\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nAdanya keyakinan\r\ndemand yang terus meningkat, khususnya pasar China membuat perudangan nasional\r\ntetap optimis\r\n\r\nAkhir...
Adanya keyakinan\r\ndemand yang terus meningkat, khususnya pasar China membuat perudangan nasional\r\ntetap optimis
\r\n\r\nAkhir tahun kemarin\r\nmenjadi penutup tahun yang kurang bersahabat bagi komunitas perudangan\r\nnasional, khususnya bagi para petambak udang vannamei. Pasalnya, harga udang di\r\npasar global mengalami penurunan yang berimbas bagi petambak di dalam negeri.
Sepanjang 2018 juga\r\nharga udang global masih dianggap lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.\r\nLaporan Organisasi Pangan Dunia (fao.org) menyebutkan, harga vannamei berada\r\npada tingkat yang cukup rendah pada April 2018, yang kemudian sedikit menanjak\r\npada Juni 2018.
\r\n\r\nBerdasarkan laporan\r\nRabobank, harga udang size (ukuran) 60 ekor per kilogram (kg) di Thailand\r\npada kuartal pertama 2018 berada di kisaran 120 BHT (atau sekitar Rp Rp 54\r\nribu). Setelah sebelumnya sempat menyentuh kisaran 180 BHT (atau sekitar Rp 81\r\nribu) pada awal 2018.
\r\n\r\nMenurutKetua Shrimp\r\nClub Indonesia (SCI), Iwan Sutanto, harga udang size 50 juga menurun di kuartal\r\npertama 2018, yakni di kisaran Rp 70 ribu per kg. Harga ini perlahan menanjak\r\nmenjadi sekitar Rp 75 ribu per kg pada Juli 2018.
\r\n\r\nBahkan, ditengarai\r\nDesember kemarin harga menyentuh paling rendah sepanjang 2018. “Pada Desember,\r\nsize kecil yakni 100 ekor per kg itu, harganya hanya sampai Rp 45- Rp 46 ribu\r\nper kg,” ungkap Steven Kurniadi, petambak asal Bali.
\r\n\r\n
Harga Melandai
\r\n\r\n
Laporan Rabobank\r\njuga menyebutkan, tingginya tingkat produksi udang global seperti di India dan\r\nEkuador pada semester pertama 2018, menjadi faktor yang mempengaruhi harga\r\nudang global. Suplai yang tinggi ini bisa dilihat dari tingginya investasi\r\ninovasi udang untuk menurunkan tingkat mortalitas; semakin banyaknya pembukaan\r\ntambak vannamei (konversi tambak windu menjadi vannamei); hingga naiknya\r\nproduksi udang dengan Recirculatory Aquaculture System (RAS).
\r\n\r\nPengaruh suplai\r\nyang tinggi terhadap harga udang juga diamini Steven. “Menurut temen-temen\r\n(importir) di luar, hal ini murni karena supply-demand. Saat udang-udang\r\ndirilis ke pasar global, pabrik dan negara luar masih punya cadangan sehingga\r\nmereka gak ambil terlalu banyak. Istilahnya, mereka ‘nandon’ udang dalam bentuk\r\nbeku,” ungkapnya.
Otomatis, jelas\r\nSteven, petambak nasional pun terkena dampak. “Karena Indonesia sebagai salah\r\nsatu negara paling semangat nambak, kan lihat pertumbuhan pembudidaya luar\r\nbiasa banyak. (Karena harga anjlok) petambak banyak akhirnya panik. Harga turun\r\nbagaimana?,” terang Steven.
\r\n\r\nAlhasil, imbuh\r\nSteven, banyak petambak belum sempat persiapan budidaya dengan baik, sudah\r\nkeburu menebar. “Akhirnya sakit atau ada yang misalnya udang masih numbuh\r\nbagus, tapi takut harganya makin anjlok akhirnya dijual. Terjadilah panic\r\nselling. Berantakan jadinya,” tambahnya.
\r\n\r\nBesarnya pengaruh\r\nharga global terhadap harga udang nasional, pun dibeberkan Ketua Umum Asosiasi\r\nPengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Budhi Wibowo.\r\n“Harga Indonesia sangat pasti tergantung dari harga internasional. Seperti saat\r\nharga turun, yaitu karena harga internasional, bukan karena pabrik indonesia\r\npengen untung, tidak. Kita selalu ikuti harga internasional. Jadi adalah salah\r\nkalau ada yang bilang produksi Indonesia harus dikurangi biar harga udang di\r\ndunia naik,” terang Budhi.
\r\n\r\nBudhi pun\r\nmengatakan, ketergantungan Indonesia pada harga internasional juga karena\r\nkecilnya market share di pasar global. “Total market share kita di dunia itu\r\nkurang dari 10 %, bagaimana bisa pengaruhi harga dunia? Gak mungkin. Sehingga\r\ndengan kondisi sekarang masih sangat kecil kalau kita pengen diperhitungkan\r\nbener-bener di pasar dunia. Paling gak harusnya kita bisa 10 % ambil market\r\nshare itu,” tukasnya.
\r\n\r\nBudhi mengambil\r\ncontoh market share udang nasional yang masih kecil di dunia. Impor Uni Eropa\r\nsaja tiap tahunnya bisa mencapai 600 ribu ton. Dan dari Indonesia hanya masuk\r\nke pasar sana sekitar 1,2 %-nya. “Sekarang itu, pangsa pasar kita yang di atas\r\n15 %, hanya Amerika Serikat dan Jepang,” ujarnya.
\r\n\r\n\r\n\r\n
Prediksi Pasar\r\n2019
\r\n\r\n
Sementara itu,\r\ndiawal 2019 ini pun mulai dirasa ada angin segar dalam pergerakan harga udang\r\ndunia. Prediksi membaiknya harga udang pun digambarkan Ketua SCI chapter\r\nBanyuwangi Yanuar Toto Raharjo. Khususnya size 100 up. Dia melihat, walaupun\r\nada penurunan harga, permintaan pasar hampir stabil. “Yang membedakan, produksi\r\ndan size, karena size 100 up lebih menarik. Akhirnya apresiasi harga lebih\r\nbagus di situ,” jelasnya.
\r\n\r\nSteven pun\r\nmengamini. Dia menyebut, per Januari lalu, harga size 100 sudah membaik di\r\nsekitar Rp 55 ribu – Rp 56 ribu per kg. “Jadi ya temen-temen petambak lebih\r\ngairah walau belum pulih. Karena, mestinya harga bisa lebih baik. Soalnya,\r\nkalau berdasar supply-demand, kemarin ada cadangan udang, tapi kalau sudah\r\nkeluar kan kosong lagi sekarang,” tuturnya.
\r\n\r\nDi sisi lain,\r\nSteven menerangkan para petambak pun menjadi lebih awas terhadap supply-demand\r\nini. “Harus pinter kita baca market. Kita mungkin banyak terlena gak nyadar\r\nbakal terjadi (harga turun). Dan temen-temen yang kemarin sudah merasa rugi\r\nkarena harga rendah sekarang lebih hati-hati budidaya,” bebernya.
\r\n\r\nSebagai contoh,\r\nSteven mengatakan petambak harus bisa membaca momen. “Misalkan sekarang musim\r\nhujan, petambak sudah bisa baca itu. Maka, banyak penebaran dikurangi,\r\nantisipasi SOP (Standar Operasional Prosedur) diperbaiki. Yang biasanya lebih\r\npadat (tebar), jadi dilonggar-in, yang nebar di 20 kolam, gak mampu jadi 10\r\nkolam. Lebih tertata dan gak dipukul rata. Sehingga bila mau menghindari\r\nkejadian yang sama, pasti yakin pada momen tertentu gak nebar, atau nebar\r\ndengan kapasitas sedikit. Jangan digas terus,” imbuhnya.
\r\n\r\n\r\n\r\n
Permintaan China
\r\n\r\n
Optimisme\r\nmembaiknya pasar pun diterangkan Yanuar. “Karena permintaan dunia tidak kurang,\r\nyang butuh makan udang lebih banyak lagi,” ujarnya. Apalagi berdasarkan laporan\r\nyang dikeluarkan EU Science Hub, konsumsi seafood global terus meningkat lebih\r\ndari dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir.
\r\n\r\nMeningkatnya\r\nkonsumsi seafood, dimana udang termasuk di dalamnya otomatis meningkatkan\r\ndemand (permintaan) global. Hal ini pun bisa dilihat dari laporan fao.org bahwa\r\nimpor udang dari Uni Eropa dan AS meningkat pada 2018 lalu. Tidak dipungkiri,\r\nharga pada 2018 yang terhitung rendah di pasaran dan konsumen yang sudah\r\nfamiliar dengan komoditas ini membuat pasar cenderung positif menarik konsumen.
\r\n\r\nDan, yang menarik\r\nadalah meningkatnya demand (permintaan) pasar China terhadap udang impor,\r\nkhususnya di semester awal 2018. Dalam laporan fao.org disebutkan impor udang\r\nke China lebih tinggi dari ekspor, dimana impor langsung ke China naik sekitar\r\n92 %. Padahal, dalam tahun-tahun sebelumnya China cukup banyak mengekspor ke\r\npasar global. Penurunan tingkat ekspor China pada waktu ini dikarenakan\r\nproduksi udang yang lebih rendah, sebaliknya permintaan domestiknya terus meningkat.
\r\n\r\nMemenuhi kebutuhan\r\nkonsumsi domestiknya, laporan fao.org juga menerangkan bahwa China membuka\r\npasarnya dengan menerapkan tarif impor yang rendah, yakni 2 %. Otomatis\r\npengekspor udang global banyak memfokuskan pasarnya ke negara tirai bambu ini. Laman\r\nini pun memuat ekspor Indonesia cukup terpengaruh dengan demand China yang\r\ntinggi. Ekspor Indonesia ke China meningkat sedikitnya sebanyak 124 % (naik\r\nsekitar 3.100 ton) pada semester pertama 2018.
\r\n\r\nSementara, berdasar\r\ndata Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Direktorat Jenderal Penguatan Daya\r\nSaing Kementerian Kelautan dan Perikanan (Ditjen PDS-KKP), ekspor udang\r\nIndonesia mencapai 182,71 ribu ton (Januari-November 2018). Dengan nilai\r\nmencapai 1,616 miliar USD.
\r\n\r\nGerakan pasar China\r\npun tak luput dari mata AP5I. Menurut Budhi, anggota AP5I pun saat ini mengarah\r\nke China karena potensinya untuk digarap. “Di sana pasarnya sangat besar dan\r\npasar baru. Dulu kan China itu produsen, tiba-tiba minta karena pasarnya sangat\r\nbesar, pertumbuhan ekonominya pun sangat besar,” ujar Budhi.
\r\n\r\nSelengkapnya baca\r\ndi majalah TROBOS Aqua Edisi-81/15 Februari – 14 Maret 2019
\r\n\r\n
\r\n\r\n

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
