran konsumsi di Keramba Jaring Apung (KJA).
\r\n\r\nBBPBL Lampung telah memulai kegiatan pemeliharaan larva\r\nkobia di hatchery secara indoor dari tahun 2009. Dengan berbagai tahapan\r\nteknologi yang telah dilakukan, dapat dijelaskan bahwa King kobia bukan\r\nmerupakan ikan hasil rekayasa genetika.
\r\n\r\nDirektur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mengatakan, king kobia (Rachycentron canadum) akan dikembangkan menjadi\r\nkomoditas unggulan yang baru subsektor perikanan budidaya. Karena spesies ikan\r\nlaut karnivora ini memiliki sejumlah keunggulan untuk dibudidayakan.
\r\n\r\nKing kobia memiliki performa pertumbuhan yang cepat yakni\r\n4-6 kg setahun. Selain itu, king kobia juga mudah untuk diadaptasikan, dipijah,\r\ndan dibesarkan dalam kondisi budidaya. Waktu pemeliharaannya pun relatif lebih\r\nsingkat dibandingkan dengan ikan laut lainnya (berat ikan 3 kg dalam 9 bulan).
\r\n\r\nDari segi konsumsi, king kobia juga memiliki keunggulan\r\nkarena mengandung EPA, DHA, dan asam lemak omega 3 lainnya. Kualitas dagingnya\r\njuga sempurna dengan tekstur dagingnya yang putih.
\r\n\r\n“Sedangkan dari segi pemasaran, king kobia memiliki pasar\r\nyang luas karena dapat dipasarkan sebagai ikan segar beku maupun fillet. Selain\r\nitu, king kobia juga banyak digunakan untuk sport fishing,” katanya.
\r\n\r\nPasar king kobia masih terbuka luas, baik pasar dalam negeri\r\nmaupun pasar ekspor. Slamet mengatakan, preferensi konsumen terhadap kualitas\r\ndaging kobia ini sangat baik. Selain itu, pasar ekspor ikan kobia cukup terbuka\r\nantara lain Hong Kong, Taiwan, Jepang, Australia, dan Eropa.
\r\n\r\n“Sebagai negara yang telah berhasil kembangkan kobia, ini\r\nmenjadi peluang tersendiri bagi Indonesia untuk mendominasi supply share, dan\r\ntentunya akan menambah devisa ekspor,” kata Slamet.
\r\n\r\nBudidaya king kobia juga berdampak positif terhadap\r\nlingkungan. Kegiatan budidaya king kobia sangat penting untuk mengurangi\r\neksploitasi king kobia di alam.
\r\n\r\nKing Kobia mempunyai tropic level tinggi dengan jumlah yang\r\nterbatas di alam sehingga apabila dieksploitasi di alam akan mengancam\r\nkelestarian plasma nutfahnya. Secara langsung maupun tidak, hal ini akan\r\nmempengaruhi kesejahteraan masyarakat serta keseimbangan ekosistem di perairan.
\r\n\r\nKe depannya, pengembangan budidaya king kobia akan dilakukan\r\nmelalui budidaya ikan yang baik dan tersertifikasi yang menerapkan kaidah Cara\r\nPembenihan Ikan yang Baik (CPIB) dan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dengan\r\nstandar Internasional yang sesuai dengan permintaan pasar perikanan global.
\r\n\r\nMelalui sertifikasi tersebut, bukan hanya aspek mutu, food\r\nsafety, dan social responsibility, namun juga menerapkan aspek aspek\r\nkeberlanjutan.
Sumber : Oke Zone

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
