Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong para\r\npelaku usaha perikanan untuk melakukan terobosan-terobosan melalui inovasi\r\nteknologi digital. Hal ini disampaikan oleh Menteri Kelautan da...

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong para\r\npelaku usaha perikanan untuk melakukan terobosan-terobosan melalui inovasi\r\nteknologi digital. Hal ini disampaikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy\r\nPrabowo saat membuka perhelatan Digifish 2019 bertajuk “Incubating Ecosystem of\r\nDigital Innovation” yang terselenggara atas kerja sama KKP, Minapoli, dan\r\nHimpunan Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB di Kantor KKP,\r\nJakarta, Selasa (3/12).
Turut hadir dalam kesempatan ini Direktur Jenderal Budidaya\r\nSlamet Soebjakto; Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan\r\nHasil Perikanan (BKIPM) Rina; Rektor IPB Luki Andrianto; Dekan Fakultas Ilmu\r\nPerikanan UNPAD Yudi Nurul Ikhsan; CEO Minapoli Rully Setya Purnama; Ketua\r\nHimpunan Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB; serta para pelaku\r\nusaha industri kelautan dan perikanan.
Menteri Edhy mengatakan, perkembangan teknologi dan\r\ndigitalisasi merupakan terobosan global yang tak bisa dihindari. Perkembangan\r\nindustri 4.0 mendorong dunia usaha, termasuk perikanan, untuk membuat\r\ninovasi-inovasi ke arah pemanfaatan teknologi dan ekonomi digital.
Inovasi tersebut, lanjutnya, bisa berupa perangkat keras\r\n(hardware) maupun perangkat lunak (software). Dalam bidang hardware, Menteri\r\nEdhy mencontohkan inovasi berupa kincir dari paralon yang telah berhasil\r\ndikembangkan oleh siswa Politeknik Kelautan dan Perikanan di Sidoarjo.
“Kemarin saya jalan dan lihat langsung bagaimana anak-anak\r\nkita sudah bisa membuat paralon menjadi kincir untuk memutar air di pertambakan\r\nudang. Nah, bagaimana kita memperbanyak inovasi-inovasi seperti ini? Ini salah\r\nsatu tantangan kami di KKP,” ucapnya.
Untuk itu, Menteri Edhy mendorong para pelaku usaha\r\nperikanan untuk memanfaatkan peluang ini dengan membuat inovasi-inovasi baru\r\nguna mengoptimalkan industri perikanan melalui konferensi, startup showcase,\r\nsesi networking, dan pameran inovasi dalam Digifish 2019.

“Digifish adalah sebuah terobosan. Saya sangat berharap ini\r\nakan menjadi jawaban buat kita untuk melakukan terobosan-terobosan baru\r\nsehingga memperkaya kami pemangku kebijakan dalam berinovasi,” ucapnya.
Menampik anggapan bahwa digitalisasi akan mematikan lapangan\r\npekerjaan, Menteri Edhy menegaskan bahwa digitalisasi di sektor perikanan akan\r\ntetap menyerap luas sumber daya manusia. Sebab, masih banyak luas lahan\r\nperikanan yang belum dimanfaatkan secara optimal saat ini.
“Luas lahan kita jauh lebih dari cukup untuk menyerap semua\r\norang yang akan berkontribusi di sini. Luas panjang pantai kita itu baru 10\r\npersennya yang sudah termanfaatkan. Itu pun belum optimal. Kalau kita fokus di\r\n10 persen ini saja, penyerapan lapangan pekerjaannya akan lebih tinggi. Kalau\r\nmasih kurang juga, masih ada 90 persen lahan yang bisa dimanfaatkan,” tuturnya.
Sementara itu dari segi pasar, Menteri Edhy menyatakan bahwa\r\npara pelaku usaha tak perlu khawatir bahwa produksinya akan berlebih\r\n(oversupply). Kebutuhan pasar dalam negeri maupun ekspor masih terbuka lebar.\r\nSelain itu, ikan juga mudah untuk disimpan dibandingkan produk agro lainnya\r\nseperti beras. Menurutnya, ikan cukup disimpan menggunakan cold storage dan\r\nmemiliki tingkat ketahanan yang cukup panjang. Hal ini juga akan berdampak\r\npositif secara nasional sebagai cadangan pangan.
“Kebayang tidak kalau suatu saat kita punya cadangan ikan\r\nsampai 10 juta ton? Bagaimana negara lain akan memandang kita? Kita juga tidak\r\nakan pernah takut kehilangan protein,” ucapnya.
Untuk mendukungnya, Menteri Edhy menekankan bahwa pemerintah\r\nakan hadir dan menyiapkan berbagai macam kebutuhan yang diperlukan oleh para\r\npelaku usaha, termasuk dari sisi riset sampai operasional dan pemasaran.
“KKP hanya bisa berharap bahwa kita semua ini merupakan\r\nterobosan yang bisa menemukan solusi-solusi yang dibutuhkan. Kami siap untuk\r\nmembangun industri perikanan, baik itu budidaya maupun tangkap dalam kerangka\r\nkeberlanjutan. Kita siap menjadi mitra, pembina, pelayan, dan pengasuh dalam\r\nsetiap kesempatan yang ada,” ucapnya di hadapan ratusan peserta yang hadir.

Selain itu, Menteri Edhy menyebutkan bahwa KKP sebagai\r\npemangku kebijakan akan menyederhanakan regulasi-regulasi yang menghambat.\r\n“Kita akan bereskan. Tidak ada lagi regulasi yang menghambat. Kalau bisa,\r\npengurusan izin bisa diselesaikan dalam satu jam saja.
Hal senada disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan\r\nBudidaya Slamet Soebjakto. “Kami siap untuk memfasilitasi anak-anak muda untuk\r\nmembangun akuakultur ke depan. Ini adalah waktunya akuakultur untuk\r\nberkembang,” ujarnya.
Ini merupakan kali kedua DIGIFISH diselenggarakan setelah\r\ndigelar perdana pada tahun 2018 lalu. CEO Minapoli Rully Setya Purnama\r\nmenjelaskan bahwa acara tahun ini bertujuan untuk membentuk ekosistem untuk\r\ninovasi digital agar dapat digunakan oleh industri. Selain itu, seluruh pihak\r\nyang terlibat juga berupaya untuk mencari solusi atas tantangan yang ada di\r\nbidang perikanan.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
“Untuk itu, dalam Digifish 2019 ini kami mempertemukan enam\r\nkomponen pendukung yaitu pelaku usaha, pengguna atau industri, regulator,\r\nperguruan tinggi, akselerator, dan investor,” pungkasnya.
Sumber : KKP News

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
