Minapoli
FAO: “Potensi Magot BRBIH Sangat Menarik”
Mas

FAO: “Potensi Magot BRBIH Sangat Menarik”

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
2 menit baca

Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) pada 4 Februari 2020\r\nmenerima kunjungan Food and Agriculture Organization (FAO) Representatives\r\nIndonesia. Kunjungan ini sebagai tindak lanjut dari pertemu...

Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) pada 4 Februari 2020\r\nmenerima kunjungan Food and Agriculture Organization (FAO) Representatives\r\nIndonesia. Kunjungan ini sebagai tindak lanjut dari pertemuan bilateral Menteri\r\nKelautan dan Perikanan dengan FAO pada tanggal 13 Januari 2020 lalu. Dimana\r\nsalah satu hasil pertemuan tersebut adalah untuk meningkatkan kerja sama\r\nKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan FAO dalam peningkatan kualitas\r\npengelolaan magot di Indonesia.
\r\n
\r\nPada kesempatan ini, FAO (Stephen Anthony Rudgard dan Ageng S. Herianto)\r\nbersama dengan Tim Biro Humas dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kelautan\r\ndan Perikanan (Agung Tri Prasetyo), Kabag Multilateral dan Regional (Rifky\r\nSetiawan), Kepala Bagian Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Data (Andi\r\nSoesmono), beserta staff ingin melihat secara langsung pengelolaan magot di\r\nBRBIH. Tak hanya melihat pengelolaanya tapi juga membahas potensi\r\nmengembangannya, karena memang BRBIH memiliki teknologi inovasi riset dalam\r\npengelolaan magot termasuk difusi pengelolaan sampah organik berbasis magot\r\nuntuk perikanan budidaya. 


\r\n
\r\nKunjungan ini  diterima oleh Kepala BRBIH Dr. Idil Ardi, Dr. Melta Rini\r\nFahmi selaku peneliti magot, pejabat struktural, para peneliti BRBIH, serta PT.\r\nBiomagg (startup binaan BRBIH). Idil Ardi dalam sambutannya menjelaskan magot\r\nsaat ini telah menjadi isu yang hangat di beberapa daerah di Indonesia menjadi\r\nsumber pakan ikan. Adanya kunjungan dari FAO melihat teknologi magot di BRBIH\r\ndiharapkan menjadi awal yang baik dan diharapkan ada follow up dalam bentuk\r\nkerja sama untuk pengembangan teknologi magot di Indonesia secara terintegrasi\r\nagar menjadi lebih tepat sasaran.
\r\n
\r\nDr. Melta Rini Fahmi dalam pemaparan serta di sesi tanya jawab menyampaikan\r\nproses penelitian mangot ini sudah dimulai sejak tahun 2004 bersama Institut De\r\nRecherche Pour Le Developpment (IRD) Perancis, serta meyampaikan inovasi magot\r\nbaik dari sisi pengelolaan hingga sisi ekonomi dan bisnis. Selain itu juga\r\ndilakukan kunjungan langsung ke tempat pengelolaan sampah organik berbasis\r\nmagot untuk penggunaan pakan ikan di BRBIH. Stephen Rudgard menyampaikan “Saya\r\nsangat tertarik  melihat potensi dan peluang besar dalam pengelolaan\r\nmagot, karena selain menyelesaikan masalah lingkungan terkait sampah, KKP dapat\r\nmenangkap ini sebagai peluang lebih, yakni dijadikan pakan ikan”.
\r\n
\r\nPada akhir pertemuan Ageng S. Herianto menyampaikan “Untuk koneksi project\r\nselanjutnya, kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan\r\nKehutanan (KLHK) Dirjen Pengelolan Sampah dan Limbah, sebagai alternatif bagi\r\nIndonesia untuk pengelolaan sampah dan lingkungan, sampah organik sisa makanan\r\ndapat dijadikan potensi yang lebih bermanfaat yakni menjadi pakan ikan. Ini\r\nadalah salah satu cara untuk memperkuat hubungan antara Kementerian dan Lembaga”.\r\nSetelah melakukan kunjungan langsung  Stephen Rudgard sangat antusias\r\nmelihat project yang dilaksanakan oleh BRBIH. “Project ini sangat menarik, saya\r\nberterima kasih kepada KKP yang sudah menjalankan project ini, dan saya sangat\r\nberharap FAO bisa ikut memajukan project ini” tutupnya.


Sumber: kkp.go.id

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan