Minapoli
Inovasi Dukung Budidaya Udang Masa Kini
Udang

Inovasi Dukung Budidaya Udang Masa Kini

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
3 menit baca

“Pikiran hebat mendiskusikan ide, pikiran rata-rata\r\nmendiskusikan kejadian, sementara pikiran kecil, mendiskusikan orang”- Eleanor\r\nRoosevelt. Sama seperti awal mula tercetusnya pasar udang ...

“Pikiran hebat mendiskusikan ide, pikiran rata-rata\r\nmendiskusikan kejadian, sementara pikiran kecil, mendiskusikan orang”- Eleanor\r\nRoosevelt. Sama seperti awal mula tercetusnya pasar udang yang lahir dari\r\ngenerasi muda berbakat, bermula dari sebuah ide ketika Jason CEO dari Pasar\r\nUdang terjun dalam dunia pertambakan udang di tahun 2015.

\r\n\r\n

“Saat itu adalah kali pertama saya mengenal dunia\r\npertambakan udang. Dari situ saya melihat bahwa dunia pertambakan sangatlah\r\nkonvensional dan inefisien. Melihat apa yang teknologi telah disrupt di banyak\r\nindustri seperti gojek di layanan transportasi, traveloka di layanan hotel,\r\nsaya rasa sudah saatnya untuk industri pertambakan udang mengalami hal-hal ini.\r\nPertama kali saya datang ke tambak, saya lihat bahwa setiap business\r\nprocess dari pertambakan sangatlah inefisien dan tidak traceable,\r\nmulai dari pembelian produk, pencatatan, pemberian pakan, hingga penjualan\r\nudang itu sendiri. Melihat semua proses yang kurang efisien, terbentuklah Pasar\r\nUdang,” ungkap Jason. Pasar udang sendiri merupakan aplikasi yang dapat diunduh\r\nsecara gratis melalui playstore untuk android dan disusul dalam waktu dekat\r\nuntuk pengguna Ios. Tim dibalik pasar udang terdiri dari Jason sebagai CEO,\r\nRizky Darmawan (Co-Founder), Arrival Dwi Sentosa (Co-Founder) .
\r\n
\r\nJason dan Arrival Dwi Santosa kebetulan pernah sama-sama menempuh pendidikan\r\nComputer Science and Technology di Beijing Institute of Technology, bahkan Dwi\r\njuga telah mengikuti dan menjuarai beberapa kompetisi IT di tingkat nasional\r\nhingga internasional. Sementara Co-Founder terakhir Rizky Darmawan, beliau\r\nadalah petambak, buyer udang, serta Ketua Petambak Muda Indonesia dan Ketua SCI\r\nSumbawa.

\r\n\r\n

Melihat kenyataan bisnis budidaya udang yang arusnya masih\r\nnaik turun, Jason pun turut menuturkan pandangannya, “Perkembangan bisnis udang\r\nkurang maksimal. Lembaga-lembaga keuangan di Indonesia belum bisa dan kurang\r\nberani memberi bantuan modal kepada petani pengusaha udang. Oleh karena itu\r\npelaku budidaya masih harus mengandalkan dana sendiri untuk memulai usaha. Hal\r\ninilah yang menyebabkan perkembangan produksi udang di Indonesia tertinggal\r\nbila dibandingkan dengan negara-negara lain seperti India dan Equador. Dengan\r\nadanya perkembangan teknologi dan pendataan yang lebih baik, diharapkan\r\nkedepannya usaha tambak udang bisa lebih menarik untuk perbankan maupun\r\ninvestor.”
\r\n
\r\nUntuk memperkenalkan pada masyarakat, Pasar Udang sudah melakukan soft lunching\r\ndi Banyuwangi bertepatan dengan simposium nasional budidaya udang vaname 2019\r\ndi bulan February, “ini adalah first appearance kami di dunia\r\npertambakkan, lalu kami launch core product kami dan menjadi speaker di\r\nacara PMI Bali Bound di bulan Agustus 2019, banyak juga yang sedang menantikan\r\ndiluncurkannya product kami untuk versi web dan IOS. Beberapa petambak sudah\r\nmencoba untuk mengimplementasikan di tambaknya masing-masing. Kami sedang\r\nmenunggu feedback dari petambak.” ungkap Jason.
\r\n
\r\nAplikasi Pasar Udang terdiri dari tiga fitur, yaitu Pasar Udang Marketplace,\r\nPasar Udang Farm book dan Pasar Udang Hub. Fitur pertama yakni PasarUdang\r\nMarketplace bertujuan untuk menghubungkan petambak dengan supplier product\r\nseperti pabrik pakan, obat-obatan, probiotik, HDPE dan kebutuhan tambak\r\nlainnya. Fitur kedua ada Pasar Udang Farm book bertujuan untuk membantu petambak\r\ndalam mengelola pengoperasian tambak mereka sehari-harinya dan melihat\r\naktifitas-aktifitas tambak mereka secara realtime. Fitur ketiga,\r\nPasar Udang Hub bertujuan untuk menghubungkan petambak dengan buyer-buyer udang\r\ndi seluruh Indonesia. Dalam beralih dari petambak konvensional ke era digital,\r\ntentu tidak mudah dalam mengedukasi mengenai teknologi di dunia pertambakan\r\nmemang bukanlah hal yang mudah, namun Jason sangat optimis lambat laun\r\nmasyarakat akan mulai menerima dan merasakan manfaatnya.
\r\n
\r\n“Tantangan terbesarnya adalah mindset dari petambak-petambak sendiri , ibarat\r\nseperti tokopedia di awal-awal tahunnya. Untuk mengenalkan teknologi ke\r\npetambak sangatlah tidak mudah karena belum merasakan dampaknya dan awareness mengenai\r\nteknologi di dunia pertambakan masih sangat minim,” tukasnya. Jason juga\r\nberharap dengan adanya app PasarUdang dapat membantu petambak mengelola operasi\r\npertambakan mereka agar lebih efektif dan efisien dan dapat membantu petambak\r\nuntuk upscale tambak-tambak mereka.

Sumber : Info Akuakultur

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan