Sebanyak 14 varian ikan nemo telah dikembangkan Balai\r\nPerikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya,\r\nKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Ikan hias laut terseb...
Sebanyak 14 varian ikan nemo telah dikembangkan Balai\r\nPerikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya,\r\nKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Ikan hias laut tersebut dikenal\r\ndengan sebutan Clownfish (ikan badut).
Untuk mendapatkan 14 varian nemo, BPBL Ambon menggunakan\r\nteknik kawin silang (cross breeding). Melalui teknik kawin silang dengan induk\r\nyang diambil dari alam tersebut telah menghasilkan ragam corak yang indah.
Sejauh ini, hasil teknik kawin silang ikan nemo sangat\r\ndiminati pasar. Varian 14 jenis masing-masing: biak biasa, halfblack,\r\nfullblack, black proton, platinum, picasso, snow flake, frosebite, black ice,\r\nlightening maroon, black snowflake, balong padang, pellet orange dan pellet\r\npink.

BPBL Ambon juga telah berhasil mengembangkan produksi ikan\r\nhias jenis Banggai Cardinal Fish (BCF) secara massal di laut. Banggai Cardinal fish termasuk Ikan hias laut endemik yang sebarannya terbatas di perairan Kepulauan\r\nBanggai, Sulawesi Tengah.
KKP memastikan sektor budidaya ikan hias mampu berkontribusi\r\nterhadap peningkatan produksi ikan hias secara nasional.
Apalagi spesies ikan hias ini dibudidayakan secara massal\r\ndengan mengedepankan prinsip-prinsip akuakultur yang bertanggung jawab. Hal ini\r\ntertuang dalam Code of Conduct for Fisheries Responsibility FAO (Food\r\nand Agriculture Organization). FAO merupakan Badan Pangan dan Pertanian\r\nPerserikatan Bangsa-Bangsa.
KKP terus menggenjot Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat\r\nJenderal Perikanan Budidaya untuk meningkatkan inovasi perekayasaan teknologi\r\nikan hias. Antara lain dengan penerapan teknik hormonal, rekayasa lingkungan,\r\nteknologi reproduksi dan nutrisi serta metode kultur jaringan.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
KKP juga memberikan catatan khusus untuk spesies ikan hias\r\nyang belum mampu dibudidayakan dan/atau terancam kelestariannya. Spesies ini\r\ntelah ada mekanisme upaya perlindungan yang diatur melalui CITES (Convention on\r\nInternational Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).
Sumber : darilaut.id

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
