Nilai ekspor ikan hias Indonesia berpeluang untuk terus digenjot.\r\nOleh karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi\r\nikan hias pada tahun ini sebanyak 1,8 miliar ekor...
Nilai ekspor ikan hias Indonesia berpeluang untuk terus digenjot.\r\nOleh karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi\r\nikan hias pada tahun ini sebanyak 1,8 miliar ekor.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan\r\ndan Perikanan Slamet Soebjakto menuturkan saat ini share ekonomi ikan\r\nhias terhadap nilai ekspor produk perikanan mencapai 0,66%.
"Saya kira kita akan mampu genjot produksi. Potensi\r\npengembangan dan varian komoditas bernilai ekonomis tinggi yang besar. Lebih\r\ndari 650 jenis ikan hias [air tawar dan asin] ada di perairan kita,"\r\nujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (23/1/2020).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja perdagangan\r\nikan hias terus mengalami peningkatan. Pada 2012, nilai ekspor ikan hias\r\nmencapai US$21,01 juta, sementara pada 2018 mencapai US$32,23 juta.
KKP bersama dengan lintas sektoral terkait tengah\r\nmenyempurnakan peta jalan (roadmap) percepatan industrialisasi ikan hias\r\nnasional. Roadmap ini akan memetakan berbagai strategi konkrit yang\r\nmeliputi percepatan produksi, pengaturan tata niaga, penguatan daya saing dan\r\nnilai tambah, investasi, serta perluasan dan penguatan pasar ekspor.
Slamet membeberkan selama kurun waktu 2012 hingga 2018,\r\nproduksi ikan hias nasional tumbuh rata-rata sebesar 5,05% per tahun. Pada\r\n2012, produksi mencapai 938,47 juta ekor dan naik pada 2018 menjadi 1,19 miliar\r\nekor.
"Kalau dilihat dari capaian tahun sebelumnya, saya kira\r\ntarget produksi tahun ini sangat realistis," tegasnya.
Upaya mencapai target ini didukung dengan telah\r\ndikembangkannya secara masal berbagai varian jenis ikan hias seperti clownfish\r\n(ikan badut) dan banggai cardinal. Di samping itu, ikan hias saat ini telah\r\nmenjadi usaha yang sangat menjanjikan di kalangan masyarakat.
"Jadi, pemerintah tinggal siapkan regulasi dan\r\nmemfasilitasi akses apa yang dibutuhkan pelaku usaha, selanjutnya mereka akan\r\nberkembang dengan sendirinya," imbuhnya.
Berdasarkan hasil survei BPS 2014, pendapatan rumah tangga\r\npembudidaya ikan hias pada 2013 mencapai Rp50,48 juta per tahun atau sekitar\r\nRp4,2 juta per bulan dan merupakan jenis usaha yang memiliki nilai tambah\r\nekonomi paling tinggi.
"Saya kira ini yang bisa memicu animo masyarakat untuk\r\nterjun menekuni budidaya ikan hias," sebut Slamet.
Lebih lanjut, KKP akan menyasar pada jenis-jenis ikan hias\r\nyang punya pangsa ekspor tinggi. Dia menuturkan ada lima komoditas dominan yang\r\ndibudidayakan masyarakat untuk tujuan ekspor, yakni ikan arwana, koi, cupang,\r\ngapi, dan manvis.
"Belum lagi saat ini kita sudah mulai fokus untuk\r\nmenggenjot produksi jenis ikan hias air laut utamanya, clownfish,"\r\ntambahnya.
KKP telah menyiapkan langkah konkrit yang fokus utamanya\r\npada peningkatan produksi di hulu, peningkatan nilai tambah, dan daya saing\r\nimpor.
Pada tataran hulu, KKP terus mendorong penerapan inovasi\r\nteknologi yang fokus pada peningkatan efisiensi dan produktivitas. Salah satu\r\nteknologi yang dikembangkan adalah sistem recirculating aquaculture system (RAS).
Sistem ini mampu menggenjot produktivitas hingga 100 kali\r\nlipat dibanding konvensional. Paket teknologi RAS ini dapat diadopsi secara\r\nmassal oleh masyarakat, yakni dengan sistem mini RAS.
Di samping itu, penyediaan induk dan benih unggul menjadi\r\nfokus yang akan didorong dalam 5 tahun ke depan. Pengembangan varian jenis ikan\r\nhias bernilai ekonomis juga dianggap penting.
Sementara pada tataran hilir, KKP bersama sektor terkait\r\nakan fokus pada perbaikan tata kelola niaga yang lebih efisien khususnya\r\nberkaitan dengan masalah distribusi dan biaya logistik yang masih tinggi.
"Saya kira masalah logistik ini perlu segera dibenahi.\r\nBila perlu ada insentif khusus bagi komoditas ekspor sehingga nilai tambah\r\nekonominya tidak banyak hilang", tegas Slamet.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Slamet juga mengatakan bahwa penguatan kualitas/mutu, branding, dan\r\npromosi produk ikan hias, utamanya ikan hias asli Indonesia, perlu didorong.\r\nMenurutnya, ini penting untuk menaikan posisi tawar dan daya saing ekspor.
Sumber: Bisnis.com

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
