Minapoli
Ikan Patin Triploid : Otak-Atik Teknologi Lama
Patin

Ikan Patin Triploid : Otak-Atik Teknologi Lama

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
4 menit baca

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB dan Dinas\r\nPerikanan Jawa Barat telah  bekerja sama dalam mengembangkan ikan patin\r\nstrain triploid. Sejak terjadinya perubahan nama dan m...

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB dan Dinas\r\nPerikanan Jawa Barat telah bekerja sama dalam mengembangkan ikan patin\r\nstrain triploid. Sejak terjadinya perubahan nama dan mandat UPTD Balai\r\nPengembangan Budidaya Ikan Patin dan Lele (BPBIPL) menjadi Balai Pengembangan\r\ndan Pemacuan Stok Ikan Patin dan Lele (BPPSIPL) Subang, telah menambah tupoksi\r\nUPTD ini untuk melakukan distribusi dan restocking ikan pada perairan\r\numum.


UPTD BPPSIPL telah beberapa kali berpartisipasi dalam kegiatan\r\nrestocking benih ikan patin terutama pada perairan waduk (situ gede, cirata,\r\nsaguling, dan jatiluhur). Dengan adanya penambahan tupoksi ini pula mulai\r\ndirasakan adanya suatu kebutuhan untuk mendapatkan teknologi poliploidisasi,\r\nterutama untuk menghasilkan benih ikan patin strain triploid.


Kegiatan\r\nrestocking yang mengintroduksikan spesies asing (non native) atau\r\nstrain hasil rekayasa genetika menghendaki jaminan tidak akan menekan populasi\r\nspesies asli (native) melalui predasi, kompetisi ruang dan makanan, penyebaran\r\npenyakit, dan tidak kawin silang dengan spesies asli.


Baca juga: Pembudidaya Patin Harapkan Bibit Varietas Unggul


Teknologi triploidisasi bukanlah hal baru dalam akuakultur.\r\nTeknik ini sudah populer sejak tahun 1980 an dan sudah diterapkan oleh banyak\r\nnegara untuk mendapatkan populasi ikan yang steril (mandul). Triploidisasi\r\nmenjadi populer ketika muncul adanya kekhawatiran introduksi spesies asing\r\nsebagai ikan budidaya akan menggeser keseimbangan pada ekosistem lokal.


\r\n

Maraknya penggunaan spesies tertentu sebagai pemusnah tanaman air yang\r\nmenutupi perairan diberbagai negara telah membangkitkan kesadaran tentang\r\nbahaya spesies invansif. Beberapa lembaga dunia (FAO, NASCO, ICES, dan lainnya)\r\nmerekomendasikan produksi strain ini untuk kegiatan budidaya perikanan dan\r\nkegiatan restoking ikan di alam untuk menekan efek genetis pada ekosistem alam\r\nwaduk, sungai, dan perairan umum lainnya. Bahkan ikan uji GMOs disarankan untuk\r\ndi-triploidkan untuk mengeliminir resiko genetik jika ikan ini lepas dari wadah\r\nbudidaya ke perairan alam.


Poliploid sendiri dapat diartikan sebagai organisme yang\r\nmemiliki satu atau lebih tambahan pada set kromosomnya dari jumlah normalnya.\r\nUntuk beberapa spesies, organisme poliploid dapat terjadi secara spontan di\r\nalam maupun dalam sistem budidaya. Beberapa tanaman industri yang banyak\r\ndibudidayakan pada era moden saat ini beberapa diantaranya adalah strain\r\npoliploid yang disengaja.


Baca juga: Teknik Pemijahan Ikan Patin


Poliploid, terutama pada triploid, dapat dengan mudah\r\ndidapatkan dari invertebrata dan vertebrata tingkat rendah seperti ikan dan\r\nmoluska dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja produksi. Dalam regulasi EU\r\n(Directive 90/220/CCE of April 23 of 1990), organisme poliploid tidak dianggap\r\nsebagai organisme hasil rekayasa genetik (Non-GMOs) sehingga aman untuk\r\ndikonsumsi.


Untuk beberapa jenis ikan tertentu, strain triploidnya\r\nterbukti tumbuh lebih cepat dari pada strain diploid dikarenakan\r\ntidak ada energi yang digunakan untuk pembentukan gonad, terutama sel telur.\r\nUntuk efisiensi, ikan patin triploid harus diproduksi dari induk ikan\r\npatin yang tetraploid. Induk ikan patin tetraploid bersifat\r\nfertil (subur) dan jika dikawinkan dengan jantan diploid, akan\r\nmenghasilkan benih ikan triploid (steril/mandul).


Tim yang diketuai oleh Dr.Odang Carman (BDP-FPIK) telah\r\nmelakukan beberapa tahapan pengembangan strain triploid pada ikan patin di\r\ninstalasi BPPSIPL, Cijengkol, Subang. Kegiatan ini telah menunjukkan beberapa\r\nhasil yang menggembirakan seperti didapatkannya SOP produksi ikan patin\r\ntriploid dengan metode kejut suhu, dan didapatkannya populasi tetraploid yang\r\nakan sangat berguna dalam produksi benih sebar triploid maupun perbanyakan\r\ncalon induk tetraploid. Menurut Dr. Odang Carman, timnya dalam waktu\r\ndekat akan mulai menyusun dokumen ilmiah untuk kepentingan rilis pada tahun\r\n2019.


Baca juga: Tingkatkan Gelasi Surimi, Mahasiswa IPB Manfaatkan Tulang Ikan Patin


\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

” Sebenarnya, selain berguna untuk kegiatan restocking,\r\nstrain triploid juga akan ditujukan untuk mengisi kebutuhan benih bagi industri\r\npembesaran ikan patin, terutama yang menyuplai ikan ke usaha fillet ikan patin.\r\nIkan patin kami tumbuh 44% lebih cepat dibandingkan patin biasa pada umur yang\r\nsama, dan steril (mandul). Selain itu rendemen (yield) fillet yang didapatkan\r\nbisa mencapai 45%, lebih tinggi dari ikan patin normal yang biasanya\r\nberkisar pada angka 30%. Dan tentu saja, performa tersebut didapatkan setelah\r\nikan patin dipelihara hingga mencapai umur yang mature ” ujarnya.


Sumber : BDP FPIK IPB

Tentang Minapoli

Minapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. 

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan