Bisnis fillet nila sangat prospektif di pasar lokal dan\r\ninternasional. Dua puluh tahun lebih sukses mengekspor tilapia ke mancanegara,\r\nRegal Springs Indonesia mulai menyasar pasar nila Nusantara...
Bisnis fillet nila sangat prospektif di pasar lokal dan\r\ninternasional. Dua puluh tahun lebih sukses mengekspor tilapia ke mancanegara,\r\nRegal Springs Indonesia mulai menyasar pasar nila Nusantara.
Perusahaan yang sudah 31 tahun membudidayakan nila di Tanah\r\nAir ini memandang kebutuhan masyarakat kelas menengah akan makanan sehat,\r\nsegar, dan mudah diolah semakin besar dan belum terpenuhi dengan baik.
“Penyerapan pasar tidak terbatas baik di pasar ekspor maupun\r\ndomestik. Kita siap memproduksi sebanyak mungkin dan menjual sebanyak mungkin,”\r\nkata Sami Hamzah, Presiden Komisaris Regal Spring Indonesia (RSI) di Jakarta\r\nbeberapa waktu lalu.
Terbaik Dunia
Achim Eichenlaub, Chief Executive Officer Regal Springs\r\nGroup menjelaskan, perusahaan asal Swiss itu mengekspor fillet nila ke Amerika,\r\nEropa, dan sebagian ke Asia.
Produksi ikan bernama ilmiah Oreochromis niloticus itu ada\r\ndi tiga negara, yaitu Indonesia, Meksiko, dan Honduras. Sepertiga produksi fillet\r\nada di Indonesia dari pabrik di Medan, Sumut dan Semarang, Jateng.
Regal Springs berinvestasi mencapai US$70 juta guna\r\nmewujudkan perikanan bertanggung jawab. Pengawasan produksi dimulai dari\r\nmenghasilkan telur nila, pembenihan, pengolahan menjadi fillet, pengemasan,\r\npengiriman produk, hingga penjualan.
“Makanan kami sangat dikenal tanpa antibiotik, hormon, dan\r\nfosfat. Kami menyebut Naturally Better Tilapia. Kami menghasilkan rasa tilapia\r\nterbaik di dunia karena budidaya di danau, bukan di kolam. Metodenya sangat\r\nberbeda,” paparnya.
Perusahaan yang bernama awal PT Aquafarm Nusantara ini\r\nmembudidayakan nila di Danau Toba, Sumut.
Setelah dua tahun mengembangkan produk, RSI pun meluncurkan\r\nproduk fillet dan kepala nila di Indonesia. “Kami melihat bisnis ini sangat\r\nprospektif secara lokal dan internasional. Kami punya mimpi menjadi pedagang\r\nseafood terbesar di Indonesia,” ulasnya.
Karena itulah, Achim menegaskan, Regal Springs akan terus\r\nberinvestasi di Bumi Pertiwi. “Kami percaya dan kami tahu tilapia dari\r\nIndonesia adalah tilapia yang terbaik di dunia. Nggak banyak produk dari\r\nIndonesia yang sangat siap menghadapi dunia dan kami sudah melakukannya,”\r\ntandas pemilik RSI itu.
Pasar Indonesia
Menurut Sami, kelas menengah di Indonesia berkembang pesat\r\ndalam 10 tahun terakhir. “Negara kita lebih maju, lebih banyak orang yang mampu\r\nmembeli fillet, masuk ke mall. Cita-cita kita, ekspor dan domestik 50:50,”\r\nucapnya yang menyebut produksi saat ini 99% untuk ekspor.
Meski tidak menyebut angka pasti target penjualan nila di\r\nIndonesia pada 2019, dia mengaku sudah banyak permintaan lokal yang masuk ke\r\nperusahaannya.
Saat ini RSI membutuhkan sekitar 25 ribu-30 ribu ton nila\r\nsetahun dengan rendemen fillet sekitar 40% dan sisanya sebagai produk\r\nsampingan.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Sami mengaku siap memperbesar produksi dan menjamin pasar\r\nlokal dan global bisa menyerap asal diberi izin perluasan keramba jaring apung\r\ndi Danau Toba. “Kalau kita diberi kesempatan untuk mengekspansi, kita siap,”\r\nujarnya mantap.
Sumber : Agrina

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
