Minapoli
Ikan Nila, Sumber Pangan dan Gizi untuk Pencegahan Stunting
Mas

Ikan Nila, Sumber Pangan dan Gizi untuk Pencegahan Stunting

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
9 menit baca

Hambatan\r\npertumbuhan tubuh atau stunting pada anak biasanya terjadi karena masalah\r\nkurang gizi yang kronis dan diakibatkan kurangnya asupan gizi dalam waktu yang\r\ncukup lama. Kondisi itu membu...

Hambatan\r\npertumbuhan tubuh atau stunting pada anak biasanya terjadi karena masalah\r\nkurang gizi yang kronis dan diakibatkan kurangnya asupan gizi dalam waktu yang\r\ncukup lama. Kondisi itu membuat pertumbuhan pada anak menjadi terganggu, di Nusa\r\nTenggara Timur, angka stunting masih menjadi yang tertinggi di Indonesia dengan\r\nmencapai 43,8 persen. Fakta tersebut menegaskan bahwa NTT menjadi salah satu\r\nprovinsi yang kesulitan mengakses sumber pangan bergizi dengan mudah dan murah.\r\nUntuk mengatasinya, Pemerintah Indonesia melaksanakan budi daya perikanan\r\ndengan teknologi sistem bioflok untuk ikan Nila di NTT. Program tersebut\r\ndiharapkan bisa memecahkan persoalan kurangnya pasokan ikan dengan harga yang\r\nmurah.

Selain\r\nNila, pemenuhan kebutuhan gizi untuk masyarakat juga bisa didapat dari Lele\r\nMutiara. Ikan yang dikembangkan dari hasil riset Badan Riset Sumber Daya\r\nManusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP), diketahui memiliki banyak keunggulan\r\ndibandingkan lele biasa. Konsumsi ikan oleh masyarakat secara rutin, diyakini\r\ntak hanya akan memenuhi kebutuhan pangan dengan harga yang murah saja. Dengan\r\nmengonsumsi ikan, kebutuhan gizi yang dibutuhkan oleh anak-anak yang sedang\r\nmengalami masa pertumbuhan, juga akan bisa terpenuhi dengan baik. Dari ikan\r\npula, hambatan pertumbuhan tubuh atau stunting akan bisa dihilangkan di seluruh\r\nIndonesia.

Direktur\r\nJenderal Perikanan Budi daya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet\r\nSoebjakto menjelaskan, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada\r\n2019, angka penderita stunting di Indonesia terus mengalami penurunan hingga\r\n27,7 persen. Namun, untuk angka per provinsi, Nusa Tenggara Timur (NTT)\r\ntercatat menjadi yang tertinggi dengan 43,8 persen. Atas pertimbangan tersebut,\r\nPemerintah Indonesia kemudian memutuskan dilakukan pengembangan budi daya ikan\r\nnila (Oreochromis niloticus) dengan menggunakan teknologi bioflok yang terkenal\r\nramah lingkungan dan efisien penggunaan air. Dengan teknologi tersebut,\r\nkebutuhan produksi akan bisa dicapai dan harga ikan juga bisa tetap terjangkau\r\nuntuk masyarakat.

“Dengan\r\ndikembangkan budi daya Nila dengan sistem bioflok di NTT, itu menjadi tepat\r\nkarena bisa menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat sekitar,”\r\njelas dia belum lama ini di Jakarta.

Menurut\r\ndia, penerapan teknologi bioflok pada budi daya nila yang dilakukan di NTT\r\nmenjadi langkah nyata dari Pemerintah untuk meningkatkan produksi ikan air\r\ntawar secara nasional. Terlebih, karena provinsi tersebut sampai sekarang masih\r\nsangat memerlukan pengembangan potensi perikanan budi daya. Slamet mengatakan,\r\nmembangun kawasan Indonesia Timur, termasuk NTT dalam rencana perikanan budi\r\ndaya nasional, adalah salah satu kebutuhan yang penting untuk sekarang.\r\nApalagi, daerah-daerah di Indonesia timur sampai sekarang masih banyak yang\r\nbelum melek terhadap penggunaan teknologi yang bisa mempercepat proses budi\r\ndaya perikanan.

