Minapoli
Jadermawan Sinaga: Nila RAS ala Ibu Rumahan
Mas

Jadermawan Sinaga: Nila RAS ala Ibu Rumahan

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
4 menit baca

Berdiam di rumah bukan berarti tak beraktivitas, melainkan\r\nberperan serta menggiatkan produktivitas hasil perikananMelakukan usaha budidaya, khususnya budidaya ikan air tawar,\r\ntentunya membutuhk...

Berdiam di rumah bukan berarti tak beraktivitas, melainkan\r\nberperan serta menggiatkan produktivitas hasil perikanan

Melakukan usaha budidaya, khususnya budidaya ikan air tawar,\r\ntentunya membutuhkan inovasi yang dinamis. Tidak melulu harus memiliki kolam\r\nluas, berdiam diri di rumah juga bisa menjadi salah satu kiat untuk melakukan\r\nusaha budidaya.

Salah satu usaha budidaya di rumah dilakukan oleh Rafika Br\r\nP yang bermukin di Desa Sumber Mufakat, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo –\r\nSumatera Utara. Yakni usaha budidaya ikan nila dalam sistem Recirculating\r\nAquaculture System (RAS) ala pekarangan rumah.

Apalagi di tengah-tengah pandemi virus covid-19 ini,\r\notomatis kegiatan usaha banyak dialihkan ke dalam rumah. Menurut Rafika,\r\nkegiatan rumahan seperti ini dapat membantu mengurangi kejenuhan ketika\r\nberdiam diri di rumah.

Modalnya pun, ia terangkan, cukup terjangkau. Bermodalkan Rp\r\n10 juta sejak setahun lalu, ia mendapatkan dua kolam terpal bundar berdiamater\r\n1,5 meter (m) beserta naungan atap dan sistem filterisasi sederhana\r\nmenggunakan dua buah drum plastik yang berdiameter 50 cm. Sudah tiga\r\nsiklus ia lalui dengan menerapkan budidaya sistem RAS ini.

RAS sederhana

Rafika bercerita, untuk sistem pemeliharaan budidaya ikan\r\nnila di kolam terpal ini ia terapkan RAS yang sangat sederhana. Yakni, sama\r\nseperti pemeliharaan ikan di dalam akuarium. “Dengan pola sirkulasi air keluar\r\ndari kolam,masuk ke dalam filter dan dialirkan kembali ke dalam kolam\r\npemeliharaan ikan,” ungkap perempuan berusia 31 tahun ini.

Faktor terpenting di dalam sistem RAS ini adalah filter\r\nmemadai untuk menyaring sisa kotoran dari ikan yang dipelihara. “Saya juga\r\nmasih terus belajar untuk sistem filter yang tepat agar sisa kotoran ikan dapat\r\ndisaring dengan sempurna untuk menjaga kualitas air pemeliharaan,” terangnya\r\nyang menerapkan padat tebar 250 ekor benih per kolam terpal.

Trik-trik terkait filter ini harus ia terapkan agar nila\r\nyang ia pelihara dapat tumbuh optimal. Terlebih ketika menghadapi beragam\r\ntantangan berbudidaya. Ketika listrik mati, contohnya. Rafika mengatakan,\r\nketika listrik mati biasanya ikan nila yang ia pelihara akan naik ke permukaan\r\ndikarenakan suplai oksigen di dalam kolam pemeliharaan berkurang.

“Berdasarkan pengalaman saya, apabila listrik mati, kita\r\nkeluarkan kotoran ikan yang mengendap di dasar kolam dan sebisa mungkin kita\r\nalirkan air baru ke dalam kolam walaupun kecil. Dulu pernah listrik mati selama\r\n4 jam dan Alhamdulillah ikan yang kita pelihara aman dari kematian dengan cara\r\nseperti ini,” jelasnya yang melakukan pemberian pakan dua kali dalam sehari.

Tantangan Panen

Sebelumnya, budidaya ikan yang digelutinya ini merupakan\r\nhasil diskusi bersama dengan suaminya yang merupakan salah satu Penyuluh\r\nPerikanan Bantu (PPB) yang di tugaskan di Kabupaten Karo - Sumatera Utara.\r\nApalagi, Rafika mengakui, sistem ini cukup dilakukan di dalam rumah sehingga\r\nmemudahkan dalam pengontrolan.

Awalnya dalam dua siklus pertama ia mengembangkan budidaya\r\nikan lele. Ia mengakui, Lebih kurang selama setahun yang lalu kegiatan budidaya\r\nikan lele sistem RAS ini sudah 2 kali melakukan panen. Namun, hasil keuntungan\r\npanen yang didapatkan kurang memuaskan."Hanya Rp 500 ribu per 3,5 bulan,”\r\nujar Rafika

Selain hasil kegiatan budidaya ikan lele ini kurang\r\nmemuaskan, menurut Rafika, ada tantangan lainnya. “Khususnya bagi ibu rumahan\r\nseperti saya lumayan rumit. Dikarenakan ikan lele harus melakukan sortir yang\r\nketat untuk mengurangi kanibalisme ikan tersebut,” ungkapnya.

Walaupun ikan nila juga lebih baik disortir untuk\r\npenyeragaman benih yang dipelihara, tidak ada efek yang lebih besar seperti\r\nhalnya budidaya lele. “Dan nilai jual dipasar hanya dihargain Rp 18 ribu per\r\nkilogram (kg). Sedangkan nila harga jualnya jauh lebih tinggi. Yakni, mencapai\r\nRp 28 ribu per kg,” papar Rafika.

Berdasarkan pengalaman ini, lanjut Rafika, budidaya yang\r\nkemudian ia kembangkan adalah dengan membesarkan nila. Tantangan baru, ia\r\ntemukan dalam segi permodalan. Karena menurutnya, untuk nila perlu penambahan\r\nmodal untuk membeli aerator. Alat ini diharapkan untuk mensuplai oksigen ke\r\ndalam kolam bundar.

Satu lagi hal positif ia amati dengan membudidayakan nila di\r\npekarangan rumah. Setelah ia perhatikan, belum ada kendala walaupun belum\r\npernah disortir. Awalnya dia merasa agak berat karena benih mati bisa mencapai\r\n50 ekor di bulan pertama. “Namun perlahan, tingkat kematian pun menurun dan\r\nnila bisa tumbuh dalam pembesaran. Kita inginnya hasil dari kegiatan budidaya\r\nnila ini bisa mendapatkan keuntungan yang lebih dari lele sebelumnya,” kata\r\nRafika.

Sejauh yang ia alami ini, Rafika berpendapat semua ibu rumahan\r\natau ibu rumah tangga pastilah bisa melakukan kegiatan budidaya ikan ini.\r\n“Selain untuk menambah pendapatan keluarga, pemeliharaan ikan seperti ini dapat\r\njuga menghilangkan stres kita sebagai ibu rumah tangga,” ujarnya berkelakar.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Makanya, ia pun mendorong teman-teman sejawatnya untuk\r\nmelakukan usaha seperti ini. Termasuk ibu rumahan seperti dirinya. “Jadi buat\r\nibu-ibu dimana pun anda berada, jangan takut mencoba untuk melakukan kegiatan\r\nusaha budidaya ikan di kolam terpal ini. Walaupun terkadang pasti ada kendala\r\ndi dalam perjalanan usahanya,” tutup Rafika.


Artikel Asli : Trobos Aqua

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan