Early Mortality Syndrome atau EMS menjadi ketakutan para petambak udang di seluruh dunia. Sindrom\r\nini ditunjukan dengan kematian udang secara dini, bahkan sebelum DOC atau 30\r\nhari sete...
Early Mortality Syndrome atau EMS menjadi ketakutan para petambak udang di seluruh dunia. Sindrom\r\nini ditunjukan dengan kematian udang secara dini, bahkan sebelum DOC atau 30\r\nhari setelah tebar benih udang. Persebarannya dimulai dari China pada tahun\r\n2009 dan merambah ke berbagai daerah di Asia. Namun, penyebab kematian secara\r\nmendadak masih sangat misterius. Indikasinya juga masih belum diketahui secara\r\npasti.
\r\n\r\nUdang Vannamei atau\r\nbiasa disebut dengan udang putih, pada awalnya dianggap tahan terhadap serangan\r\npenyakit. Namun, dalam perkembangannya, jenis udang ini juga memiliki\r\nkecenderungan untuk dapat terserang berbagai jenis penyakit yang pada akhirnya\r\ndapat merujuk ke kematian mendadak seperti EMS. Sumber dari penyakit tersebut\r\nsalah satunya dapat disebabkan oleh bakteri. Pada ulasan ini, Kabar\r\nUdang akan membahas penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri\r\nyang paling sering menyerang udang jenis ini adalah dari marga Vibrio (Vibrio spp.),\r\ndiantaranya yaitu Vibrio harveyi, Vibrio vulnificus, Vibrio\r\nanguillarum, Vibrio alginolyticus, Vibrio parahaemolyticus, dan Vibrio\r\nfluvialis. Hal ini juga banyak dikenal dengan istilah vibriosis.
Baca juga: Waspada Penyakit Udang 2019
Penyakit yang\r\ndisebabkan oleh bakteri Vibrio yaitu White Feces\r\nSyndrome/ Diseases (WFS/ WFD) dan Acute Hepatopancreatic\r\nNecrosis Disease (AHPND), tepatnya diindikasikan oleh\r\nbakteri Vibrio parahaemolyticus. Kedua penyakit ini memiliki\r\ngejala yang sama, yaitu ditandai dengan kotoran atau berak putih dari\r\nudang yang mengambang di tambak. Kotoran ini adalah kumpulan jaringan\r\npencernaan udang yang rusak, meluruh, kemudian membentuk agregat yang menyatu\r\ndengan kotoran. Agregat ini menyerupai gregarin, sehingga, diagnosa penyebab\r\npenyakit ini awalnya disebabkan oleh gregarin. Tetapi setelah diteliti lebih\r\nlanjut, ternyata ada asosiasi kuat dengan keberadaan bakteri Vibrio\r\nparahaemolyticus.
Ada sebuah indikasi\r\nlain bahwa WFS/WFD juga distimulasi oleh blooming BGA. Salah satu racun yang dihasilkan BGA bernama\r\nhepatotoksin turut menyebabkan rusaknya hepatopankreas dari udang sehingga\r\nberak udang berwarna putih. Selain itu, udang yang stres lebih mudah terkena\r\npenyakit. Stres dapat berasal dari kualitas air yang menurun. Kualitas air\r\nmembutuhkan perhatian besar agar tidak terjadi blooming BGA\r\ndan mengganggu kenyamanan untuk tumbuh dan sehat.
\r\n\r\nWFS/WFD dan AHPND\r\npada kondisi yang parah menyebabkan kematian di awal kultivasi yakni sekitar\r\nhari ke-35-45 dengan tingkat kematian 40-100% dalam 4 hari. Keberadaan\r\nEMS bukanlah penyakit tetapi hanya bentuk teknis dari AHPND, dan penyebab\r\nterkuatnya adalah Vibrio parahaemolyticus (Zorriehzahra and Banaederakhshan 2015).\r\nUdang yang terkena AHPND pada taraf yang parah akan mengalami kematian dini\r\npada awal masa budidaya udang yaitu 10-30 hari pasca tebar dengan tingkat\r\nkematian hingga 100%. Peristiwa kematian akibat EMS terjadi saat temperatur\r\nlingkungan sedang tinggi.
Baca juga: Monitoring Kesehatan dan Pengelolaan Hama Penyakit Udang
Cara diagnosa\r\nterjadinya penyakit ini selain adanya kotoran putih yaitu pankreas\r\nmengecil, usus kosong, nafsu makan menurun, dan pertumbuhan menurun. Konfirmasi\r\nkehadiran penyakit ini adalah dengan membawa sampel udang dan sedimen untuk\r\ndilakukan uji di laboratorium. Cara pencegahan yang dapat dilakukan dengan\r\nmenjaga stabilitas kualitas air, menerapkan sanitasi yang baik, manajemen induk\r\ndan benur yang berkualitas, dan kontrol pakan yang baik.
\r\n\r\nTentang Minapoli
Minapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