“Potensi\r\nsumber daya alam yang tinggi di kawasan Indonesia bagian timur harus dapat kita\r\nmanfaatkan dengan menciptakan alternatif usaha berbasis inovasi teknologi budi\r\ndaya,” tutur dia.

Bagi\r\nSlamet, penggunaan teknologi budi daya ikan sistem bioflok yang diperkenalkan\r\nkepada masyarakat NTT diharapkan akan mampu meningkatkan nilai sumber daya alam\r\nyang ada. Dengan bioflok juga, diharapkan bisa memicu ruang pemberdayaan\r\nmasyarakat yang lebih luas, dan akan menumbuhkan ekonomi masyarakat lokal. Melalui\r\npenggunaan teknologi seperti bioflok, aktivitas budi daya perikanan yang ada di\r\nIndonesia timur, khususnya di NTT bisa mendorong semakin banyak produksi ikan\r\nyang bisa dilakukan sepanjang tahun. Dari situ, diharapkan produksi ikan bisa\r\nmenjadi sumber pangan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi.

Sumber Gizi

Slamet\r\nmenyebutkan, produk nila saat ini sudah menjadi sumber gizi yang cukup digemari\r\ndi masyarakat. Untuk itu, teknologi bioflok pada budi daya perikanan, khususnya\r\nuntuk nila akan terus didorong di berbagai daerah sebagai solusi untuk memenuhi\r\nkebutuhan gizi masyarakat.

“Dengan\r\nsemakin banyak anak Indonesia mengkonsumsi ikan, diharapkan akan lahir generasi\r\nbaru yang tumbuh sehat, bergizi baik dan bebas dari stunting,” tegas dia.

Hingga\r\nsekarang, komoditas yang paling banyak menggunakan bioflok, adalah lele (Clarias) dan nila. Khusus untuk nila,\r\nSlamet menyebutkan bahwa penggunaan bioflok bisa meningkatkan kelulushidupan\r\n(survival rate/SR) komoditas tersebut hingga mencapai 90 persen saat berada di\r\ndalam tambak. Keunggulan lainnya, adalah tingkat penggunaan pakan menjadi\r\nsemakin efisien, dan nilai feed conversion ratio (FCR) atau perbandingan antara\r\nberat pakan dengan berat total (biomass) ikan dalam satu siklus periode budi\r\ndaya juga semakin rendah menjadi 1,05.

“Angka\r\ntersebut menunjukkan, jika pembudi daya ingin menghasilkan ikan nila sebanyak 1\r\nkilogram, maka dibutuhkan pakan sebanyak 1,05 kg,” papar dia.

Teknologi\r\nbioflok pada budi daya ikan nila juga terbukti meningkatkan kepadatan dalam\r\nkolam. Jika menggunakan sistem konvensional, kepadatan maksimal hanya 10 ekor\r\nikan nila/meter kubik, maka dengan menggunakan bioflok kepadatan menjadi 100\r\nekor/meter kubik. Menurut Slamet, keberhasilan yang sudah dicapai tersebut,\r\nsemakin menguatkan bahwa pengembangan budi daya nila dengan sistem bioflok\r\nmenjadi salah satu terobosan untuk meningkatkan produksi nila secara nasional.\r\nTeknologi tersebut diyakini bisa meningkatkan pendapatan pembudi daya secara\r\nsignifikan dan tetap mengutamakan prinsip keberlanjutan.

“Penerapan\r\nteknologi ini terbukti efektif dan efisien dalam penggunaan sumber daya air dan\r\nlahan serta adaptif terhadap perubahan iklim,” tuturnya.

Sementara,\r\nuntuk budi daya nila dengan sistem bioflok mulai dilaksanakan di NTT di\r\nSeminari Pius XII Kisol, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, pada\r\n2019. Kurang dari setahun, budi daya nila di daerah tersebut sukses memproduksi\r\nsampai 100 kilogram dan ditarengkan bisa terus meningkat produksinya. Penanggung\r\njawab Seminari Pius XII Kisol Marsel Zosimus Erot mengatakan, sebelum mengenal\r\nsistem bioflok, budi daya ikan air tawar seperti nila yang dilakukan di\r\nSeminari Pius XII harus memerlukan penggunaan bak air permanen. Selain itu,\r\ntanpa bioflok, budi daya harus dilaksanakan pada lokasi yang memiliki saluran\r\nirigasi yang baik.

“Tetapi\r\ndengan sistem bioflok ini, penggunaan air bisa efisien, namun produktivitas\r\njuga bisa meningkat berkali lipat. Keunggulan sistem bioflok yang minim\r\npenggunaan air ini sangat cocok untuk diterapkan di sini,” jelas dia.

Dengan\r\nproduksi yang banyak dan biaya lebih murah, Marsel meyakini kalau konsumsi ikan\r\nmasyarakat akan semakin baik lagi. Sehingga, tujuan untuk membebaskan\r\nmasyarakat NTT dari stunting diyakini akan bisa tercapai di kemudian hari.


lustrasi. Dirjen Perikanan Budi daya KKP Slamet Soebijakto (tiga dari kiri) melihat penggunaan teknologi bioflok pada budi daya ikan nila di Kabupaten Sukabumi, Jabar. Foto : Ditjen Perikanan Budidaya KKP/Mongabay Indonesia


Lele Mutiara

Selain\r\nnila, upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi masyarakat dari ikan, juga\r\ndilakukan Pemerintah dengan mendorong produksi lele di banyak daerah. Salah\r\nsatu contohnya, adalah di Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat yang\r\nmelaksanakan produksi budi daya perikanan lele mutiara di Pondok Pesantren\r\nMinhajut Thalibin. Untuk melaksanakan produksi, KKP mendistribusikan sebanyak\r\n6.000 benih lele mutiara ke lembaga pendidikan tersebut. Selain itu, KKP juga\r\nmenyiapkan sarana penunjang untuk proses produksi seperti kolam dengan adopsi\r\nbioflok dan juga pakan ikan.

Pendistribusian\r\nlele mutiara, dilakukan oleh Badan Riset Sumber Daya Manusia Kelautan dan\r\nPerikanan (BRSDM KP) dengan bersinergi bersama Balai Riset Pemuliaan Ikan\r\n(BRPI) Subang. Lele mutiara diharapkan bisa menjadi produk perikanan yang\r\ndikonsumsi para penguni pondok pesantren dan sekaligus sebagai sumber gizi yang\r\nbermanfat untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

BRSDM KP KKP bersama BRPI Subang mendistribusikan sebanyak 6.000 benih lele mutiara ke Pondok Pesantren Minhajut Thalibin, Subang, Jabar. KKP juga membantu budi daya lele tersebut dengan sistem bioflok. Foto : KKP


Kepala\r\nBRSDM KP Sjarief Widjaja mengatakan lele mutiara adalah komoditas hasil riset\r\nberbasis produktivitas unggul yang dilakukan oleh BRSDM KP. Penamaan mutiara\r\nmerujuk pada akronim “mutu tinggi tiada tiara” yang menjelaskan bahwa Lele\r\nhasil riset tersebut bernilai ekonomi dan kualitas yang tinggi.

“Kita\r\nberharap, budi daya bioflok bisa menjadi sebuah nilai tambah bagi Ponpes dalam\r\nmengembangkan kewirausahaan serta memenuhi kebutuhan sumber protein,” ucap dia,\r\ndua pekan lalu.

Keunggulan\r\ndari lele mutiara, di antaranya adalah memiliki laju pertumbuhan yang tinggi\r\ndan lama pemeliharaan yang singkat. Kemudian, juga memiliki keseragaman ukuran\r\nyang relatif tinggi, daya tahan terhadap penyakit relatif tinggi, toleransi\r\nlingkungan relatif tinggi, dan produktivitas yang relatif tinggi. Semua\r\nspesifikasi keunggulan tersebut diungkapkan Kepala BRPI Joni Haryadi dengan\r\nrinci. Menurut dia, dengan karakteristik yang unggula, lele mutiara perlu untuk\r\ndisebarluaskan penggunaannya kepada masyarakat dan pelaku usaha budi daya lele\r\nyang ada di seluruh Indonesia.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

“Diharapan\r\nitu bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat pembudi daya dan masyarakat\r\npelaku ekonomi ikan lele,” tambah dia


Sumber: Mongabay


Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan