Pada hari Sabtu 4 Mei 2019, sebuah perahu jukung berwarna\r\nbiru merapat di Bangsal, Lombok. Dari perahu jukung tersebut turunlah Budiprawira,\r\nDirektur PT. Gani Arta Dwitunggal, dan Ikhw...
Pada hari Sabtu 4 Mei 2019, sebuah perahu jukung berwarna\r\nbiru merapat di Bangsal, Lombok. Dari perahu jukung tersebut turunlah Budiprawira,\r\nDirektur PT. Gani Arta Dwitunggal, dan Ikhwan Arief, pengurus Wisata\r\nBangsring Underwater. Di pantai telah menunggu wartawan, Dinas Kelautan\r\nPerikanan Lombok, Dinas Pariwisata Lombok, dan nelayan-nelayan yang penuh rasa\r\ningin tahu.
Kedatangan perahu jukung ini di Lombok merupakan event yang\r\nunik, di mana ini merupakan kedua kalinya (yang pertama pada bulan April 2016)\r\nperahu jukung sukses dipakai menyeberangi selat Bali dan Selat Lombok.\r\nPenunggang jukung yakni tidak lain adalah produsen dari perahu jukung ini\r\nsendiri, yaitu Budiprawira, ditemani kawan lamanya Ikhwan Arief. Perahu jukung\r\nberangkat dari Pantai Bangsring, Banyuwangi tanggal 3 Mei untuk tujuan\r\npembuktian ketahanan perahu jukung berbahan HDPE, yang terbukti sukses\r\nmenyeberangi kedua selat yang dikenal memiliki arus cukup kencang.
Jukung HDPE Kurangi\r\nPenebangan Pohon
Sebelumnya, perlu dijelaskan dulu mengenai sejarah perahu\r\njukung. Perahu jukung merupakan sarana transportasi air yang paling umum\r\ndigunakan oleh nelayan Indonesia, di mana pada tahun 2010 tercatat bahwa\r\nsetidaknya terdapat 350.000 buah perahu jukung tradisional berbahan kayu yang\r\noperasional di perairan nusantara. Dengan begitu banyaknya perahu jukung kayu\r\nyang operasional, faktor ramah lingkungan, kapasitas, dan keamanan perlu\r\ndiperhatikan karena berhubungan langsung dengan produksi ikan nasional dan\r\nkeselamatan nyawa dari nelayan.
Salah satu kendala dari perahu jukung tradisional berbahan\r\nkayu adalah bahannya yang terbuat dari kayu. Batang pohon besar yang utuh\r\ndiceruk menjadi lambung dan dipasangi cadik pada sisi kiri dan kanannya menjadi\r\nsebuah perahu jukung kayu. Hal ini berdampak buruk bagi kelestarian hutan di\r\nIndonesia karena rata-rata perahu jukung kayu hanya mampu bertahan untuk 1-2\r\ntahun, sedangkan pohon yang digunakan untuk membuatnya memerlukan waktu 20\r\nhingga 40 tahun untuk tumbuh. Tidak hanya itu, perahu jukung kayu beresiko\r\ntenggelam pada saat nelayan melaut. Tidak jarang nelayan Indonesia di pesisir\r\ndan pulau-pulau kecil yang hilang setelah melaut, yang jumlahnya bisa mencapai\r\nratusan orang dalam setahun.
Ketahanan bahan kayu yang mudah lapuk ini menjadi perhatian\r\nutama Budiprawira dalam mendesain perahu jukung. Setelah mempertimbangkan\r\nbahan-bahan lainnya seperti fiber, didapat bahwa High Density\r\nPolyethylene atau disebut juga HDPE memiliki ketahanan yang paling baik\r\nuntuk sarana transportasi air.
Ketahanan Jukung yang\r\nSudah Teruji
HDPE memiliki ketahanan terhadap benturan yang jauh lebih\r\ntinggi dibandingkan dengan kayu dan fiber, dan juga tahan korosi maupun lapuk\r\ndengan umur pakai 25 tahun. Oleh karena itulah diciptakan perahu jukung HDPE\r\nanti tenggelam dengan Merk Aquatec. Selain menggunakan bahan HDPE, perahu\r\njukung yang didesain langsung oleh Budiprawira memiliki fitur anti tenggelam.\r\nHal ini dimungkinkan karena lambung jukung HDPE terbuat dari pipa pelampung\r\nraksasa dengan diameter 63 cm dan panjang 9,8 m, dengan 3 buah sekat di\r\ndalamnya.
Pipa pelampung memiliki ketebalan 14 mm, dengan bagian dasar\r\nyang sering bergesekan dengan pasir memiliki ketebalan 28 mm, sehingga tahan\r\nterhadap benturan kecepatan sedang. Sistem pipa pelampung membuat daya apung\r\ndari perahu jukung HDPE berada di dalam pipa pelampung dan tidak bergantung\r\npada ruang penumpang di atasnya, sehingga perahu jukung HDPE tidak dapat\r\ntenggelam sekalipun dalam cuaca buruk ataupun terbalik. Sekat dalam pipa pelampung\r\nmemastikan perahu jukung HDPE tetap aman sekalipun apabila pelampung mengalami\r\nkerusakan. Perahu jukung HDPE anti tenggelam memiliki daya apung bersih 1.800\r\nkg.
Perahu jukung HDPE anti tenggelam dilengkapi dengan 2 buah\r\ncadik pelampung berdiameter 22,5 cm. Cadik membuat perahu jukung HDPE memiliki\r\nlebar 5,5 m, sehingga sangat stabil dalam melaut. Berbekal pada teknologi\r\ntersebut, Budiprawira percaya diri untuk menguji sendiri ketahanannya. Perahu\r\njukung HDPE kemudian dilengkapi dengan outboard engine 40pk x\r\n2, remote steer, remote gas, remote maju-mundur, remote naik-turun\r\nmesin, serta GPS dan kompas. Perjalanan dari Bangsring Banyuwangi menuju\r\nBangsal Lombok ditempuh hanya dalam waktu 7,5 jam saja: 4,5 jam perjalanan dari\r\nBangsring Banyuwangi menuju Tulamben Bali untuk isi bensin, langsung dilanjut 3\r\njam perjalanan dari Tulamben Bali menuju Bangsal Lombok. Arus air laut mengalir\r\ndari timur ke barat sehingga selama perjalanan, jukung HDPE bergerak melawan\r\narus.
Selama perjalanan tersebut pula, Budiprawira bersama Ikhwan\r\nArief menghadapi ganasnya ombak besar yang mengakibatkan mesin mati satu.\r\nUntungnya dengan ketangguhan jukung HDPE, kendala-kendala tersebut dapat\r\nterlewati. Keberhasilan ini merupakan keberhasilan kedua sejak April 2016 (yang\r\ndiuji oleh Budiprawira, Ikhwan Arief, beserta Andi Yuslim Patawari), di mana\r\nperahu jukung HDPE anti tenggelam telah memiliki banyak peningkatan sehingga\r\nmemiliki kapasitas lebih besar dan lebih tangguh mengarungi lautan.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Budiprawira yakin perahu jukung HDPE buatannya akan\r\nmemampukan nelayan untuk melaut hingga 4 mil, jauh melebihi kapasitas perahu\r\nkayu tradisional sehingga pantas disebut sebagai sarana transportasi\r\nnelayan zaman now.
Sumber : Info Akuakultur

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
