Minapoli
Investasi Udang Cara Milenial
Udang

Investasi Udang Cara Milenial

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
6 menit baca

Kehadiran beragam perusahaan rintisan di bidang investasi\r\nuntuk tambak udang, bisa jadi pilihan bagi masyarakat yang ingin berinvestasi. Salah\r\nsatu elemen penting untuk menumbuhkan industri budi...

Kehadiran beragam perusahaan rintisan di bidang investasi\r\nuntuk tambak udang, bisa jadi pilihan bagi masyarakat yang ingin berinvestasi. Salah\r\nsatu elemen penting untuk menumbuhkan industri budidaya udang nasional adalah\r\npermodalan. Budidaya udang tergolong usaha yang padat modal, sehingga tidak\r\nsemua orang punya kemampuan finansial yang kuat untuk berinvestasi. Cukup\r\nberbeda dengan jenis usaha budidaya ikan lainnya, seperti lele yang bisa\r\ndimulai dengan modal kecil.

“Masalahnya di Indonesia, ada orang punya uang tapi tidak\r\npunya lahan, tidak punya teknologi. Ada yang punya teknologi,` biasanya\r\nuniversitas, tapi tidak punya anggaran dan lahan. Ada yang punya lahan tapi\r\ntidak punya uang dan kemampuan teknis,” Direktur Perbenihan, Direktorat\r\nJenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Coco\r\nKokarkin menggambarkan salah satu permasalahan di industri perudangan, yang\r\ndisampaikannya di acara Digifish 2019 beberapa waktu lalu di Jakarta.


Ungkapan tersebut disampaikan Coco sebagai gambaran kondisi\r\nyang pernah dan masih terjadi. Keadaan itu ternyata berhasil memunculkan para\r\ninovator yang menawarkan solusi, melalui lahirnya beragam perusahaan rintisan\r\n(start up) teknologi finansial (tekfin) yang bergerak dalam jasa investasi\r\ntambak udang. “Ini (start up) yang akan menggabungkan (masalah tadi),” ujar\r\nCoco. Di sisi lain, sebelum kehadiran revolusi 4.0 yang membuat banyak\r\nhal jadi berbasis internet dan digital, bisnis tambak udang memang jarang\r\ndiketahui secara luas oleh masyarakat umum. Berlokasi di pesisir-pesisir yang\r\nsudah pasti jauh dari kota, bisnis tambak udang biasanya hanya digarap pemodal\r\nbesar, atau oleh masyarakat lokal dengan teknologi tradisonal.

Tapi dalam beberapa tahun terakhir, telah bermunculan\r\nperusahaan rintisan yang menawarkan jasa investasi di tambak udang. Kehadiran\r\nstart up di era milenial ini menjawab permasalahan yang disampaikan Direktur\r\nPerbenihan KKP tadi. Dan sekaligus membuat tambak udang menjadi lebih populer\r\nbagi masyarakat. Bahkan menjadi alternatif untuk berinvestasi.

Model bisnis yang ditawarkan oleh start up itu beragam, ada\r\nPeer to Peer (P2P) lending yang mempertemukan investor (pemilik dana) dan\r\npetambak yang memerlukan dana. Ada juga yang berbasis jasa budidaya. Model P2P\r\npun berbeda-beda, baik dari manajemen operasional, sistem kerjasama, hingga\r\nskema pembagian keuntungannya.

Industri Mendukung

Perusahaan rintisan yang bergerak di P2P lending ini salah\r\nsatunya adalah Growpal. Start up yang sudah berdiri dari 2016 ini memfokuskan\r\ndiri pada pendanaan usaha di sektor perikanan. Mulai dari budidaya ikan air\r\ntawar, udang, hingga trading produk hasil perikanan.

Chief Executive Officer (CEO) dan Co-Founder Growpal, Paundra\r\nNoorbaskoro menceritakan bahwa pihaknya menawarkan dua proyek utama kepada para\r\ninvestor yang ingin menyimpan uangnya di Growpal. Proyek perdagangan dan\r\nbudidaya. Persentasenya saat ini masih besar proyek perdagangan. “Dalam\r\ntargetnya sendiri, Growpal ingin supply base 50 %. Supply base itu budidaya,”\r\nujarnya. Dari target 50 % budidaya itu, komoditas udang mencapai 25 - 30\r\n%-nya.

P2P lending lainnya yang bergerak di perudangan adalah\r\nCrowde. Berdasarkan portfolio bisnisnya, Crowde sebetulnya tidak hanya bermain\r\ndi komoditas udang dan ikan, tetapi juga pertanian, peternakan, dan\r\nperdagangan. Menurut Aqua Project Crowde, Muhammad Hafidz, proyek pendanaan\r\nbidang perikanan mencapai 15 - 20 % dari total proyek yang ada. Pertanian masih\r\nterbesar dengan persentase 40 %. Peternakan dan perdagangan masing-masing\r\nsebesar 20 %.

Udang vannamei memang sangat “seksi” untuk dijadikan pilihan\r\ninvestasi oleh para start up tersebut. Meski secara teknis budidaya udang\r\nmemiliki risiko yang sangat tinggi, potensi keuntungan yang didapat cukup\r\nmenjanjikan. Selain itu, ekosistem industri udang juga sudah cukup matang jika\r\ndibandingkan dengan komoditas perikanan lainnya. “Sejauh ini, ekosistem yang\r\nsudah ada pendukungnya itu udang,” ungkap Hafidz.

Ekosistem pendukung yang dimaksud Hafidz antara lain pasokan\r\nsarana dan prasarana seperti benur dan pakan, pendampingan dan konsultasi dari\r\nperusahaan pakan, penyedia IoT (internet of thing) untuk manajemen budidaya,\r\nhingga asuransi. Semua pendukung tersebut sudah ada pada udang, sehingga\r\nmemudahkan manajemen produksinya. “Jadi walaupun udang high risk, tapi\r\nekosistemnya sudah siap,” tegasnya.

Senada dengan Hafidz, Paundra juga mengamini bahwa ekosistem\r\ndi industri udang sudah cukup matang. Terutama kepastian pasarnya, baik pasar\r\nekspor maupun pasar domestik. “Karena pada prinsipnya kepastian pasar adalah\r\nfaktor penting. Secara business feasibility, kenapa kita ngambil udang karena\r\npasar terjamin,” ujar Paundra kepada TROBOS Aqua. Selain itu, alasan lain\r\nGrowpal mengambil bisnis udang tentu karena marjin yang dihasilkan cukup\r\ntinggi.

Hal yang sedikit berbeda disampaikan oleh perusahaan\r\nrintisan yang juga berbasis investasi udang, Mina Ceria. Menurut Chief\r\nMarketing Officer Mina Ceria, Rizky Maulana, awal mula perusahaannya menerima\r\ninvestasi dalam bentuk crowdfunding (urun dana) justru karena sebelumnya sudah\r\nmemiliki bisnis tambak udang.

Pada 2015, Mina Ceria sudah mulai merintis usaha tambak\r\nudang di Subang - Jawa Barat. Pemilihan komoditas udang, kata Rizky, karena\r\nsudah cukup familiar. Di awal-awal usahanya, banyak relasi dekat yang\r\nmenitipkan uangnya untuk diinvestasikan. “Kami buka tambak, mereka nitip\r\n(uang), kami kelola. Hasilnya cukup baik. Bagi hasilnya cukup menarik bagi\r\nmereka,”katanya singkat. Para investor yang menitipkan uang tersebut\r\nketagihan untuk kembali menitipkan dananya. Bahkan seiring tambaknya yang\r\nberkembang, orang-orang yang ingin menitipkan uang pun semakin banyak. “Maka\r\ndari situlah kami berpikir ini ada peluang dengan skema kerjasama investasi\r\nitu. Dan kami mendirikan Mina Ceria,” ungkap Rizky.

Namun berbeda dengan Growpal dan Crowde, bisnis utama Mina Ceria\r\nbukanlah P2P lending yang menghubungkan investor dengan pembudidaya. Rizky\r\nmenegaskan bahwa core business dari Mina Ceria adalah jasa budidaya udang.\r\nPihaknya menerima investasi dari berbagai pihak untuk dijadikan modal\r\noperasional tambak yang dikelolanya. Mina Ceria bertanggung jawab langsung\r\ndalam pengelolaan tambak-tambaknya yang didanai itu.

Petambak Mitra

Ketiga perusahaan rintisan di atas memiliki perbedaan dalam\r\ndetail kerjasama yang dilakukan, terutama dalam teknis produksi dan pembagian\r\nkeuntungan. Paundra mengatakan bahwa setiap petambak memiliki kesempatan untuk\r\nmendapatkan pendanaan dari Growpal selama memenuhi syarat yang ditetapkan.\r\nNamun untuk meminimalisir dana investasi jatuh ke tangan yang tidak tepat,\r\npetambak yang ingin mengajukan pendanaan minimal sudah melakukan budidaya\r\nselama dua siklus.

Proposal pendanaan dari petambak tidak selalu disetujui oleh\r\nGrowpal. Perusahaan yang berpusat di Surabaya-Jawa Timur itu melakukan\r\npenilaian yang cukup prosedural. Mulai dari kondisi finansial, kondisi fisik\r\ntambak, lingkungan dan sosial di sekitar, akses pasar di sekitar tambak, hingga\r\nmetode pembayaran dengan pembeli. “Kita lakukan scoring on procedure. Gak ketat\r\nsebetulnya. Yang penting terisi semua,” imbuh Paundra.

Parameter penilaian tersebut penting untuk mengurangi risiko\r\ndan tantangan di lapangan. Parameter lingkungan tambak misalnya. Paundra\r\nmengatakan bahwa jika petambak mitra sudah menggunakan SOP (Standar Operasional\r\nProsedur) yang ketat, sementara tambak tetangga lebih “santai”, maka potensi\r\npenyebaran penyakit tetap besar. Sehingga akan lebih bagus jika lingkungan\r\ntambak di sekitar juga bagus.

Persyaratan adminsitrasi yang serupa juga diterapkan oleh\r\ntim Crowde kepada calon petambak mitranya. Penilaian utama dari mereka adalah\r\nkelayakan petambak untuk menjalankan proyek budidaya udangnya. Dan yang\r\nterpenting, tegas Hafidz, mau mengikuti aturan yang diberlakukan oleh Crowde\r\nselama proyek pendanaan berlangsung. Meski sama-sama sebagai P2P lending,\r\nkedua perusahaan rintisan ini memiliki beberapa perbedaan dalam menjalankan\r\nkegiatan bisnisnya. Salah satunya dalam penerapan SOP budidaya. Hafidz mengaku,\r\npihaknya memiliki SOP khusus yang telah dibuat oleh internal Crowde untuk\r\nditerapkan oleh para pembudidaya mitranya. SOP itu juga dikolaborasikan dengan\r\nSOP dari perusahaan pakan yang menjadi mitranya.

Sebaliknya, Paundra justru memberikan kelonggaran kepada\r\npara petambak untuk menerapkan SOP yang sudah biasa digunakan petambak. Tapi\r\nharus sudah disepakati dulu bersama timnya. Bukan tanpa alasan, tujuan dari\r\nkebijakan ini, kata Paundra, agar petambak bertanggung jawab secara penuh\r\nterhadap proses budidaya yang dilakukan. “Mereka sudah teruji ya track\r\nrecord-nya. Kita juga gak mau jadi sok pintar lah ya,” ungkapnya. Namun ia juga\r\ntetap memiliki tim teknis yang bisa memberikan masukan soal budidaya kepada\r\npara petambak mitra.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Besaran pengajuan yang dilakukan oleh calon petambak mitra\r\nbervariasi. Di Crowde, kata Hafidz, maksimal dana yang diajukan dalam pengajuan\r\npertama itu sebesar Rp 200 juta. Modal sebesar itu biasanya untuk biaya\r\noperasional 1 - 2 kolam berukuran dua ribuan meter persegi. “Tergantung juga\r\nsama padat tebarnya,” tambah Hafidz. Mitra Crowde sendiri saat ini banyak\r\ntersebar di daerah Jawa Tengah (Jateng), baik di pantai utara maupun\r\nselatan.


Artikel Asli: Trobos Aqua

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan